Coco Chanel di Antara Revolusi Fesyen dan Tuduhan Antek Nazi

Oleh: Hasya Nindita - 26 Desember 2020
Dibaca Normal 4 menit
Bermodalkan ajaran menjahit di panti asuhan, Coco Chanel menjelma menjadi ikon fesyen dunia. Mengapa ia jadi fasis?
tirto.id - Coco Chanel, pendiri label mode premium Chanel, awalnya hanya berniat untuk mendesain busana yang bisa dikenakan oleh segmen pasar seluas mungkin kala Little Black Dress (LBD) hadir di pasaran pada 1926. Dan ia berhasil. Vogue edisi Oktober 1926 menyebut LBD sebagai “Chanel’s Ford”, atau dengan kata lain, seperti mobil yang diproduksi Ford, gaun sederhana ini dapat dikenakan oleh wanita dari semua kelas sosial yang berbeda selera.

Lebih dari itu, gaun hitam berpotongan sederhana dengan lengan yang sempit dibubuhi sedikit aksesoris untaian mutiara dianggap sebagai kreasi Chanel yang revolusioner. LBD dinilai membawa sebuah pernyataan sikap yang jelas dari desainnya yang sederhana dan juga pilihan warnanya. Hitam kala itu identik dengan duka dan kesedihan. Warna ini dikenakan sehari-hari oleh para janda di Perancis yang ditinggalkan suaminya akibat Perang Dunia I dan juga pandemi Flu Spanyol.

Kala itu, desainer lain tengah berbondong-bondong mendesain busana dengan warna cerah yang mewah. Chanel berhasil menggeser tren itu dengan LBD. Colin Bissett pada artikel berjudul “Why Chanel’s little black dress has never gone out of fashion” yang tayang di ABC News, mengatakan, Chanel seolah memiliki kemampuan khusus untuk mengubah gagasan yang sebelumnya tidak mudah diterima menjadi bisa diterima oleh khalayak luas. Kelak, LBD terus berevolusi dan dikenakan oleh para aktris film Hollywood masa itu, salah satunya adalah Audrey Hepburn di film Breakfast at Tiffany’s (1961).

“Di balik keseluruhan fesyen yang dibawa LBD, tersimpan gagasan Chanel tentang wanita mandiri yang tahu dan mengenal pemikirannya sendiri,” tulis Bissett.

Coco Chanel lahir dengan nama Gabrielle Bonheur Chanel di sebuah rumah kecil di Saumur, Perancis, pada 19 Agustus 1883. Chanel tumbuh dalam kemiskinan. Ayahnya adalah seorang pedagang keliling yang menjajakan pakaian kerja dan pakaian dalam, sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Chanel dan keempat saudaranya tidak mengenyam pendidikan formal. Ketika Chanel berumur 12, Ibunya meninggal dunia. Ayahnya kemudian menitipkan Chanel bersama kedua saudara perempuannya ke panti asuhan dan tidak pernah kembali. Di panti asuhan inilah Chanel mulai belajar menjahit dari salah seorang suster.


Setelah keluar dari panti asuhan, Chanel meniti karir sebagai penyanyi kafe selama beberapa tahun. Dari sinilah panggilan “Coco” bermula. Ia tengah tampil di Vichy dan Moulins ketika seorang pria mulai memanggilnya “Coco”. Panggilan ini dikabarkan datang dari salah satu lagu yang biasa ia nyanyikan.

Tidak hanya nama panggilan, profesi ini jugalah yang berjasa membuka kesempatan untuk masuk ke dunia fesyen. Menjadi seorang penyanyi kafe rupanya membuat Chanel mengenal beberapa pria kaya di Perancis. Chanel yang rupawan membuat para pria ingin mengencaninya. Saat ia berumur 20, Chanel sempat dekat dengan Etienne Balsan, yang mendukungnya untuk membuka toko topi di Paris. Coco akhirnya meninggalkan Balsan untuk pria lain, Arthur “Boy” Capel. Kedua pria ini berperan penting pada langkah awal Chanel meniti karir di dunia fesyen.

Label Mode Chanel yang Revolusioner

Toko pertama Chanel, “Chanel Modes”, adalah toko yang menjual topi untuk para aktris. Toko ini berdiri di reu Cambon, Paris, pada 1910. Saat itu, Chanel merasa bahwa membuat baju untuk perempuan adalah hal yang sulit, karena itulah ia hanya menjual topi. Tidak lama, dengan bantuan dari Capel, Chanel memulai langkahnya di dunia mode dengan mendirikan butik di Deauville pada 1913 dan Biarritz pada 1915. Di sana, Chanel secara resmi mulai mendesain dan menjual pakaian.

Sebelum LBD hadir, busana pertama yang didesain oleh Chanel sudah berhasil menarik perhatian dan dianggap merevolusi industri fesyen. Karena keterbatasan finansial, Chanel memilih bahan jersey yang murah sebagai bahan utama busananya. Pilihan kain ini sangat tidak biasa, karena sebelumnya jersey hanya digunakan sebagai bahan pakaian dalam laki-laki.

Desain pakaian Chanel menitikberatkan pada kesederhanaan dan kenyamanan bagi wanita yang menggunakannya. Bahan jersey rupanya dapat mengeksekusi keinginan Chanel dengan baik. Kualitas kain ini cocok dengan desain Chanel yang sederhana, praktis, dan seringkali terinspirasi dari bentuk pakaian pria.

Tidak butuh waktu lama bagi Chanel untuk mengeruk keuntungan besar dari label modenya. Pada 1919, Chanel membeli seluruh gedung di 31 rue Cambon, Paris, yang hingga sekarang menjadi kantor pusat label busana premiumnya, Chanel. Ia juga berhasil membayar kembali uang yang dipinjamkan Capel.

Chanel terus bergerilya dan melebarkan sayap di industri mode. Pada 1925, Chanel memperkenalkan desain setelan yang dikenal dengan julukan “Chanel Suits”. Setelan ini meliputi atasan jaket tanpa kerah yang elegan dipasangkan rok berpotongan pendek. Busana yang kelak dikenakan oleh para ikon fesyen seperti Jackie Kennedy, Putri Diana, Brigitte Bardor hingga Barbara Walters, tidak hanya menjadi simbol fesyen tetapi juga representasi dari wanita yang bebas.

Gagasan awal desain ini berangkat dari keinginan Chanel menciptakan pakaian yang membuat para perempuan terbebas dari korset dan rok panjang. Chanel ingin perempuan dapat mengenakan setelan yang elegan namun tetap bisa bergerak bebas. Inspirasinya datang dari pakaian olahraga dan pakaian pria yang lebih nyaman dan praktis ketika digunakan. Chanel kemudian memadukan gagasan antara maskulin dan feminin ini ketika mendesain “Chanel Suits”.

Chanel No. 5

Sukses dengan busana, Chanel mulai merambah ke industri lain mulai dari aksesoris, perhiasan, hingga parfum. Kesuksesannya yang paling besar datang dari parfum orisinil Chanel yang pertama, Chanel No. 5, yang menurut Vogue termasuk ke dalam tiga terobosan terbesar Coco Chanel. Chanel No.5 adalah parfum pertama yang diberi nama dari seorang desainer. Juga parfum pertama yang mengubah kemasan parfum yang umumnya berbentuk botol biasa menjadi botol mewah yang mengkilap. Sementara “5” diamini Chanel sebagai nomor keberuntungannya.

Infografik Coco Chanel
Infografik Coco Chanel. tirto.id/Quita


Dilansir dari Vogue, Kehadiran parfum ini tidak terlepas dari campur tangan Ernest Beaux, orang Perancis kelahiran Russia yang merupakan pembuat parfum kenamaan. Pada 1920-an, Chanel meminta Beaux membuatkan wewangian untuknya menggunakan bahan sintetis baru, tidak hanya menggunakan minyak esensial bunga yang marak di pasaran.

Setelah 10 bulan bekerja, Beaux menyajikan 10 botol wewangian dengan nomor 1 sampai 5 dan 20 sampai 24. Tanpa pikir panjang, sang desainer memilih botol No. 5. Parfum No. 5 berbau bunga melati yang dicampurkan dengan harum bunga-bungaan lainnya. Wewangian ini memberikan kesan yang kompleks dan misterius jika dibandingkan parfum beraroma tunggal yang tengah merajai pasar.

“Aku menampilkan koleksi busana pertamaku pada tanggal 5 di bulan 5. Karena itulah aku akan memilih botol No. 5 dan tetap menggunakan nama yang ia sudah miliki, No. 5. Semoga hal ini akan membawa keberuntungan,” ujar Chanel kepada Beaux.

Lagi-lagi, apa yang diungkapkan sang desainer menjadi kenyataan. Pada 1929, Chanel No. 5 menjadi parfum paling laris di seluruh dunia dan disebut-sebut sebagai salah satu wewangian yang paling abadi sepanjang sejarah.

Intelijen Nazi

Ketika Perang Dunia II pecah, Chanel menutup seluruh tokonya dan memecat sebanyak 4.000 karyawan. Alih-alih mengasingkan diri dari Perancis selayaknya para desainer lain, Chanel pindah dan menetap di Hotel Ritz Paris yang juga beroperasi sebagai markas besar militer Jerman. Desas-desus yang beredar, hubungan romansanya dengan seorang prajurit Jerman, Hans Guther von Dincklage, membuat Chanel berafiliasi dengan Nazi.

Forbes mencatat hubungan romantis Chanel dengan Dincklage saat Perang Dunia II terdokumentasikan dengan rapi. Beragam bukti bahkan mengindikasikan bahwa Chanel tidak hanya menjadi kekasih Dincklage, tetapi juga turut bekerja sebagai intelijen Nazi.


Buku yang ditulis oleh seorang jurnalis investigatif, Hal Vaughan, Sleeping with The Eenemy: Coco Chanel’s Secret War (2011) mengkonfirmasi bukti-bukti keterlibatan Chanel di berbagai misi Nazi. Chanel diisukan memiliki nomor agen (F-7124) and kode nama “Westminster”, diambil dari hubungan romansa dengan kekasih sebelumnya, Duke of Westminster. Vaughan mengatakan pada The New Yorker bahwa terdapat beberapa misi yang diemban oleh Chanel dan Dincklage. Salah satunya, keduanya ditugaskan untuk merekrut agen-agen baru di seluruh Eropa untuk pemerintahan fasis Jerman.

Setelah perang berakhir, Chanel sempat ditangkap dan diinterogasi oleh pengadilan Perancis mengenai hubungannya dengan Dincklage. Chanel berhasil lolos dari tuduhan sebagai kaki tangan Nazi. Banyak yang menduga ia bisa lolos karena campur tangan dari Winston Churchill, kawan Chanel.

Dalam bukunya, Vaughan juga membahas mengenai alasan mengapa keluarga Wetheimer bersedia mendanai kembalinya Chanel ke industri fesyen pada 1954. Terlepas dari perilaku Chanel selama Perang Dunia II yang membuatnya dianggap pengkhianat negara oleh sebagian besar masyarakat, keluarga Wertheimer akhirnya memutuskan untuk membiayai seluruh pembangunan ulang label mode “Chanel” dan membayar tagihan Coco Chanel selama sisa hidupnya.

“Dari perspektif keluarga Wetheimers, keputusan ini sepenuhnya logis. Apa yang mereka lakukan tidak sebatas membeli bisnis, tetapi membeli seluruh imperium untuk seumur hidup, dan memang itulah yang terjadi,” kata Vaughan kepada The New Yorker.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Windu Jusuf
DarkLight