Cinta dan Rivalitas: Bromance di Dunia Politik

Sukarno dan Hatta; 1949. FOTO/Istimewa
Oleh: Eddward S Kennedy - 16 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Fidel Castro dan Che Guevara pernah menumbangkan rezim diktator Fulgencio Batista di Kuba.
Seandainya Karl Marx dan Friedrich Engels tidak menjadi bromance, amat mungkin Das Kapital tidak akan pernah terbit dan cita-cita komunisme hanya selesai dalam khayalan.

Pertemuan pertama kali kedua karib ini terjadi pada akhir tahun 1842 di kantor koran Rheinische Zeitung di Köln, Jerman. Marx kala itu menjabat sebagai editor di koran tersebut, dan baru meraih gelar sebagai doktor filsafat, namun ditolak menjadi dosen di sebuah kampus di Berlin. Pertemuan itu berlangsung singkat belaka. Engels tak lama harus kembali lagi ke Inggris.

Berbeda dengan Marx yang hidup berkalang kemiskinan nyaris sepanjang hayat, Engels adalah anak yang dibesarkan dari keluarga aristokrat: bapak dan kakeknya seorang pebisnis sukses di industri tekstil di Manchester. Akan tetapi, besar dengan kerap menyaksikan para pekerja pabrik yang dieksploitasi terus-menerus tanpa jaminan keamanan, nurani Engels kian terusik dan memutuskan untuk berbuat sesuatu.

Maka Engels pun mulai berjejaring dengan kalangan serikat pekerja di Inggris atau yang pada masa itu disebut orang-orang Chantis. Kelompok ini sebelumnya juga telah menggalang pemogokan umum di segitiga kota industrial Inggris: Manchester, Lancasshire, dan Chesire. Engels pun turut berkenalan dengan Mary Burns, seorang aktivis gerakan buruh yang namanya cukup disegani kala itu. Tak cukup sampai di situ, Engels juga melahap segala laporan inspektorat kesehatan, catatan-catatan lapangan kehidupan kaum pekerja, dan intens berinteraksi dengan mereka.



Melalui sederet pengalaman tersebut, ditambah dengan bacaannya yang fokus kepada ekonomi-politik, Engels kian mengukuhkan diri sebagai intelektual muda kritis dengan sederet karya pilih tanding: dari "Outlines of a Critique of Political Economy" (1843), hingga Condition of The Working Classes in England, riset lapangannya mengenai kondisi para pekerja pabrik di kantung-kantung industri Inggris, yang terbit dua tahun setelahnya.

Marx, yang kemudian turut membaca berbagai tulisan Engels, sontak terkesima dengan rangkaian gagasan analitik calon kawan seumur hidupnya itu. Bahkan konon, sebab karya-karya Engels pula ia banting setir dari studi filsafat ke kritik ekonomi-politik, sebelum memutuskan keluar dari Rheinische Zeitung usai korannya disensor pemerintah karena artikel-artikelnya yang kritis. Ketika kemudian mereka bertemu kembali Paris, persekutuan abadi keduanya pun dimulai.

Karya pertama yang dihasilkan dari kolaborasi Marx-Engels adalah "Die heilige Familie (The Holy Family)": sebuah risalah polemik yang ditujukan kepada bekas kawan-kawan Hegelian mereka di Berlin, wabilkhusus Bruno Bauer, seorang teolog radikal Jerman pada abad pertengahan. Melalui buku ini, bromance antara Marx dan Engels kian erat dan membuat mereka seperti ketagihan membuat lebih banyak karya monumental lainnya, seperti German Ideology, The Communist Manifesto, hingga Das Kapital yang mengguncang sejarah peradaban manusia itu.

Dari Che dan Fidel hingga Obama dan Biden


Jika ada kisah bromance lain yang bisa menandingi relasi Marx dan Engels, maka sudah pasti bromance antara Che Guevara dan Fidel Castro adalah jawabannya.

Perjumpaan kedua ikon revolusi ini terjadi setelah setahun Fidel (bersama 25 orang lainnya) dipenjara usai gagal melakukan serangan ke barak Moncada pada 1953 silam untuk menggulingkan Presiden Kuba, Fulgencio Batista. Selepas dari penjara, Fidel beberapa kawannya melakukan ekspedisi ke Meksiko, dan di sanalah ia pertama kali mengenal laki-laki Argentina bernama Ernesto Guevara de la Serna atau yang punya nama akrab: Che.

Pada tahun ketika Fidel dipenjara, Che kala itu tengah melakukan petualangan keliling Amerika Latin bersama seorang kawannya, Alberto Granado, dengan menggunakan motor Norton 500 cc yang mereka beri nama La Poderosa. Berangkat dari Buenos Aires, kedua sohib ini menelusuri Chile, Peru, Ekuador, Kolombia, Venezuela, Panama, Miami, dan terakhir Florida. Lalu usai merampungkan pendidikannya pada 1953, Che kembali memutuskan berpetualang.

Pengalamannya menyaksikan revolusi di Guatemala dan hasrat pembebasannya yang menggebu, membuat Che tak ragu bergabung dalam kelompok Gerakan 26 Juli yang digagas Fidel untuk kembali ke Kuba untuk menggulingkan kepemimpinan diktator Batista di Kuba. Lewat cara perang gerilya bersama 82 kombatan lain, upaya penggulingan Batista itu pun berhasil. Fidel lantas menjadi pemimpin Kuba dan segera mengubah sistem negara itu menjadi sosialisme dengan satu partai. Sementara Che lantas didaulat menjadi Menteri Industri dan Pemimpin Bank Sentral.

Pada tahun 1965, Che membuat kabar mengejutkan dengan meletakkan jabatan tersebut. Alasannya: ia sudah kebelet betul untuk kembali menyebarkan revolusi. Hanya saja, kali ini kisahnya berbeda. Setelah gagal di Kongo, bertahun-tahun setelahnya Che hijrah ke Bolivia untuk memimpin pasukan memberontak terhadap pemerintah René Barrientos Ortuño.



Hingga kemudian, pada pagi hari 8 Oktober 1967, ia ditangkap pasukan Bolivia dan Ortuño pun memerintahkan eksekusi mati terhadap Che. 24 jam berselang, 9 Oktober 1967, berlokasi di di La Higuera, sebuah desa di Bolivia, eksekusi itu dilakukan oleh Mario Teran, seorang sersan tentara Bolivia berusia 31 tahun, yang memang telah mengajukan diri secara pribadi untuk menembak Guevara. 49 tahun kemudian, 30 November 2016, Fidel meninggal. Dan kedua karib itu pun kembali bertemu di pemakaman yang sama di Santa Clara.



Kisah bromance yang menggugah dalam sejarah politik dunia juga pernah melibatkan presiden kedua dan ketiga AS: John Adams dan Thomas Jefferson. Kendati mereka memiliki perbedaan pandangan politik (Adams seorang Federalis dan Jefferson Anti-Federalis), keduanya adalah sahabat pena yang amat akrab.

Adams bahkan pernah menulis kepada Jefferson: “Saling berkirim surat denganmu adalah salah satu peristiwa yang paling menyenangkan dalam hidupku."

Dan pada 4 Juli 1826--peringatan 50 tahun penandatanganan Declaration of Independence--Adams dan Jefferson sama-sama wafat hanya berselang satu jam saja.

Masih dari AS, bromance antara Barack Obama dan Joe Biden juga merupakan kisah yang tak dapat dilewatkan. Sebelum menjadi Presiden dan Wakil Presiden AS, Obama dan Biden sejatinya pernah menjadi rival saat pemilihan calon presiden dari Partai Demokrat tahun 2007. Namun, sejak mereka memimpin AS pada 2009, keduanya lebih mirip seperti dua bocah akrab. Dalam wawancara dengan People, Jill Biden, istri Joe, turut mengamini bromance keduanya: “Saya kira mereka memang mencintai satu sama lain.”

Ketika Obama berulang tahun ke-55, 4 Agustus 2016, Biden bahkan memberikan hadiah unik: gelang persahabatan dengan ukiran nama Joe dan Barack. Melalui akun Twitter resminya, Biden mengunggah foto gelang tersebut dengan membubuhkan cuitan: “Selamat ulang tahun ke-55, Barack. Saudaraku, sahabatku selamanya.”

Indonesia sebetulnya juga punya banyak kisah political bromance yang tak kalah sedap. Selain, tentu saja, Soekarno dan Mohammad Hatta, juga ada Ahok dan Djarot. Ketika Djarot datang ke Lapas Cipinang untuk menjenguk Ahok yang terkena kasus penistaan agama, ia bahkan menjaminkan namanya sendiri kala menandatangani surat permohonan jaminan penangguhan penahanan.

"Jaminannya saya atas nama pribadi dan Wakil Gubernur. Kalau sampai ada apa-apa saya yang akan menjamin," ujar Djarot kala itu seperti dilaporkan BBC.

Love–hate relationship antara Presiden Joko Widodo dengan calon presiden yang dikalahkannya dalam dua Pilpres berturut-turut 2014 & 2019, Prabowo Subianto, sebetulnya juga layak dianggap sebagai kisah political bromance di Indonesia yang menarik. Sebelum jadi rival di kancah Pilpres, Prabowo adalah yang mendukung pasangan Jokowi - Ahok ketika berlaga di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 silam.

Hubungan itu lantas berubah arah menjadi rival. Namun usai laga panas dua kali pemilihan Presiden, akhirnya kedua tokoh itu bertemu serta berpelukan di atas MRT sebagai bentuk rekonsiliasi.

Baca juga artikel terkait SOEKARNO atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Politik)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight