Cristobal Balenciaga, Desainer yang Tak Pernah Membuat Sketsa

Oleh: Hasya Nindita - 25 Februari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Di eranya, Cristobal Balenciaga adalah satu dari sedikit desainer yang juga mahir menjahit. Desainnya yang radikal cepat mendunia dan bertahan hingga kini.
tirto.id - Situasi pandemi bukanlah halangan bagi Direktur Kreatif Balenciaga Demna Gvasalia untuk berinovasi. Pada Desember 2020, Balenciaga mengenalkan koleksi busana untuk musim panas 2021 tidak dengan runways seperti umumnya dilakukan rumah mode lain. Gvasalia melakukannya dengan gim video.

Melalui laman videogame.balenciaga.com, pengguna diajak masuk ke dunia distopia Balenciaga. Pengguna akan disuguhi alur cerita dengan sejumlah tantangan. Di dalam gim itu, pengguna bisa mengakses lookbook dengan pakaian yang bisa diubah sesuai selera. Modelnya dapat digeser, diputar, juga bisa ditilik lebih detail laiknya memilih karakter dalam sebuah gim sungguhan.

Singkatnya, itu adalah konsep fashion show yang brilian di masa pandemi ini—saat label mode sulit melakukan interaksi dengan konsumen.

Rumah fesyen Balenciaga didirikan oleh Cristobal Balenciaga Eizaguirre sekira 1937. Balenciaga sempat ditutup pada 1968 karena Cristobal memutuskan pensiun. Tapi, Jacques Bogart S.A yang memperoleh hak atas label ini membukanya lagi pada 1986.

Sejumlah desainer berbeda pernah memimpin label ini. Josephus Thimister menggantikan Bogart pada 1992 dan berhasil memulihkan status elite Balenciaga. Perjuangan Thimister dilanjutkan oleh Nicolas Ghesquiere sejak 1997 hingga 2012.

Selepas itu, Alexander Wang masuk mengisi posisi yang ditinggalkan Ghesquiere hingga 2015. Kemudian, Gvasalia memimpin label mewah ini hingga sekarang.

Cristobal mengembuskan nafas terakhirnya empat tahun setelah Balenciaga ditutup. Insan fesyen dunia menganggap hari itu sebagai akhir dari sebuah era. Tapi, warisan desain ikonik karya Cristobal tetap hidup hingga kini karena Gvasalia bekerja dengan menilik referensi dari arsip-arsip Balenciaga House.

“Penting untuk mengetahui masa lalu dan memanfaatkannya untuk membangun masa depan,” kata Gvasalia sebagaimana dikutip laman Victoria & Albert Museum.

Christian Dior menjuluki Cristobal sebagai The Master dalam industri adibusana. Dia juga dianggap sebagai Bapak Fesyen Kontemporer berkat peninggalan dan terobosan modenya yang tetap eksis hingga saat ini. Dia juga tetap menduduki puncak daftar tokoh paling berpengaruh dalam industri mode abad ke-20.

“Adibusana ibarat orkestra dan Balenciaga adalah konduktornya. Kami, para couturier, adalah musisi yang mengikuti arahannya,” kata Dior seperti dikutip laman Victoria & Albert Museum.


Karier Gemilang

Cristobal lahir di Getaria, sebuah desa nelayan kecil di Spanyol bagian utara, pada 21 Januari 1895. Dia mulai belajar jahit-menjahit sejak berumur 10 tahun. Ayahnya, seorang nelayan, wafat saat dia berumur 11 tahun. Ibunya adalah penjahit dengan klien keluarga bangsawan lokal yang glamor dan fashionable. Salah satunya adalah keluarga Marquesa de Casa Torres.

Keluarga ini amat berjasa bagi karier Cristobal. The New York Times menyebut, sang bangsawan memperkenankan Cristóbal mempelajari rancangan gaun berlanggam Paris koleksinya. Selera fesyen mereka turut mengasah bakat Cristobal sebagai desainer.

Laman Cristobal Balenciaga Museoa menyebut, keluarga ini juga membiayai Cristobal belajar menjahit di San Sebastian. Di kota pesisir itu, Cristobal sekaligus magang di beberapa butik yang punya koneksi dengan pusat mode Paris.

Pada 1917, ketika berumur 22 tahun, Cristobal mendirikan rumah mode pertamanya di San Sebastian. Dia mendaftarkan usahanya sebagai modistas—perancang busana—dan menggunakan nama Cristobal Balenciaga sebagai merek.

Tiga tahun kemudian, tepatnya Maret 1927, Cristobal mendirikan lini usaha keduanya, Martina Robes et Manteaux. Nama itu diambil dari nama sang ibu. Lini kedua ini berubah nama beberapa bulan kemudian menjadi EISA Costura—kali ini merupakan kependekan dari nama belakang sang ibu, Eizaguirre.

Cristobal dengan cepat jadi populer di Spanyol. Desainnya kala itu berhasil mencuri perhatian keluarga Kerajaan Spanyol dan kalangan aristokrat yang gila fesyen. Bisnisnya dengan cepat berkespansi ke Barcelona dan Madrid pada 1930-an.

“Cristobal sering berkunjung ke Paris untuk membeli koleksi busana dari label-label legendaris era itu. Sebutlah di antaranya Chanel, Vionnet, Lelong dan Schiaparelli. Sekembalinya ke Spanyol, dia membongkar busana-busana itu dengan hati-hati untuk mempelajari teknik dan trik khusus yang digunakan oleh para desainer rumah mode mewah itu,” tulis kolumnis mode Colin McDowell di laman Business of Fashion.

Bisnis Cristobal sempat terhenti gara-gara pecahnya Perang Sipil Spanyol. Dia lantas memutuskan memindahkan bisnisnya ke Paris. Pada 1937, Dia resmi membuka label busana dengan namanya sendiri, Balenciaga, di Avenue Georges V. Pada Agustus tahun yang sama, dia menggelar fashion show pertamanya dan menampilkan sejumlah koleksi busana yang terinspirasi oleh masa Renaisans Spanyol.

Gaun Infanta, contohnya, merupakan gaun dengan potongan pinggul lebar yang terinspirasi dari lukisan potret seorang putri Spanyol karya pelukis abad ke-17 Diego Velazquez. Ada pula gaun Flamenco yang terilhami pakaian matador. Busana dengan fitur renda hitam ini secara tradisional dikenakan oleh para perempuan Spanyol selama prosesi Pekan Suci Spanyol.

Berkat koleksi-koleksinya yang menawan itu, Balenciaga segera tumbuh menjadi label busana premium termahal dan paling eksklusif di Paris. Pada 1939, media-media Prancis menyebut Balenciaga sebagai revolusioner dunia mode. Produk adibusananya pun jadi buruan banyak orang, bahkan saat Perang Dunia II berkecamuk.

Bapak Fesyen Kontemporer

“Ada satu kata dalam bahasa Spanyol yang singkat dan tajam: cursi. Cristobal menggunakannya untuk menggambarkan sesuatu yang paling dibencinya dalam dunia mode: kevulgaran dan selera yang buruk,” demikian Vogue menggambarkan perfeksionisme Cristobal.

Cristobal Balenciaga memang desainer unggul karena dia juga mahir menjahit. Dia mampu melakukan hal-hal praktikal, mulai dari membuat pola, menggunting, menjahit, hingga penyempurnaan hasil akhirnya. Itulah pembeda utama antara dirinya dan couturier lain yang sezaman.

Cristobal punya prinsip bahwa proses mendesain dimulai dari kain, bukan sketsa. Dia memang dikenal sebagai desainer yang tidak pernah membuat sketsa. “Kainlah yang memutuskan,” katanya.

Pengetahuan dan keterampilan teknis yang kuat membuat Cristobal tahu bagaimana mengeluarkan efek terbaik dari suatu bahan. Kemampuan ini diakui betul oleh para desainer lain.

Coco Chanel, contohnya, mengaku kagum pada keterampilan Cristobal. Chanel bahkan menganggap Cristobal lebih lihai menjahit daripada semua penjahit yang bekerja di Paris. Konon, setiap busana dari serbaneka koleksi Balenciaga kala itu seluruhnya dibuat sendiri oleh sang maestro.

“Balenciaga adalah couturier sejati. Hanya dia yang mampu memotong bahan, merakit, dan menjahitnya dengan tangan, sementara couturier lainnya hanyalah sebatas merancang busana,” kata Coco Chanel seperti dikutip Victoria & Albert Museum.


Infografik Cristobal Balenciaga
Infografik Cristobal Balenciaga 21 Januari 1895 - 23 Maret 1972. tirto.id/Quita


Sejak era 1950-an, Cristobal memelopori beragam bentuk yang belum pernah muncul di skena fesyen perempuan. Beth Duncuff Charleston dari The Metropolitan Museum of Art menyebut, desainnya berkitar pada garis ramping dan linier. Dengan itu dia berjarak dari bentuk-bentuk jam pasir yang dipopulerkan Christian Dior.

“Balenciaga menyukai garis-garis cair yang memungkinkannya mengubah cara busana berelasi dengan tubuh perempuan. Garis pinggang diturunkan, lalu dinaikkan, terlepas dari garis pinggang alami pemakainya,” tulis Charleston.

Karya-karya Cristobal juga terbilang radikal karena mengabaikan norma sosial dan budaya pada masa itu. Tapi, secara perlahan dia mengenalkan level yang lebih tinggi dari abstraksi.

Pada 1953, dia memperkenalkan balloon jacket—jaket dengan desain membulat yang elegan dan seolah-olah menjadi tumpuan bagi kepala pemakainya. Lalu, pada 1957, dia memunculkan kreasi baby doll dress yang berpinggang tinggi dengan mantel serupa kepompong dan dipadukan dengan rok balon. Di tahun yang sama, dia mengejutkan dunia fesyen dengan mengenalkan sack dress—gaun berbentuk lurus dari atas hingga bawah yang menghilangkan bagian pinggang.

“Dengan berbagai inovasi desain itu, Balenciaga mencapai apa yang dianggap sebagai kontribusinya yang paling penting bagi dunia mode: siluet baru bagi bentuk tubuh perempuan,” tulis Charleston.

Sack dress rancangan Cristobal itu kemudian menjadi cikal bakal gaun pendek yang marak di pasaran pada 1960-an. Ia juga tetap bertahan sebagai desain pokok hingga saat ini. Berkat semua itu, insan dunia mode sangat menghormati Cristobal sebagai revolusioner. Dia disebut-sebut sebagai peletak dasar-dasar modernitas dalam dunia mode.

Pada dekade 1960-an, karier Cristobal makin mendunia. Dia terus menghasilkan karya-karya adibusana dengan teknik dan keindahan yang tak tertandingi. Dia juga bekerja sama dengan rumah kain Abraham di Swiss untuk memproduksi kain-kain yang inovatif. Salah satu contohnya adalah kain gazar sutra untuk bahan setelan jas, gaun siang, dan pakaian malam.

Saat itu, orang-orang dari keluarga terpandang seperti Duchess of Windsor dan Pauline de Rothschild adalah klien setia Balenciaga. Cristobal Balenciaga juga pernah mendadani sejumlah wanita paling glamor dan terkenal di Hollywood, mulai dari Ava Gardener, Gloria Guinnes, dan Mona von Bismarck.

Baca juga artikel terkait DESAINER BUSANA atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight