'Crazy Rich' Korea Utara: Golongan 1% yang Mapan di 'Pyonghattan'

Infografik Crazy Rich Korutan
Kim Jong-un di Teacher Training College yang baru direnovasi, Pyongyang, Rabu (17/1/2018). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 3 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dari atas menara gading mereka menonton kesengsaraan ‘sobat misqueen’ sembari menenteng koleksi terbaru H&M dan menyesap secangkir kapucino.
tirto.id - Kemiskinan adalah kondisi yang umum di Korea Utara. Beberapa tahun terakhir memang mulai muncul kelas menengah baru. Tapi yang lebih menarik adalah eksistensi kaum elite satu persen yang menikmati kemewahan yang tidak dirasakan 99 persen warga lain.

Mantan jurnalis Financial Times Anna Fifield menyinggungnya dalam biografi Kim Jong-un yang baru ia terbitkan, The Great Successor: The Divinely Perfect Destiny of Brilliant Comrade Kim Jong Un (2019).

Era 1990-an adalah dekade yang berat. Kelaparan massal melanda Korut dan berpuncak pada tahun 1999. Korbannya terutama orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan.

Memasuki permulaan abad ke-21, standar hidup warga kelas bawah agak meningkat. Golongan elite Korut juga lebih mudah beradaptasi. Mereka, yang memiliki koneksi dengan pemerintah dan anggota partai, kemudian tumbuh menjadi kelas baru yang mapan secara finansial.

Kim Jong-il meninggal pada 17 Desember 2011. Kejadian ini otomatis mengakhiri masa kekuasaannya yang merentang selama 18 tahun. Estafet kepemimpinan beralih ke tangan Kim Jong-un. Berbeda dari ayahnya, Jong-un rupanya menjalankan pemerintahan dengan sedikit lebih rileks.

“Keran untuk pasar-pasar ekonomi dibuka. Jaringan yang sebelumnya kusut ia hilangkan atau tundukkan. Lalu muncul donju, atau penguasa uang, yang mengendalikan semakin banyak tambang, pabrik, dan bahkan real estate,” tulis Fifield sebagaimana dikutip Kap Seol untuk tinjauan buku di kanal Jacobin.

Japan Times melaporkan banyak juga donju yang melakoni perdagangan di sektor informal atau mendirikan bisnis kecil. Mereka adalah staf perusahaan-perusahaan milik pemerintah yang memulai perusahaan baru sembari tetap menjalin kemitraan dengan pemerintah.


Bentuk kemitraan ini penting untuk menunjang profit. Misalnya dengan skema menjual barang hasil produksi perusahaan swasta milik seorang staf kepada orang lokal maupun turis di berbagai kantor kementerian.

Sekitar 70 persen keuntungan masuk ke kas negara. Sisanya diserahkan ke perorangan alias yang punya perusahaan. Meski berkisar di angka 30 persen, profit yang mereka tetap jauh melampaui upah bulanan warga biasa.

Kemitraan antara pebisnis dan pemerintah banyak yang dilicinkan melalui praktik korupsi, kolusi, nepotisme, tulis Fifield. “Semua orang berebut untuk menunjukkan kesetiaannya pada rezim demi mengumpulkan lebih banyak keuntungan ekonomi.”

Dalam bab bertajuk “Elite of Pyonghattan” Fifield menggambarkan bagaimana kemitraan tersebut melahirkan populasi elite yang tinggal di menara gading, di pusat kota Pyongyang, yang menjauhi kondisi serba-kekurangan atau minimal pas-pasan yang dijalani oleh mayoritas warga lain.

“Pyonghattan” berasal dari gabungan “Pyongyang” dan “Manhattan”. Asal kata ini didasarkan pada reputasi Manhattan sebagai tempat tinggal kaum elite New York dan Amerika Serikat.

Dalam laporan lain untuk Washington Post, Anna menyoroti bagaimana konsumerisme menjadi pedoman keseharian warga Pyonghattan. Salah satunya melalui kegemaran belanja barang-barang bermerek.

Untuk fesyen perempuan, mereka menyukai produk-produk perusahaan fast-fashion seperti Zara, H&M, atau Elle. Kaum Adam memilih pakaian atau sepatu sporty bikinan Nike atau Adidas, sementara yang kasual mereka mengandalkan Uniqlo. Barang-barang tersebut tentu saja berstatus original.


Anna mewawancarai seorang pembelot bernama Lee Seo-hyeon, yang baru berusia kepala dua, dan pernah merasakan hidup sebagai warga Pyonghattan.

Lee mendeskripsikan masa remajanya di Pyongyang sebagai penggemar Britney Spears dan Backstreet Boys. Itu sebelum ‘korean wave’ menyerang dan sebelum ia kecanduan lagu-lagu boyband atau girlband asal Korea Selatan.

Lee tidak asing dengan operasi plastik. Teman-temannya banyak yang melakukan, meski pemerintah Korut punya aturan yang tegas mengenai praktik tersebut. Mereka bisa melakukannya di luar negeri, dan pulang-pulang sudah membawa belanjaan dari gerai Zara, H&M, atau Elle.

Warga Pyonghattan, menurut Lee, dituntut untuk berpakaian tertutup dalam keseharian. Oleh sebab itu mereka keranjingan pergi ke gym, kelas yoga, atau arena bowling, untuk pamer tubuh.

Pelayanan di tempat-tempat tersebut juga bukan yang biasa-biasa saja. Aktivitas mereka di ruang-ruang itu didukung layar monitor agar bisa menonton siaran kartun Disney sambil berolahraga.

Kompleks Pyonghattan didukung restoran-restoran mewah yang siap memenuhi hasrat akan makanan dan minuman dengan kualitas bahan dan rasa nomor satu. Harganya tentu tidak murah. Tapi restoran juga tidak hanya berfungsi untuk mengisi perut, melainkan juga sarana menjadi kebarat-baratan.

Misalnya di restoran bertema Jerman dekat Menara Juche (Juche = ideologi resmi Korut). Pengunjung bisa memesan steak dan kentang seharga $48 dolar. Dinding restoran bergaya tumpukan bata. Agenda kulineran makin lengkap berkat layar televisi besar yang menampilkan pertunjukan ice skating.


Di sudut lain terdapat restoran sushi dan barbekyu. Pengunjung menikmati daging bakar rekomendasi pelayan dengan harga termurah sekitar $50 per orang. Mereka menampakkan raut muka bahagia, tak sungkan tertawa-tawa di tengah aktivitas menenggak minuman alkohol khas Korea—soju.

Simbol orang kaya selanjutnya adalah kopi kapucino. Minuman yang disesap di balkon apartemen jelang matahari tenggelam ini dihargai hingga $10 per cangkir. Ada pula restoran mewah di Korut yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pesta pernikahan dengan tarif mencapai $500 per jam.



Jika bosan, Kim Jong-un menyediakan taman hiburan, wahana bermain air, wahana pertunjukan lumba-lumba, dan resor ski mewah. Resor ski di dekat Kota Wonsan sempat menjadi perbincangan pada beberapa tahun lalu. Selain warga Pyonghattan, objek itu juga jadi salah satu tujuan wisata turis asing.

Pembelot lain yang pernah menjadi narasumber BBC, Jayden (bukan nama sebenarnya), juga mantan warga Pyonghattan. Kesehariannya bermain bola dan gim komputer atau menonton film-film produksi luar Korut.

“Meski demikian tetap ada aturan soal apa yang boleh dan tidak dilakukan. Banyak dari film dan gim yang aku mainkan sebenarnya ilegal, tapi aku tetap bisa mengaksesnya diam-diam,” kata Jayden, yang menyiratkan bahwa uang adalah kunci untuk melepas sejenak belenggu otoritarianisme dinasti Kim.


Kim Jong-un sadar bahwa golongan satu persen di negaranya (dan sebagian kelas menengah lain) membutuhkan kanal untuk menghabiskan uang. Oleh sebab itu ia membangun pusat-pusat perbelanjaan, olahraga, dan kebudayaan sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara.

Pengamat internasional biasa mengawasi Korut melalui citra satelit untuk memetakan situs-situs konstruksi. Dari sana mereka melihat bagaimana Korut hari ini bukan Korut dua dekade yang silam.

Gaya hidup penduduk Pyonghattan menunjukkan ironi yang berlapis-lapis. Kondisi mereka berkebalikan 180 derajat dibandingkan warga Korut pada umumnya. Khususnya warga yang tinggal di pinggiran, mereka akrab dengan kesulitan memenuhi pangan serta kebutuhan pokok lainnya.

Sementara warga Pyonghattan menikmati kelonggaran aturan, warga kebanyakan harus taat 100 persen. Pembangkang akan berhadapan dengan hukuman yang kejam. Kesempatan untuk mereka untuk kabur dari Korut juga jauh lebih sempit.

Ironis yang lebih fundamental diterangkan Andrei Lankov, sejarawan Rusia yang fokus pada isu Korea Utara dan pernah belajar langsung ke Pyongyang.

Korut selalu membanggakan diri sebagai rezim sosialis yang menjadi antitesis “setan-setan kapitalis” seperti Amerika Serikat. Tetapi, kata Andrei kepada Anna, “Kim Jong-un sebenarnya sangat pro-pasar. Kebijakannya secara mendasar telah mengabaikan itu (ideologi negara).”

“Hanya ada satu aturan di sana: kapitalisme,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait KOREA UTARA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight