Cukupkah Sawit Berkelanjutan Memperlambat Laju Deforestasi?

Oleh: Aditya Widya Putri - 5 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Sawit memang punya beberapa manfaat dan menguntungkan secara ekonomi, tapi kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya juga membahayakan dan patut diwaspadai.
tirto.id - Dulu, seorang selebritas pria sekaligus anggota DPR RI pernah membintangi iklan minyak goreng sawit dengan aksi yang terbilang atraktif. Dia tanpa ragu menenggak minyak gorang sawit mentah-mentah. “Lebih baik, seperti air, lemak jenuhnya rendah,” demikian kira-kira jargon promosi produk tersebut.

Selama ini minyak sawit dikenal buruk bagi kesehatan karena meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Ia juga bisa memengaruhi low-density lipoprotein—biasa disebut LDL, jenis kolesterol yang berkaitan dengan penyakit jantung—dalam tubuh karena kandungan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi.

Jadi, aksi minum minyak goreng itu dilakukan untuk menampik pengetahuan yang sudah mapan itu. Ia mempersuasi orang agar percaya bahwa produk sawit itu memiliki kadar lemak jenuh rendah. Iklan itu pada akhirnya hanyalah satu dari sekian usaha pelaku agrobisnis sawit untuk mempertahankan eksistensinya.

Dari sejak iklan itu, juga era sebelumnya, hingga kini, agrobisnis sawit tidak pernah goyah. Agrobisnis sawit terus berkembang dengan segala hal kontroversial yang melakat padanya, seperti eksploitasi lahan, kerusakan lingkungan, hingga masalah kesehatan. Kita pun, sadar atau tidak, belum bisa mencoretnya dari daftar kebutuhan sehari-hari.

Sawit Sehat?

Beberapa hari lalu, aksi minum minyak sawit kembali diperagakan dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Bedanya, minyak sawit yang diminum kali ini berwarna merah, bukan kuning seperti dalam iklan jadul.

Warna merah ini adalah minyak merah sawit alami atau virgin red palm oil (VRO),” ujar Darmono Taniwiryono dari Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI).

Sebagaimana diinformasikan oleh Healthline, minyak sawit diekstraksi dari buah kelapa sawit (Elaeis guineensis). VRO merupakan minyak sawit mentah berwarna jingga kemerahan yang bisa langsung dikonsumsi. VRO tidak mengalami proses pemurnian atau refinasi. Sementara itu, minyak sawit industri atau crude palm oil (CPO) sudah direfinasi dan disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga tak bisa dikonsumsi langsung.

VRO berwarna oranye kemerahan karena mengandung antioksidan yang dikenal sebagai karotenoid, salah satunya beta-karoten. Di dalam tubuh senyawa ini diubah menjadi vitamin A.

Beberapa penelitian menunjukkan VRO membantu meningkatkan status vitamin A dalam darah. Sebuah penelitian dari India (2003), misalnya, menyebut bahwa VRO terbukti bisa meningkatkan status vitamin A ibu dan bayi secara signifikan serta menurunkan prevalensi anemia ibu. Sebuah studi pada 2015 juga menunjukkan manfaat VRO bagi individu dengan cystic fibrosis (sulit menyerap vitamin dalam lemak).

Makanya, di Amerika dan beberapa negara Eropa, VRO setara produk ekstrak herbal,” ujar Darmono.

Healthline juga menyebut bahwa minyak kelapa sawit merupakan sumber tocotrienol—bentuk vitamin E dengan sifat antioksidan yang kuat. Tocotrienol bisa membantu menjaga kesehatan otak, di antaranya dengan memperlambat demensia dan mengurangi risiko stroke.

Kemudian, sebuah penelitian pada 2016 menyebut bahwa minyak sawit hibrida—persilangan Elaeis guineensis dan Elaeis oleifera yang berasal dari Amerika Selatan—punya manfaat kesehatan laiknya minyak zaitun. Kedua minyak ini disebut mampu menurunkan kolesterol LDL jika dikonsumsi sebanyak dua sendok makan atau 25 mililiter setiap hari. Maka itu, minyak sawit hibrida disebut juga “zaitun dari daerah tropis”.

Mengorbankan Lahan Demi Sawit

Pohon Elaeis guineensis yang berasal dari Afrika Barat merupakan cikal bakal dari industri sawit dunia. Pemanfaatan sawit di wilayah itu sudah dilakukan lebih dari lima milenium silam. Kini minyak sawit menjadi jenis minyak yang paling populer karena harganya murah.

Di Indonesia, produk sawit dan turunannya merupakan komoditas penghasil devisa ekspor terbesar. Pada 2019, nilai ekspornya—di luar produk oleokimia dan biodiesel—mencapai USD1,57 miliar atau setara Rp220 triliun. Angka ini melampaui nilai ekspor dari sektor migas maupun sektor nonmigas lain.

Di masa pandemi COVID-19, sektor sawit tetap menyumbang devisa ekspor sekitar USD13 miliar sampai dengan Agustus 2020,” ungkap Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman dalam acara pelatihan BPDPKS, Rabu (28/10/2020).

Namun, segala manfaat kesehatan dan keuntungan ekonomi itu punya konsekuensi kerusakan lingkungan yang tidak kecil. Agar tercapai keuntungan, industri sawit terus melakukan ekspansi lahan besar-besaran selama beberapa dekade terakhir. Selama itu ribuan hektar lahan di Indonesia, Malaysia, Thailand harus dikorbankan demi sawit.

Iklim tropis di negara-negara itu memang cocok bagi pertumbuhan sawit. Maka itu, ribuan hektar hutan tropis dan lahan gambut di sana dihancurkan dan malih rupa jadi perkebunan sawit.

Varsha Vijay dalam studi bertajuk The Impacts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss (2016) menyebut bahwa 45 persen lahan perkebunan sawit di Asia Tenggara yang mereka pindai sebelumnya adalah hutan tropis pada 1989. Lebih dari separuhnya adalah hutan yang terdapat di Indonesia dan Malaysia.

Deforestasi demi sawit tentu saja berefek negatif. Ia mempercepat pemanasan global karena tiada lagi hutan untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfer. Belum lagi hilangnya habitat satwa yang berujung pada kepunahan.

Selain itu, rusaknya bentang alam asli menyebabkan perubahan ekosistem yang mengancam kesehatan dan keanekaragaman satwa liar,” tulis Healthline.


Infografik Ekspansi Lahan Sawit
Infografik Ekspansi Lahan Sawit

Jalan Tengah?

Lantas, adakah jalan tengah supaya industri sawit bisa berjalan tanpa meningkatkan laju deforestasi?

Jawaban sementara—pun belum memuaskan—yang bisa diajukan adalah program sawit berkelanjutan. Indonesia memiliki sistem sertifikasi sawit berkelanjutan yang disebut Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Sementara itu, ada pula Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang merupakan sertifikasi kelas dunia. Fokus keduanya hampir sama: people, planet, profit.

BPDPKS berperan mempromosikan kelapa sawit berkelanjutan yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan,” tutur Eddy.

Sawit tak melulu harus ditanam di lahan baru. World Resources Institute (WRI) Indonesia dalam dokumen kerja yang rilis pada Mei 2010 menyebut bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mendeklarasikan kebijakan pengembangan kelapa sawit di “lahan terdegradasi”, bukan di area hutan atau gambut.

Lahan terdegradasi yang dimaksud WRI Indonesia adalah lahan yang cukup lama terbuka, dengan cadangan karbon dan keanekaragaman hayati yang rendah. Contoh yang diberikan adalah dataran alang-alang.

Dalam pengertian ini, lahan yang terdegradasi akan memiliki biomassa yang rendah, cadangan karbon bawah tanah yang rendah, dan potensi regenerasi hutan yang rendah,” demikian penjelasan dari dokumen kerja WRI Indonesia.


Menurut WRI Indonesia, wilayah terdegradasi harus memenuhi setidaknya empat kriteria. Pertama, pengembangan wilayah tersebut tidak berdampak kepada emisi gas rumah kaca yang signifikan atau mengurangi nilai konservasi lingkungan—termasuk pelestarian keanekaragaman hayati dan persediaan air bersih.

Kedua, secara geofisika mampu memproduksi kelapa sawit yang menguntungkan. Ketiga, memberi manfaat bagi masyarakat lokal. Keempat, status hukum tanah tidak bersengketa.

Meski begitu, program tanam sawit di lahan terdegradasi itu belum beranjak dari sekadar wacana. Cara ini pun rentan berbalik menaikkan emisi karbon dan menghilangkan manfaat lahan untuk keanekaragaman hayati.

Sebenarnya sangat mungkin. Bisa-bisa saja untuk jangka panjang karena sampai sekarang belum ada di kebijakan satu peta (KSP),” kata Bandung Sahari dari Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) menanggapi rancangan ini.

Penanaman sawit di lahan terdegradasi memang agak sulit diimplementasikan karena definisinya pun masih sumir. Berbeda dengan WRI Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerjemahkan lahan terdegradasi sebagai lahan kritis berdasar standar pedoman restorasi hutan.

Lahan yang dimaksud merupakan wilayah dengan tutupan hutan rendah, lereng curam, dan risiko erosi yang tinggi. Penanaman sawit di wilayah itu justru berisiko mempengaruhi sumber daya air dan tanah wilayah sekitarnya. Pun tidak menarik secara komersial.

Jadi, jika Indonesia benar-benar ingin menjalankan sawit berkelanjutan dan memetik manfaat dari komoditas ini, pemerintah perlu membuat aturan baku yang mengakomodasi poin-poin RSPO dan ISPO. Tiada manfaat yang bisa didulang dari lingkungan yang rusak karena dieksploitasi berlebihan.

Baca juga artikel terkait LAHAN SAWIT atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight