Pandemi COVID-19

COVID-19 DKI Meledak, Kasus Baru 24 Juni 2021 Tembus 7.505

Oleh: Riyan Setiawan - 24 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sebanyak 15 persen dari 7.505 kasus positif hari ini adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Total kasus konfirmasi sampai hari ini 494.462 kasus.
tirto.id - Penambahan kasus positif COVID-19 di DKI per Kamis, 24 Juni 2021 tembus 7.505 kasus. Angka ini merupakan penambahan kasus tertinggi dalam sehari, di mana dalam beberapa waktu berada pada kisaran 3.000-5.000 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi (Dinkes) DKI, Dwi Oktavia mengatakan angka tersebut diperoleh ketika pihaknya melakukan tes PCR sebanyak 25.575 spesimen.

Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 20.406 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru, dengan hasil 7.505 positif dan 12.955 negatif.

"Kami di Pemprov DKI Jakarta mengimbau seluruh warga meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi protokol kesehatan, karena penularan COVID-19 yang kian cepat. Aturan Patuhi yang berlaku sebagai upaya kita bersama dalam menekan penyebaran virus ini,” kata Dwi, di Balai Kota, Jakarta Pusat.

Jumlah kasus tersebut terdapat di beberapa daerah Ibu Kota: Kepulauan Seribu 2 kasus, Jakarta Barat 1.550 kasus, Jakarta Pusat 836 kasus, Jakarta Selatan 1.105 kasus, Jakarta Timur 2.310 kasus, dan Jakarta Utara 954 kasus, serta data kasus yang masih Sedangkan proses pengungkit sebanyak 748. Kecamatan dengan jumlah kasus terbanyak, antara lain Ciracas 350 kasus, Cipayung 341 kasus, Kembangan 322 kasus, dan Pulo Gadung 305 kasus.

Dwi menuturkan, tren kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun masih bertambah. Sebanyak 15 persen dari 7.505 kasus positif hari ini adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun, dengan rincian: 830 kasus adalah anak usia 6 - 18 tahun dan 282 kasus adalah anak usia 0 - 5 tahun. Sedangkan 5.775 kasus adalah usia 19 - 59 tahun dan 618 kasus adalah usia 60 tahun ke atas.

“Untuk itu, penting sekali bagi para orang tua agar menjaga anak-anak lebih ketat dan menghindari keluar rumah membawa anak-anak. Sebisa mungkin melakukan aktivitas di rumah saja bersama anak, karena kasus positif pada anak saat ini masih tinggi,” ucapnya.

Kemudian, Dwi mengatakan jumlah kasus aktif di Jakarta pada hari ini naik sejumlah 5.195 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 40.900 (orang yang dirawat/ isolasi). Sedangkan, jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 494.462 kasus.

Dari jumlah kasus positif, total orang dinyatakan sembuh sebanyak 445.450 dan total 8.112 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 1,7 persen, sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 2,7 persen.

Lonjakan bukan hanya terjadi pada angka kasus positif saja, kata Dwi, tetapi juga pada jumlah pemakaman dengan protap COVID-19 di Jakarta. Secara berturut-turut, pada 22 Juni terdapat 150 pemakaman, lalu 23 Juni sebanyak 180 pemakaman, dan sampai pukul 12 siang hari ini sudah 132 pemakaman yang menggunakan protap COVID-19.

"Situasi ini tidak bisa dibiarkan, kita harus waspada dan mencegah penyebaran COVID-19 ini bersama-sama,” tuturnya.

Sementara itu, jumlah keterisian tempat tidur baik isolasi maupun ICU di rumah sakit rujukan COVID-19 di Jakarta juga hampir penuh. Hingga 23 Juni, pada 140 RS yang merawat COVID-19 di Jakarta sebanyak 9.852 tempat tidur isolasi yang saat ini terisi 90 persen atau 8.874 pasien, lalu sebanyak 1.218 tempat tidur ICU yang kini terisi 86 persen atau 1.048 pasien.

Pemprov DKI Jakarta juga akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam menyediakan fasilitas mandiri terkendali yang tersebar di sejumlah wilayah, salah satunya Rusun Nagrak, dan sejumlah GOR.

Dwi turut memaparkan jumlah klaster di Jakarta. Untuk klaster perkantoran pada 14-20 Juni, ditemukan sebanyak 576 kasus positif dari 105 kantor. Sedangkan, untuk klaster keluarga pada 14-20 Juni sebanyak 10,967 orang positif dari 912 keluarga.

“Kami juga menyarankan warga mengurangi mobilitas, taati aturan bekerja dari kantor sebanyak 25 persen dan sisanya bekerja dari rumah. Keluar rumah jika benar-benar penting, tentu kita ingin jika semua kasusnya bertambah terus,” jelas dia.

Dwi juga menyarankan agar warga tidak panik saat terdiagnosis positif Antigen/PCR. Untuk warga yang mendapat hasil positif pada tes Antigen, pastikan segera melakukan tes PCR di Puskesmas secara gratis atau laboratorium lainnya secara mandiri. Adapun langkah-langkah yang dinyatakan positif pada tes Antigen/PCR sebagai berikut:

1. Laporan kepada RT/RW/Puskesmas setempat,

2. Sementara isolasi mandiri terlebih dahulu di rumah, tetap memakai masker yang baik di rumah, pisahkan diri dari anggota keluarga lain,

3. Pastikan kontak erat di lingkungan rumah/kerja segera melakukan tes PCR,

4. RT/RW dan Puskesmas akan membantu monitoring harian kondisi pasien. Puskesmas akan menentukan langkah tata laksana yang akan dilakukan oleh pasien sesuai kondisi masing-masing; apakah akan isolasi mandiri di rumah/lokasi isolasi mandiri terkendali/RS.

Namun, jika merasakan gejala tapi saat tes Antigen dinyatakan negatif, Dwi menyarankan sebaiknya tetap lakukan tes PCR.

"Karena, orang yang dinyatakan positif saat tes Antigen, hampir pasti juga dinyatakan positif pada saat tes PCR, tetapi jika negatif saat tes Antigen, belum tentu hasilnya negatif pula pada saat tes PCR dan bisa saja positif saat dites PCR, apalagi jika bergejala,” pungkasnya. .





Baca juga artikel terkait UPDATE CORONA JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight