Hari Santoso Sungkari

"Coworking Space itu Arwahnya Bukan Menyediakan Ruangan"

Oleh: Mawa Kresna - 30 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Membentuk coworking space yang memiliki ekosistem yang baik memang bukan perkara mudah. Sama halnya membuat coworking space menjadi bisnis yang menguntungkan. Inilah yang menjadi tantangan di Indonesia.
tirto.id - Perkembangan bisnis coworking space tidak bisa dilepaskan dari munculnya start-up di Indonesia. Coworking space memiliki peran yang penting dalam membangun iklim start-up yang siap berkompetisi.

Hal tersebut diakui oleh Hari Santoso Sungkari, Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Menurutnya, coworking space harus menjadi tempat di mana para start-up digembleng dan berkembang.

Coworking space itu arwahnya bukan menyediakan ruangan. Kuncinya adalah menyediakan kegiatan, di mana para start up bertemu dengan mentor,” kata Hari kepada Mawa Kresna dari tirto.id, Senin (21/11/2016).

Lalu bagaimana korelasi pertumbuhan start up dengan bisnis coworking space di Indonesia? Berikut wawancaranya:

Bagaimana perkembangan start up di Indonesia sekarang ini?

Berdasarkan data dari Tech in Asia, diperkirakan ada 2.000 start-up digital di Indonesia. Sekarang ini kondisinya, menurut data dunia dari Forbes, hanya 10 persen yang berhasil, bahkan hanya 3 persen. Di Indonesia juga di bawah 10 persen, karena itu Bekraf berinisiatif membuat program BEK-Up (Bekraf for Pre Start Up). Pada awal tahun, kita kumpulkan stakeholder yaitu para inkubator bisnis dan mantan start-up yang sudah sukses. Kita bertemu, mencari tahu masalah-masalah start-up di Indonesia.

Akhirnya kita simpulkan, pertama, start up di Indonesia belum siap untuk memulai usaha. Mereka kebanyakan hanya dari satu bidang skill. Komposisi skill dari founder-founder-nya tidak saling melengkapi. Jadi umumnya, start-up itu kelompok yang semuanya programmer. Jadi ketika mereka memulai suatu usaha, mereka kurang dilengkapi dengan tim yang namanya bisnis. Itu kekurangannya.

Kedua, sebenarnya mereka belum tahu apa itu wirausaha. Artinya dia harus punya mental tahan banting dan siap gagal. Siap gagal untuk bangkit kembali. Siap untuk menahan pendapatannya, bukan digunakan langsung. Kalau dapat penghasilan, biasanya langsung dibagikan. Jadi mereka belum siap mengelola keuangan.

Kemudian apa lagi?

Ketiga, karena mereka bekerja dengan para co-founder, sering tidak dimulai dari perjanjian di antara mereka sendiri. Akhirnya berpisah di ujung. Begitu ada pendapatan, terjadi sengketa di antara mereka sendiri. Harusnya tidak begitu. Mereka tidak ada perjanjian sejak awal.

Keempat, mereka sering membuat produk yang tidak dibutuhkan oleh pasar, karena itu kita bikin BEK-Up. Kita bukan workshop, bukan kursus, tapi penggemblengan calon start-up agar mereka menjadi tahu mengelola bisnis. Juga agar bisa bekerjasama dengan baik dengan para founder-nya dan membuat produk yang dibutuhkan pasar. Bukan produk yang mereka butuhkan sendiri.

Sekarang banyak muncul coworking space yang membantu start up. Apakah Bekraf juga men-support coworking space?

Kami sangat support. Bahkan saat coworking space dan virtual office itu sempat dilarang di DKI Jakarta tahun lalu sampai Februari, Bekraf bersama dengan HIPMI dan persatuan virtual office melakukan dialog dengan Pemda. Akhirnya pada Februari larangan dicabut.

Untuk start up, sebenarnya yang penting bukan virtual office tapi coworking space. Justru di sana jadi ajang start-up untuk bertemu. Kalau virtual office mereka tidak bertemu. Kalau coworking space pasti bertemu dan ada kolaborasi. Coworking space itu sebenarnya bukan bisnis properti. Mereka menjalani kegiatan di mana terjadi proses inkubasi. Jadi di sana start up dipertemukan dengan mentor-mentor. Itu yang lebih penting. Kalau coworking space tidak ada kegiatan dan mengandalkan dari bayar rental, para start-up juga nggak akan mampu.

Di Jakarta ada coworking space yang tutup, kemudian muncul yang baru dan tutup lagi. Apa masalahnya?

Tadi seperti saya sampaikan, coworking space itu arwahnya bukan menyediakan ruangan. Coworking space bukan bisnis properti. Kuncinya adalah menyediakan kegiatan, di mana para start-up bertemu dengan mentor. Kalau dia datang tapi nggak dapat benefit apa-apa, ya selanjutnya nggak akan datang lagi. Karena itu perlu ada kegiatan yang sifatnya inkubasi. Seminggu ketemu mentor ini, lalu ketemu mentor apa lagi.

Model bisnisnya di situ. Start-up bisa ditarikin murah, tapi dana dari start-up untuk coworking space tidak akan cukup. Jadi kegiatan itu harus disponsori. Bekraf termasuk yang suka mensponsori. Sekarang kita lakukan di 11 kota di Indonesia, membiayai BEK-Up.

Kota mana saja?

Kita tempatnya tetap. Waktu kita buka awal ada 11 kota, yaitu Medan, Tangerang, Depok, Bekasi, Bandung, Yogya, Solo, Malang, Surabaya, Makassar dan Balikpapan. Ada 1.000 yang daftar. Tempatnya di digital lounge Telkom. Konsepnya kerja sama antara pemerintah dengan Telkom. Kita ada 40 mentor. Harapannya dari program ini, muncul banyak start up. Target kita tahun ini 50 start up, tahun depan 150.

Bekraf juga akan bangun coworking space secara fisik?

Nggak. Kita akan support coworking space yang sudah ada dengan kegiatan. Mereka duitnya dari mana kalau bikin begitu? Marginnya mereka nggak mungkin menutup. Jadi di sini Bekraf membantu. Tapi kita me-review dulu. Silabusnya cocok nggak, mereka punya target nggak? Kalau kita bantuin, akan muncul berapa start up?

Di Jakarta sudah kerja sama dengan coworking space mana saja?

Belum. Kalau saya mendukung coworking space belum. Eh, ada coworking space di Kemang, kita biayai. Tapi itu lebih kepada desain komunikasi visual.

Baca juga artikel terkait COWORKING SPACE atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight