Advertorial

Coworking Space Bukan Sekadar Tempat Kerja

Ilustrasi coworking space. COCOWORK/Nadya Noor.
Oleh: Advertorial - 13 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Para pekerja yang bahagia menciptakan lebih banyak hasil bagi perusahaan dalam jangka panjang. Mereka berangkat kerja seperti sedang menyongsong kegembiraan. Mereka tak mudah menyerah, bekerja melampaui tugas yang diberikan, dan menjadi magnet bagi pekerja-pekerja baru dengan komitmen yang sama kukuhnya.
tirto.id - Pada 2015, Gretchen Spreitzer, Peter Bacevice, dan Lyndon Garret—ketiganya peneliti di University of Michigan’s Ross School of Business—menyatakan nilai rata-rata perkembangan orang-orang yang bekerja di coworking space adalah 6 dalam skala 7. “Capaian itu 1 poin lebih tinggi ketimbang rata-rata karyawan yang bekerja di kantor-kantor konvensional,” tulis mereka di Harvard Business Review.

Berkembang atau thriving adalah istilah yang mereka pilih untuk menggambarkan “kebahagiaan kerja.” Melampaui kepuasan atau contentment, para pekerja yang berkembang tak sekadar produktif dan penuh semangat, tapi juga ikut membentuk masa depan, baik bagi perusahaan maupun karier masing-masing.

Para pekerja yang berkembang punya keunggulan: mereka bersemangat, tapi tahu caranya agar tak hancur karena pekerjaan,” tulis Greitzer dan rekan-rekannya.

Mengapa orang-orang yang bekerja di coworking space punya nilai perkembangan rata-rata yang lebih tinggi? Para peneliti itu mewawancarai sejumlah pendiri coworking space dan pengelola komunitas, juga menyurvei ratusan pekerja dari seantero Amerika Serikat. Hasilnya, mereka menduga ada tiga faktor utama yang membuat coworking space unggul ketimbang kantor konvensional.

Pertama, orang-orang yang bekerja di coworking space cenderung memperlakukan kerja sebagai urusan yang bermakna. Kedua, mereka memiliki kendali yang lebih besar atas pekerjaannya. Ketiga, bekerja bersama banyak orang dari pelbagai latar belakang di coworking space membuat mereka merasa jadi bagian dari sebuah komunitas.

Coworking space memang bukan sekadar tempat kerja. Menurut Coworking Manifesto—sudah ditandatangani oleh lebih dari 1.700 coworking space sedunia pada 2015—para pendiri dan pengelola ruang-ruang tersebut bermaksud mengusung nilai-nilai komunitas, kolaborasi, pembelajaran, dan kesinambungan. Dari segi itu, coworking space dapat dipandang sebagai bagian dari gerakan sosial. Dan di Indonesia, nilai-nilai itu dicerminkan dengan baik oleh COCOWORK.

COCOWORK adalah nama dan wajah baru (rebranding) EV Hive—jaringan coworking space terbesar di Indonesia. Nama baru ini diramu dari kata “community”, “collaboration, dan “workspace” yang merupakan elemen-elemen pokok coworking space. “Kami percaya wajah dan identitas baru ini akan lebih merepresentasikan kami dengan jelas dan lebih inklusif, sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan,” kata Carlson Lau, CEO dan Co-Founder COCOWORK.

Tumbuh dan berkembang dalam dunia startup, Lau meyakini perusahaannya relevan dan bermanfaat bagi bisnis-bisnis lain di Indonesia. Rebranding ini juga memperbarui komitmen kami untuk menyediakan pelayanan terbaik dan menjangkau pasar yang lebih luas di berbagai daerah di Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya lagi.



Dukungan Luas

Sebelum melakukan rebranding, EV-Hive mendapatkan investasi $20 juta dari Softbank Ventures Korea, H&CK Partners, dan Tigris Investment. Kini ada pula dukungan pendanaan dari investor-investor baru seperti Naver, LINE Ventures, dan STIC Invesments, serta investor perorangan seperti Michael Widjaya dan Chris Angkasa.

“Kami senang menyambut para investor baru kami untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan menarik EV Hive di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami berkembang pesat di seluruh Indonesia, meluncurkan dua coworking space baru di Menara Mandiri dan Menara Prima di Jakarta, juga meluncurkan bisnis baru di bawah brand baru kami,” kata Lau pada Mei silam.

Komitmen COCOWORK untuk turut serta membangun ekonomi dan bisnis di Indonesia juga mendapat dukungan dari Pemprov DKI Jakarta melalui pembangunan JSCHive by COCOWORK.

“Kami berharap semakin banyak warga Jakarta yang dapat mempergunakan jaringan ruang kerja bersama agar lebih terpacu untuk berkomunitas sekaligus berkolaborasi. Fasilitas coworking telah menjadi awal yang baik, namun dengan adanya fokus ke komunitas tentu akan semakin melengkapi agar muncul banyak ide dan solusi yang berguna untuk Kota Jakarta,” kata Setiaji, Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta.

Hingga kini COCOWORK telah memiliki 21 situs di Jakarta dan Medan (dengan luas wilayah lebih dari 30 ribu meter persegi) serta menghimpun lebih dari 3 ribu anggota yang berasal dari 260 perusahaan. Mengusung nilai-nilai komunitas, inisiatif, kolaborasi, pertumbuhan, dan keluwesan, ruang kerja bersama itu memperkaya sekaligus memperkuat ekosistem bisnis di Indonesia.

Para pekerja bahagia karena mereka berkembang. Menurut Gretchen Spreitzer dan Christine Porath, itulah rahasia performa tinggi yang ajek. Para pekerja yang bahagia menciptakan lebih banyak hasil bagi perusahaan dalam jangka panjang. Dari hari ke hari, mereka berangkat kerja seperti sedang menyongsong kegembiraan. Mereka tak mudah menyerah, bekerja melampaui tugas yang diberikan, dan menjadi magnet bagi pekerja-pekerja baru dengan komitmen yang sama kukuhnya.
DarkLight