Cibiran & Stigma Jadi Alasan Masyarakat Permisif Sikapi Bunuh Diri

Oleh: Gilang Ramadhan - 1 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Belum ada penelitian khusus mengenai potensi bunuh diri seseorang dari aktivitasnya di media sosial di Indonesia.
tirto.id - Pekan lalu, Kamis (24/1/2019), seorang mahasiswa berinisial ADA ditemukan tewas karena menenggak arsenik di kontrakannya di Tangerang, Banten. Mahasiswa berusia 21 tahun itu diduga bunuh diri karena depresi.

Sebelum minum racun, ADA sempat menulis twit terakhir di akun twitter-nya. “gua gamau terus menerus jadi benalu di lingkungan gua, so kayanya lebih baik gua enyah dari muka bumi ini. bye!”

Tak lama setelah berita bunuh diri ADA menyebar, kicauan tersebut viral. Tweet ADA di-retweet lebih dari tiga ribu pengguna twitter. Unggahan tersebut juga mendapat beragam komentar dari warganet.

Sebagian besar warganet menyampaikan ungkapan bela sungkawa sekaligus menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran.

"Kalau ada temen bikin status/twet begini paling dikatain caper. Kalau bunuh diri beneran baru simpatik terus nyesel. Rest in peace, Afif," twit akun @alifafadhila.

Tak sedikit juga komentar yang mengingatkan warganet lain buat segera berkonsultasi ke klinik psikologi atau komunitas pencegahan bunuh diri jika mengalami depresi.

ADA bukan satu-satunya yang mengumumkan bunuh diri melalui media sosial. Pada 2017, seorang pria asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, gantung diri sambil live streaming di Facebook. Sebelum siaran langsung, pria tersebut juga mengunggah video berisi pengakuan mengapa ia bunuh diri.

Menurut Koordinator Into The Light Indonesia -- komunitas pencegahan bunuh diri, Benny Prawira Siauw, sulit untuk menakar potensi bunuh diri seseorang dari aktivitasnya di media sosial. Sebab, belum ada penelitian khusus terkait hal tersebut di Indonesia.

"Kecuali di Tiongkok. Temuan riset itu menyatakan bahwa mereka yang memiliki mood negatif dan pemikiran bunuh diri yang lebih kuat akan cenderung melakukan komunikasi mengenai kondisi bunuh dirinya di medsos," ujar dia kepada reporter Tirto, Rabu (30/1/2019).


Stigma Masyarakat


Benny menilai sejauh ini masyarakat masih menganggap wajar bila ada seseorang yang sedang mengeluhkan kondisi jiwa yang berpotensi bunuh diri. Bahkan itu dianggap sebagai curahan hati biasa.

Posisi orang yang punya kecenderungan bunuh diri, kata dia, masih mendapat stigma dari masyarakat, terutama saat menyampaikan kondisi yang mengarah ke bunuh diri melalui media sosial.

"Berisiko dihakimi dan tidak diacuhkan di lingkungan yang stigmatis. Jadi orang-orang mikirnya [orang yang hendak bunuh diri] mau cari perhatian atau pansos (cibiran di media sosial) saja," ujarnya.

Menurut Benny, masih ada kesempatan untuk mencegah dengan merangkul seseorang yang berpikiran untuk bunuh diri lewat komunikasi di media sosial. "Artinya kita masih dipercaya untuk menolong dan dia masih berjuang untuk hidup.”

Benny menekankan, seorang pendamping harus punya kesabaran penuh dalam menghadapi seorang yang hendak bunuh diri, sebab konsultasi dengan psikiater juga belum tentu langsung bisa hilang kecenderungannya untuk bunuh diri.

"Bahkan ketika datang ke profesional kesehatan jiwa sekali pun, butuh waktu, tenaga, dan banyak hal dalam menghadapi orang yang suicidal. Perlu kita pupuk dengan dukungan agar proses pemulihan berjalan baik," jelasnya.

Ia mengimbau Masyarakat aktif mencegah orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri yang ditemukan di media sosial. Bukan justru menghakiminya.

Infografik Tunggal yang harus dihubungi ketika ingin bunuh diri
undefined



Minimnya Peran Pemerintah


Pada sisi lain, Benny menyesalkan minimnya peran pemerintah dalam pencegahan kasus bunuh diri. Ia berharap pemerintah bisa berperan lebih aktif.

Salah satu caranya, kata dia, pemerintah perlu membuka kembali layanan hotline konseling masalah kejiwaan. Layanan itu telah ditutup sejak beberapa tahun lalu.

"Pemerintah harus lebih sigap lagi dengan menyediakan layanan krisis baik via hotline, telepon gratis dan juga akun media sosial yang khusus melayani krisis kesehatan jiwa ini," ujar Benny.

Hal senada juga disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Nova Riyanti Yusuf. Nova menyesalkan Hotline 500-454 atau Hotline ASA sebagai layanan konseling pencegahan bunuh diri oleh Kementerian Kesehatan sudah tidak aktif lagi. Padahal, kata Nova, perannya sangat dibutuhkan menanggapi berbagai keluhan masyarakat yang berpotensi bunuh diri.

"Saya agak malu, waktu Chester Linkin Park bunuh diri, terus ada nomor telepon hotline service dari seluruh dunia. Eh, Indonesia tidak ada," ujarnya kepada reporter Tirto, Rabu (30/1/2019).

Hotline ASA milik Kemenkes tersebut muncul pada Oktober 2010 berbarengan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Namun keberadaannya hanya bertahan empat tahun atau tepatnya pada 2014 akhir.

"Yang waktu itu mendesak hotline tersebut ada, itu saya dan kawan-kawan Komisi IX pada tahun 2010. Eh sebentar saja sudah tidak aktif lagi. Saya kira akan diperbaiki. Ternyata sampai sekarang belum juga revitalisasi," ujarnya.

Nova juga menyayangkan, pada akhirnya layanan konseling pencegahan bunuh diri dialihkan Kemenkes ke nomor 199, yang menurutnya tidak efektif.

"Itu bukan hotline service untuk bunuh diri. Salah-salah kasih nasihat orang malah bunuh diri beneran," kata dia.

Sekretaris Jenderal Kemenkes, Oscar Primadi berjanji mengkaji usulan agar layanan hotline ASA dihidupkan kembali setelah lama vakum. Kajian itu terutama soal kebutuhan biaya operasional dan manajemen layanan.

"Kami akan kaji lagi. Yang menyangkut pelayanan masyarakat itu pasti diperlukan," ujar Oscar.

=====

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI atau tulisan menarik lainnya Gilang Ramadhan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Gilang Ramadhan
Editor: Gilang Ramadhan