Contoh Pertahanan Tubuh Spesifik-Nonspesifik dalam Imunitas Tubuh

Kontributor: Ilham Choirul Anwar - 31 Mei 2022 10:48 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik memiliki cara kerja yang berbeda untuk melindungi tubuh dari keberadaan zat asing.
tirto.id - Pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik memiliki cara kerja yang berbeda untuk melindungi tubuh dari keberadaan zat asing.

Setiap manusia secara alami dibekali dengan kemampuan untuk menolak zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Jika zat asing dianggap merugikan, maka tubuh melakukan serangkaian langkah agar benda tersebut bisa dihalau. Kemampuan bertahan ini yang dikenal dengan imunitas atau sistem kekebalan tubuh.

Imunitas merupakan mekanisme faali atau otomatis yang melekat pada tubuh manusia dan hewan yang memiliki kemampuan mengenali zat yang dianggap asing, lalu mengambil tindakan yang diperlukan. Tindakan tersebut mempunyai beberapa bentuk.

Imunitas bisa melakukan netralisasi, melenyapkan atau masuk ke proses metabolisme yang akan melemahkan zat asing, hingga menciptakan kerusakan pada jaringan tubuh.

Kinerja imunitas serupa dengan sistem endokrin yang mengatur keseimbangan, lalu mengatur komponennya untuk beredar ke seluruh bagian tubuh hingga ke sasaran yang amat jauh.

Fungsi imunitas turut dibantu dengan keberadaan sistem limforetikuler yang letak juga menyebar ke banyak bagian tubuh seperti sumsum tulang, kelenjar limfe, limfa, timus, sistem saluran napas, saluran, cerna, dan sebagainya.

Komponen dalam sistem limforetikuler ibarat "pos penjagaan". Saat ditemui zat berada di komponen paling dekat, maka sistem limforetikuler segera mengidentifikasi apakah zat tersebut asing atau tidak. Konfigurasi pada zat ini dinamakan antigen atau imunogen.

Setelah itu, tubuh melakukan respons akibat rangsangan dari zat asing dan menghasilkan antibodi. Antibodi digunakan untuk melawan antigen agar tidak menimbulkan masalah bagi tubuh. Tubuh pun terhindar dari sakit.

Namun, ada kalanya tubuh seseorang memiliki imun yang merespons secara berlebihan. Sistem imunnya gagal membedakan antara zat asing, dengan zat yang asli milik tubuh. Pada kondisi demikian, sistem imun justru melawan jaringan tubuh sendiri yang sehat.

Keadaan sistem pun yang gagal merespons dengan benar ini dinamakan autoantibodi. Orang yang mengalaminya dimungkinkan mengalami penyakit autoimun. Contoh penyakitnya yaitu Lupus, psoriasis, rematik sendi, dan lainnya.

Pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik



Dalam menanggapi informasi zat asing yang masuk ke tubuh, sistem imun merespons dengan dua cara yakni respon imun nonspesifik dan respon imun spesifik. Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud, Kedua sama-sama berguna dalam peningkatan efektivitas untuk memberikan pertahan. Hanya saja, perbedaan terletak pada proses kerjanya.

1. Pertahanan tubuh nonspesifik

Pertahanan tubuh nonspesifik adalah respons imun bawaan (innate immunity). Artinya, tubuh memberikan respons pada zat asing apa pun yang masuk tubuh dan belum pernah terpapar zat itu sebelumnya. Contoh pertahanan ini tampak pada respons imun terhadap antigen bakteri dengan menghancurkannya atau memakannya.

Begitu sistem imun mengenali antigen bakteri asing, maka imun merespons dengan proses fagositosis agar bisa menghancurkannya. Mengutip modul Biologi Kelas XI (2020), fagositosis merupakan peristiwa proses memakan atau memasukkan benda padat ke dalam sel. Sel-sel fagosit bergerak maju mengejar bakteri, melekatkan dirinya pada bakteri, lalu menghancurkan fisik bakteri tersebut dengan merusaknya dari dalam dan luar.

Sementara itu, proses peradangan (inflamasi) yang menjadi bagian dari respons imun nonspesifik. Pemicu peradangan adalah mediator tertentu seperti histamine, vasoactive amine, dan anafilatoksin.

2. Pertahanan tubuh spesifik

Pertahanan tubuh spesifik adalah respons imun terhadap zat asing yang sebelumnya telah memapar ke tubuh. Jika zat asing tersebut sudah dikenali antigennya karena pernah diatasi tubuh di waktu sebelumnya, maka respons imun berupa aktivitas marofag atau antigen precenting cell (APC).

Imun segera melakukan interaksi antara sel-sel imun dengan antigen. Proses selanjutnya terjadi proses proliferasi dan diferensiasi sehingga sel-sel imun mampu melakukan proses pemusnahan antigen sekunder. Pada pertahanan tubuh spesifik umumnya sistem imun lebih mudah dalam mengatasinya.


Baca juga artikel terkait BIOLOGI atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight