Congenital Analgesia, Orang-orang yang Tak Pernah Merasa Sakit

Oleh: Yulaika Ramadhani - 12 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Kita mungkin menilai orang yang tak bisa merasa sakit adalah manusia super, namun di satu sisi kondisi ini bisa sangat berbahaya.
tirto.id - Manusia cenderung melihat rasa sakit sebagai halangan dan malapetaka yang sama sekali tidak diinginkan. Sementara, kemampuan menahan rasa sakit dilihat sebagai kekuatan super yang didamba-damba.

Kemampuan untuk tidak merasakannya sama sekali bukan sekedar imajinasi, karena pada kenyataanya ada. Dalam istilah medis, kemampuan tidak merasakan sakit sama sekali ini disebut sebagai congenital analgesia atau Congenital insensitivity to pain (CIPA).

Kita mungkin menilai orang dengan CIPA adalah manusia super, namun di satu sisi orang dengan kondisi ini bisa sangat berbahaya.

Pada tahun 1932, sebagaimana dikutip Jstor, seorang dokter menemukan seorang pria berusia lima puluh empat tahun yang melaporkan tidak pernah merasakan sakit, meskipun banyak luka mencederainya termasuk pukulan di wajah dengan beliung, peluru yang menembus jari, hidung yang patah, laserasi yang parah. lutut, dan tangan yang terbakar. Semuanya tanpa rasa sakit yang jelas.

”Pria itu, bernama Edward Gibson, mencari nafkah di Vaudeville, membiarkan penonton menekan 50-60 pin di tubuhnya, dan, sekali lagi, membiarkan paku dipalu di tangannya," ujarnya

Masih dari sumber yang sama, pada tahun 1949, seorang gadis pemalu berambut wortel muncul di Poole General Hospital. Sekilas pandang, tampak jelas bekas luka yang luas di badannya, ditambah terdapat pembentukan keloid, ulserasi di lutut dan pahanya, pergelangan kaki bengkak, dan gigi yang buruk. Namun begitu, nyatanya dia 'merasa' sehat-sehat saja.

Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan, dia tidak pernah mengeluh atau tampak kesakitan. Gadis itu sering jatuh tertelungkup di atas beton dan bangkit tertawa; saat bermain dengan anak-anak lain, segenggam rambut telah ditarik keras, namun ia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Dia bahkan tidak pernah mengeluh sakit gigi, sakit kepala, atau sakit perut.

Hingga kemudian, gadis itu kembali ke rumah sakit pada tahun 1950, dan menyatakan dia tidak bisa melompati jaring tenis seperti biasa. Dia memiliki patah tulang lama di dekat pinggulnya dan ia tak merasaka kesakitan sama sekali, hingga saat itu, melompat pun ia tak bisa lagi.

US National Library of Medicine menjelaskan, ketidaksensitifan kongenital terhadap nyeri atau CIPA ini adalah suatu kondisi yang menghambat kemampuan untuk merasakan nyeri fisik.

Sejak lahir, individu dengan CIPA tidak pernah merasa sakit di bagian tubuh mereka saat terluka.

Kurangnya kesadaran akan nyeri ini sering menyebabkan akumulasi luka, memar, patah tulang, dan masalah kesehatan lainnya yang mungkin tidak terdeteksi.

Anak-anak kecil dengan ketidakpekaan kongenital terhadap rasa sakit mungkin memiliki luka mulut atau jari karena berulang kali menggigit diri dan mungkin juga mengalami beberapa luka bakar.

Cedera berulang ini sering menyebabkan harapan hidup individu tersebut berkurang. Banyak orang dengan ketidakpekaan kongenital terhadap rasa sakit juga kehilangan indera penciuman (anosmia).

Bagaimana CIPA bisa terjadi?

Menurut Jurnal berjudul Mutations in the TRKA/NGF Receptor Gene in Patients with Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis, CIPA disebabkan oleh mutasi gen yang mencegah pembentukan sel-sel saraf pengatur transmisi sinyal rasa sakit, panas, dan dingin ke otak. Jurnal itu diterbitkan tahun 1996 oleh Kumamoto University, universitas di Jepang.

Penyakit ini adalah penyakit turunan dan bawaan sejak lahir. Ia tidak bisa disembuhkan, namun penderitanya tetap bisa hidup.


Baca juga artikel terkait PENYAKIT LANGKA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani