Cina Pamerkan Robot yang Tawarkan Bantuan Hukum ke Klien

Oleh: Maya Saputri - 5 Maret 2017
Di Cina mulai dipamerkan robot dengan kecerdasan artifisial (AI) yang tampil perdana di Provinsi Hubei untuk memberikan bantuan hukum, Sabtu (4/3/2017).
tirto.id - Robot dengan kecerdasan artifisial tampil perdana di Provinsi Hubei, Cina menunjukkan kemampuannya memberikan bantuan hukum, Sabtu (4/3/2017).

Robot FaGouGou didukung 30 juta kasus dan data legal raksasa, meliputi perkara kriminal, perburuhan, perkawinan, dan lalu lintas, kata Liu Qian, salah satu pengembang robot tersebut.

Robot itu memberikan layanan konsultasi dan penggalian data bagi para pengacara dan klien.

Para pengembang mengatakan versi baru robot itu akan dikembangkan khusus untuk menawarkan bantuan legal bagi publik.

Robot ini unggul dalam AI (Artificial Intelligence) penyimpanan, kekuatan komputasi dan bantuan peradilan, kata Xiong Minghui, profesor di Sun Yat-sen University di Provinsi Guangdong, sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

Sebelumnya, Tirto pernah membahas mengenai robot-robot pekerja yang lambat laun menggantikan pekerjaan manusia dalam beberapa bidang.

Dalam artikel tersebut menjelaskan mengenai perubahan dunia yang saat ini sudah berada di era robot. Perusahaan-perusahaan menggantikan sebagian kerja-kerja manusia dengan robot.

Kabar paling hangat datang dari perusahaan manufaktur elektronik terbesar di dunia, Foxconn Technology Group. Baru-baru ini, Foxconn menggantikan 60.000 buruh pabriknya dengan robot.

Tahun lalu, Boston Consulting Group (BCG) mempublikasikan riset yang memprediksi adanya penurunan biaya operasional karyawan hingga 16 persen jika sebuah perusahaan menggunakan tenaga robot. Dalam risetnya, BCG mewawancarai 21 jenis industri di 25 negara.

Menurut hitung-hitungan bisnis, dalam jangka pendek, investasi pada robot tentu akan mempengaruhi cashflow. Namun, untuk jangka panjang, pekerja robot dinilai lebih murah seiring terus meningkatnya biaya buruh.

Dalam pernyataan resminya, Foxconn menyatakan robot-robot itu akan mengerjakan pekerjaan yang sifatnya pengulangan. Sementara para pekerja manusia akan lebih fokus pada kontrol kualitas, pengembangan, inovasi, penelitian, dan hal-hal lain yang memiliki nilai tambah.

Sebuah laporan dari Deloitte dan Oxford University juga menyebutkan dalam 20 tahun ke depan, sebanyak 35 persen jenis pekerjaan sedang dalam risiko. Para buruh pabrik terancam kehilangan pekerjaan.

Baca juga artikel terkait ROBOT PEKERJA atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri