Cina Siap Luncurkan Kapal Induk Ketiganya Akhir 2020

Oleh: Ahmad Efendi - 19 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pembangunan kapal perang itu Cina yang ketiga dilaporkan berjalan lancar dan dapat diluncurkan pada akhir tahun 2020.
tirto.id - Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA), yang merupakan Angkatan Laut terbesar di dunia, siap meluncurkan kapal induk ketiganya yang kemungkinan akan dilangsungkan bulan ini.

Menurut laporan oleh China's Ordnance Industry Science Technology, sebuah majalah pertahanan yang berbasis di Xi'an, pada Agustus lalu menyatakan bahwa pembangunan kapal perang itu “berjalan lancar" dan dapat diluncurkan pada akhir tahun 2020, atau paling lambat pada awal 2021.

Mengutip laporan Global Times, pada Mei lalu, The Shipyard, anak perusahaan negara China State Shipbuilding Corp Ltd, telah meluncurkan dry dock apung besar pertamanya dengan panjang 250 meter, lebar 60 meter, kedalaman tujug meter serta draft 4,8 meter, untuk mengangkut modul kapal ultra-besar.

Sementara lebih lanjut, pembangunan kapal perang tersebut akan selesai pada bulan ini atau Desember nanti, dan setelah peluncurannya akan dilanjutkan dengan tahap fitting-out.

Liaoning dan Shandong

Cina sendiri sebenarnya telah memiliki dua kapal induk. Kapal induk pertama adalah Liaoning, yang ditugaskan pada 2012 lalu, sementara pada 2017 mereka meluncurkan kapal induk keduanya, Shandong.

Baik Liaoning dan Shandong didasarkan pada kapal induk kelas Kuznetsov, rancangan Soviet pada 1980-an.

Mengutip laman dari lembaga think tank, Chinapower.csis.org, Liaoning awalnya dibangun sebagai kapal penjelajah pembawa pesawat untuk Angkatan Laut Soviet. Kapal itu dinamai ‘Riga’ dan berganti nama menjadi ‘Varyag’ pada tahun 1990.

Cina membeli lambung yang tidak lengkap dari Ukraina pada tahun 1998, untuk kemudian melakukan reparasi selama hampir satu dekade, dalam upaya mereka mengubah kapal tersebut menjadi kapal induk yang sebenarnya.

Reparasi yang dilakukan meliputi modernisasi ekstensif pada bagian lambung kapal, radar, dan sistem elektroniknya. Setelah bertahun-tahun diperbaiki, Liaoning ditugaskan ke PLAN pada September 2012.

Lima tahun setelah menugaskan kapal induk pertamanya, Cina selanjutnya meluncurkan kapal induk keduanya, Shandong, pada 26 April 2017.

Tidak seperti pendahulunya yang dibuat oleh Soviet, Shandong adalah kapal induk pertama yang dibuat di dalam negeri.

Kedua kapal induk memiliki ukuran yang sama dan menggunakan sistem STOBAR (Short Take-Off But Arrested Recovery) untuk peluncuran dan pemulihan pesawat.

Meskipun mirip dengan Liaoning, Shandong menampilkan beberapa peningkatan penting, dan merupakan langkah krusial dalam mengembangkan program kapal induk Cina.

Shandong ditugaskan ke Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada 17 Desember 2019, di Sanya di provinsi pulau Hainan. Sebelum ditugaskan, Shandong menjalani sembilan uji coba laut selama 18 bulan.

Bagaimana dengan kapal induk ketiga?

Hingga saat ini, belum ada gambaran pasti terkait kapal induk ketiga Cina, yang dinamai dengan tipe 003. Namun, beberapa pakar militer yang tidak ingin disebut namanya, mengklaim kapal induk yang dibangun Angkatan Laut akan jauh “lebih besar, lebih datar, dan lebih modern.”

Menurut Business Insider, pakar juga menggklaim bahwa kapal induk ketiga China akan dibekali pula ketapel elektromagnetik jarak jauh yang halus, serupa kapal induk kelas USS Gerald R Ford milik Amerika Serikat. Ketapel elektromagnetik menghasilkan peluncuran pesawat yang lebih lancar dan mulus

Lembaga think tank CSIS juga memperkirakan, berdasarkan foto dari citra satelit, panjang blok lambung kapal tersebut sekitar 297 meter, atau 974 kaki. Sebagai perbandingan, panjang Ford 1.106 kaki.

Menanggapi upaya serius dari Cina, Komandan Pasukan Armada AS, Laksamana Chris Grady mengatakan bahwa langkah itu justru menjadi pemicu komitmen Lngkatan Laut AS untuk membangun lebih banyak kapal induk Amerika di masa depan.

“Bagus untuk mereka. Itu membuat argumen bahwa kapal induk itu penting,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman resmi U.S. Naval Institue. “Kami memilikinya. Mereka menginginkannya dan mereka sedang membangunnya."

Ia memamahi, sebagai salah satu kekuatan maritim terbesar, Cina paham akan nilai besar yang berasal dari penerbangan kapal induk. Namun, menurutnya, membangun kapal besar berbeda dengan membangun ekosistem.

“Silakan dan bangun kapal besar itu, tetapi untuk membangun ekosistem yaitu penerbangan angkatan laut yang menghidupkan kapal itu, akan membutuhkan banyak kerja keras dan waktu. ” Pungkasnya.


Baca juga artikel terkait KAPAL INDUK CINA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight