Menuju konten utama

Cina dan Ramalan Bonaparte

Jauh sebelum Cina jadi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi mengagumkan, Napoleon Bonaparte pernah meramal nasib Negeri Tirai Bambu tersebut. Kini, ramalan sang ahli strategi perang Perancis ini terbukti.

Cina dan Ramalan Bonaparte
Bendera nasional Cina di antara lanskap Shanghai Lujiazui. [Foto/Shutterstock]

tirto.id - “Cina adalah raksasa yang tertidur. Biarkanlah ia tertidur karena ketika ia terbangun maka ia akan menggentarkan dunia,” kata Napoleon Bonaparte sesaat setelah ia pulang dari Cina.

Napoleon Bonaparte tidak hanya ahli strategi militer yang terus dikenang, tetapi juga seorang peramal ulung. Setelah 195 tahun kematiannya, ucapan Bonaparte itu terbukti benar. Cina kini telah menjadi satu salah satu kekuatan dunia, meski dulunya merupakan negara yang tertinggal.

Data dari Bank Dunia menunjukkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Cina dari 2009 hingga 2015 mengalami peningkatan pesat. Pada 2009, angkanya hanya $5,05 triliun. PDB Cina terus meningkat menjadi $10,866 triliun pada 2015.

Tidak sampai di sini saja, kebenaran akan ramalan Bonaparte terhadap Cina dapat dilihat pula pada krisis global yang terjadi pada 2008.

Dalam tulisan Wayne M. Morison (Specialist in Asian and Trade Finance) yang berjudul China and Global Finance Crisis: Implications for United States disebutkan bahwa Cina lah yang membantu Amerika Serikat keluar dari krisis ekonomi global pada 2008. Cina membantu Amerika dengan membeli saham-saham serta surat berharga Amerika Serikat.

Masih dari sumber yang sama, Presiden Bush pada 21 September 2008 disebut menelepon Presiden Cina pada saat itu, untuk meminta bantuan Cina dalam mengatasi krisis yang terjadi di Amerika Serikat.

“Maksud dari panggilan (telepon) tersebut adalah untuk meminta bantuan Cina dalam mengatasi bantuan keuangan, bahkan mendesak Cina untuk membeli aset serta obligasi AS,” kata seorang pejabat perdagangan Cina yang tidak ingin disebutkan namanya.

Cina saat ini adalah raksasa besar yang bermain dalam panggung ekonomi global. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dedikasi Deng Xiaoping pada 1978, dengan merevolusi sistem ekonomi Cina. Kebijakan satu negara dua sistem (Yi Guo Liangce), yaitu sistem kapitalis (bidang ekonomi) berdampingan dengan sistem politik sosialis telah mengantarkan China sebagai negara yang kita kenal sekarang.

Cina dan Pengaruhnya

Cina memang tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Seperti dilansir dari BBC, bila terjadi turbulensi di Cina, maka mau tidak mau akan menyeret perekonomian negara-negara di Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

Hal ini disebabkan karena Cina membeli barang mentah atau setengah jadi dari seluruh negara dunia. Jika Cina mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, secara otomatis Cina akan mengurangi belanja barang mentah atau setengah jadi dari setiap negara. Kondisi ini tentu saja akan berdampak pada penurunan ekspor dari tiap-tiap negara.

Demikian pula ketika pasar saham Cina mengalami turbulensi, maka kekacauan juga terjadi di sebagian besar bursa saham dunia. Misalnya pada 25 Agustus 2015, ketika indeks saham Cina mengalami penurunan sebesar 6 persen, perdagangan saham di bursa utama dunia seperti Jepang dan Amerika juga terkena imbasnya. Termasuk Indonesia, yang ketika itu sempat mengalami pelemahan nilai tukar rupiah dan juga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Selain itu dengan peran Cina dalam organisasi internasional maupun regional, turut mempengaruhi sistem atau tatanan internasional. Tepatnya pada 4 November 2004, Cina dan ASEAN menandatangani perjanjian perdagangan bebas yang kemudian dikenal dengan CAFTA (China Asean Free Trade Area). Selain dengan Asia Tenggara, Cina juga menjalin kerja sama perdagangan bebas dengan Uni Eropa, Amerika, dan Australia.

Cina kini merupakan Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Economist Intelegent Unit memprediksi bahwa Cina akan mampu melipatgandakan PDB-nya menjadi $105,19 triliun serta menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat pada 2050.

Berdasarkan catatan dari Bank Dunia pada 2015, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama ekonomi dunia dengan PDB sebesar $17,946 triliun. Cina ada di posisi kedua dengan PDB $10,866 triliun mengalahkan saudara sepupunya yaitu Jepang yang berada di peringkat ketiga dengan PDB sebesar $4,123 triliun.

Strategi China

Saat Deng Xioping menerapkan Yi Guo Liangce, terjadi perubahan besar pada Negeri Tirai Bambu tersebut. Sistem kapitalis yang menopang perekonomian Cina, dengan cara membebaskan masyarakatnya dalam berbisnis memberikan dampak yang besar bagi ekonomi mereka.

Xiomi, Oppo, Lenovo, Huawei, HTC merupakan brand-brand elektronika buatan Cina yang tak asing bagi telinga masyarakat Indonesia. Tapi tahukah bahwa barang-barang tersebut dibuat oleh industri rumahan?

Yasheng Huang dalam tulisannya Capitalism With Chinese Characteristics: Enterpreneurship and the State, mengatakan bahwa pada Maret 1984, Deng Xioping memanfaatkan UKM (usaha kecil menengah) serta bisnis swasta daerah untuk menopang perekonomian Cina, yang kemudian dikenal dengan Township and Village Enterprises (TVEs).

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa produk dari Cina selalu terbilang murah. Karena mayoritas yang menjalankan perputaran ekonomi adalah bisnis swasta daerah dan UKM yang tersebar di beberapa provinsi seperti Guangdong, Fujian, Zhejiang, Jiangsu, dan Shandong. Peran dari pemerintah adalah mendukung serta membiayai dengan cara pemberian pinjaman kepada pelaku bisnis.

Sebagai bukti pemerintah Cina mendukung program TVEs, maka setiap tahunnya diberikan pelatihan kepada 200.000 pemuda desa berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya, tulis Pamuji dalam bukunya yang berjudul "Diplomasi China, Indonesia dan Presiden Baru". Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah Cina juga bekerja sama dengan lembaga riset baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengembangkan teknologi yang kemudian akan dipakai di pedesaan ataupun oleh industri rumahan.

Melihat strategi Cina dalam membangun perekonomiannya dengan cara memanfaatkan industri rumahan bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk mengikuti jejaknya. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah UMKM Indonesia pada tahun 2014 adalah sebanyak 56.534.592. Jumlah tersebut sedianya bisa menjadi modal untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika dukungan dan fasilitasinya berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengejar kekuatan Cina.

Baca juga artikel terkait EKONOMI atau tulisan lainnya dari Sammy Mantolas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Sammy Mantolas
Penulis: Sammy Mantolas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti