COVID-19, Erdogan Ngotot Bisnis Jalan Terus, Konflik dengan Pemda

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara kepada perwakilan pekerja dalam pertemuan untuk May Day di istananya, di Ankara, Turki, Rabu, 1 Mei 2019. Pers Presidensial via AP, Pool
Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Turki jadi salah satu negara terparah terpapar corona.
Sejak laporan pertama adanya warga Turki positif terjangkit SARS-CoV-2 pada 11 Maret silam, Pemerintah Turki, setidaknya hingga akhir Maret, terlihat sukses menanggulangi COVID-19. Sayangnya, sebagaimana dilaporkan Carlotta Gall untuk The New York Times (20/4/2020) “kesuksesan” Turki mengatasi Corona terlihat mencurigakan. Laporan-laporan resmi tentang kasus Corona di negeri itu dirilis melalui “kontrol informasi yang sangat ketat”.

Laporan France24 awal April ini menyebut penyebaran Corona di Turki termasuk yang tertinggi di dunia, dan berlipat ganda hampir setiap 4-5 hari. Pada 28 Maret, misalnya, tercatat ada 7.400 kasus positif Corona di Turki. Lima hari berselang, jumlahnya meningkat menjadi 15.000 kasus. Pada 6 April, 30.000 warga Turki terinfeksi Corona.

Kembali merujuk laporan Gall, khusus di Istanbul, kematian akibat Corona diyakini sudah ada jauh hari sebelum pemerintah melaporkan kematian pertama pada 17 Maret lalu. Bahkan, menurut analisis New York Times, angka kematian akibat Corona di Istanbul “lebih tinggi daripada angka rata-rata kematian normal secara historis.” Pada rentang 9 Maret hingga 12 April, jumlah yang meninggal di Istanbul lebih tinggi 2.100 jiwa dari yang dilaporkan pemerintah.

Data paling mutakhir, per Kamis (23/4) sore, sebanyak 98.674 warga Turki positif terkena Corona, 2.376 di antaranya berakhir dengan kematian. Kini Turki menjadi negara di urutan ke-9 yang paling parah terparah Corona di seluruh dunia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersikeras agar aktivitas ekonomi terus berjalan. Pemerintahan memang melakukan pencegahan, seperti melarang acara kumpul-kumpul, menghentikan perjalanan antar-kota, hingga mewajibkan warganya menggunakan masker. Namun, Erdogan menolak pemberlakuan karantina penuh (lockdown) di Turki dan tetap menghendaki kantor-kantor beroperasi. Warga hanya diminta secara sukarela untuk mengisolasi dirinya sendiri.

“Turki,” tegas Erdogan pada pekan pertama April 2020, “akan terus mewajibkan pabrik-pabrik berproduksi dan akan mempertahankan roda ekonomi tetap berjalan dengan alasan apapun.”


Turki memang belum pulih dari krisis ekonomi. Menulis untuk Bloomberg, Cagan Koc dan Ercan Ersoy menyebut krisis Turki sebagai dampak situasi dalam negeri dan geopolitik yang memanas sejak 2015. Kala itu, tetangga Turki, Suriah, dihantam perang sipil. Pada 2016, pemerintahan Erdogan mengalami percobaan kudeta.

Pada akhir 2016 mata uang Turki, Lira, jatuh. Inflasi meroket. Turki kesulitan membayar utang-utangnya.

Pada 2016, rekening berjalan (rekening yang merekam aktivitas transaksi perdagangan barang dan jasa suatu negara dengan negara lainnya di seluruh dunia) mengalami defisit. Di tahun itu, rekening berjalan Turki defisit hingga $33,1 miliar. Setahun berselang, defisitnya bertambah menjadi $47,3 miliar. Pada akhir 2018, nilai defisit di angka $51,6 miliar tercatat dalam akun rekening berjalan Turki.

Kemudian, kejatuhan ekonomi Turki diperparah dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan tarif masuk bagi baja dan aluminium, dua komoditas ekspor terbesar Turki, hingga 50 persen pada Oktober 2019 silam.

Akhirnya, hingga 2020 Turki tak kunjung sembuh dari krisis ekonomi.

Karena krisis inilah Erdogan khawatir lockdown akan memperparah keadaan. Di sisi lain, Sinan Adiyaman, pemimpin serikat dokter Turki, menegaskan bahwa setiap hari mereka “terus menerima lebih banyak pasien Corona.” Kebijakan Erdogan dinilai “hampir mustahil mengendalikan pandemik”.

Selain masalah keengganan Erdogan memberlakukan karantina penuh, angka persebaran positif Corona tinggi karena kacaunya koordinasi dalam tubuh pemerintah. Pada 10 April lalu, misalnya, Turki tiba-tiba mengumumkan pemberlakuan jam malam untuk 31 provinsinya, termasuk Istanbul dan ibukota Ankara. Masyarakat yang panik spontan berbondong-bondong memborong kebutuhan pokok.

Kebijakan mendadak yang akhirnya hanya bertahan selama dua hari itu membuat Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, mengajukan pengunduran diri. Namun, Erdogan menolak pengunduran itu dan tetap mempertahankan Soylu di kabinetnya.


Amberin Zaman dari Al Monitor menduga langkah Soylu memberlakukan jam malam terkait dengan usahanya untuk berkuasa menggantikan Erdogan seandainya kebijakannya itu sukses membendung Corona. Dugaan lain, jam malam yang diumumkan secara mendadak itu sesungguhnya kebijakan langsung Erdogan. Tapi karena masyarakat kemudian panik, Erdogan mencabutnya dan pengunduran diri Soylu dijadikan tameng kesalahannya.

Selain opera sabun di tubuh kabinet, kegagalan Turki mengendalikan Corona juga disebabkan oleh tindakan-tindakan pemerintah pusat membendung langkah-langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah daerah, khususnya pemerintah daerah yang dikuasai partai oposisi.

Pada 17 April, Istanbul mengkonfirmasi 74.193 kasus positif Corona di wilayahnya. Dalam rangka meredam penyebaran, Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu mengajukan pemberlakuan karantina penuh pada pemerintah pusat. Sayangnya, Erdogan bergeming. Menurut Imamoglu, pesan-pesan yang dikirimkannya kepada Erdogan tidak dibalas.

Sebelumnya, pada 31 Maret, Erdogan menghentikan inisiatif Imamoglu menggalang dana dari masyarakat untuk disalurkan pada warga yang terdampak Corona. Kala itu, penghentian inisiatif Imamoglu yang dilakukan Erdogan didasarkan pada anggapan bahwa yang dilakukan Imamoglu adalah “mendirikan negara di dalam negara”.

Laporan Tess Fox untuk Foreign Policy menyebutkan sikap Erdogan menolak kerjasama dengan Imamoglu dilatarbelakangi sejarah politik Turki: siapapun yang menguasai Istanbul sangat mungkin menjadi pemimpin negeri di kemudian hari. Imamoglu adalah politisi asal Partai Rakyat Republik (CHP), seteru Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang menyokong Erdogan.

Sebelum jadi orang nomor satu Turki, sejak 1994 hingga 1998 Erdogan adalah Wali Kota Istanbul.

Jika bekerjasama dan mendukung langkah-langkah Imamoglu mengendalikan Corona, apalagi kemudian berhasil, Erdogan khawatir di Pemilihan Presiden 2023 nanti ia kalah.

“Erdogan takut Imamoglu maju mencalonkan diri menjadi presiden dan melawannya, jadi ia tidak ingin memberikan kesempatan apapun bagi Imamoglu mengendalikan krisis ini,” ucap Berk Esen, dosen Hubungan Internasional di Universitas Bilkent, Ankara.

Terlepas dari perselisihan politik, Istanbul, lazimnya megalopolis dunia lainnya, memang sangat sulit ditangani.

Istanbul: Sumbu Dunia

“Merujuk sejarah, dunia telah mengalami lima kepunahan besar dan jika kita tidak bertindak dengan sesegera mungkin kepunahan keenam akan terjadi. Di zaman hidup kita,” kata Bertrand Zobrist, seorang ilmuwan kaya raya. Zobrist yakin populasi dunia semakin membludak dan penderitaan ada di mana-mana. Ia bertekad memancing kepunahan keenam (sixth extinction) dengan menciptakan viral superweapon atau wabah virus pembunuh yang dapat menyebar dengan sangat cepat. Pertanyaannya, di mana Zobrist akan menyebar virus mematikan itu?

Profesor Robert Langdon dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) berusaha mencegahnya. Awalnya Langdon mengira virus akan diledakkan di Firenze, Italia, dengan merujuk pada karya-karya Dante. Namun, petunjuk baru mengarahkan kemungkinan lain: Venesia, Italia. Perkiraan ini rupanya juga salah.

Dengan kecerdasan mengungkap makna dibalik simbol, Langdon sampai pada kesimpulan yang tepat: virus itu akan diledakkan di Istanbul.

“Ketika wabah meledak di era Yustinianus, lima ribu orang mati setiap hari di jalan-jalan Istanbul,” kata Langdon. “Istanbul adalah perbatasan antara Timur dan Barat, pintu dunia. Karena itu Zobrist memilih Istanbul”.

“Jika disebarkan dari Istanbul, 95 persen populasi Bumi akan terjangkit dalam empat sampai tujuh hari,” timpal Elizabeth Sinskey, agen WHO yang juga mantan kekasih Langdon.



Tentu saja, kisah usaha Langdon menyelamatkan umat manusia dari wabah virus adalah rekaan film Inferno (2016). Yang bukan rekaan: Istanbul adalah titik temu orang dari berbagai belahan dunia.

Dalam Istanbul: Between The Global and The Local (1999), Caglar Keyder menyebut Istanbul sebagai kota utama orang-orang Yunani, der saadet atau kursi kebahagiaan bagi kaum Muslim, dan tzarigrad alias kotanya para kaisar orang-orang Balkan. Dalam 1.500 tahun sejarahnya, Istanbul adalah pusat kekuasaan para sultan.

Di zaman klasik, menurut paparan Keyder, Istanbul sering dikisahkan sebagai sumbu dunia. Kota ini mempertemukan belahan dunia utara dan selatan, barat dan timur. Tak heran Istanbul menjadi salah satu pusat perdagangan teramai di dunia. Para pedagang dan pembeli dari Cina, India, Persia, Rusia, Mesir, Suriah, Balkan, Genoa, dan Venezia, tumpah-ruah di jalanan Istanbul.

Dengan posisinya itu, Istanbul menjadi salah satu kota metropolitan pertama dunia. Pada abad ke-19, misalnya, 130.000 warga dunia berkumpul di Istanbul. Tercatat, Istanbul adalah kota pertama yang memiliki rel kereta langsung menuju Wina, Austria, pada 1888.

Ketika dunia memasuki zaman modern, status Istanbul tidak berubah. Dalam Logistic and Supply Chains in Emerging Markets (2014) John Manners-Bell menyatakan Istanbul sebagai logistic hub dunia, khususnya selepas dibukanya Candarli sebagai pelabuhan utama di Istanbul.

Istabul, menurut Manners-Bell, adalah pasar properti nomor lima terkuat di Eropa, dengan indikator infrastruktur, aksesibilitas, dan kompetensi.

Sementara itu, studi Ersan Basar berjudul “Developments in Air Transportation in Turkey and Increments in Istanbul Hub” (2016) memaparkan bahwa sejak revolusi udara dimulai pasca-Perang Dunia I, Istanbul perlahan mendaulat diri sebagai titik temu bandara-bandara dunia (airports' hub).

Airports' hub merujuk pada model penerbangan yang menjadikan satu wilayah, dalam hal ini bandara, sebagai titik transfer penerbangan. Misalnya, penerbangan dari Indonesia ke Amerika Serikat tidak langsung dilakukan dari Banda Udara Internasional Soekarno-Hatta ke J.F. Kennedy International Airport, tetapi diarahkan dahulu ke airports' hub, dalam hal ini Istanbul. Dengan model ini penerbangan menjadi lebih terjangkau secara ekonomis.

Sejak 2006 hingga 2015, menurut Basar, dunia penerbangan sipil Turki, baik domestik atau internasional, meningkat 139 persen dengan Bandara Atatürk, Istanbul, sebagai penggerak utamanya.

Bandara Atatürk merupakan hub yang menghubungkan 245 kota di dunia.

Pada 2018, karena Bandara Atatürk sudah tidak sanggup menampung kapasitas penumpang, Turki kemudian mendirikan Istanbul International Airport. Kala itu, Erdogan mengatakan bandara baru tersebut akan menjadi "lokasi transit terpenting, sumbu bagi Utara-Selatan, Barat-Timur, mengkoneksikan 60 negara dan menghasilkan $20 triliun bagi perekonomian”

Rencananya, bandara baru tersebut akan dapat menampung 200 juta penumpang.

Saking strategisnya Istanbul, bukan hal yang aneh akhirnya kota ini menjadi yang terparah terpapar Corona.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight