23 Oktober 1910

Chulalongkorn Mengunjungi Jawa dan Sejarah Dinasti Chakri Thailand

Ilustrasi Mozaik Raja Chulalongkorn. tirto.id/Teguh
Oleh: Petrik Matanasi - 23 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Chulalongkorn adalah Raja Thailand yang pernah mengunjungi Jawa sebanyak tiga kali dan menghadiahkan patung gajah kepada pemerintah Hindia Belanda.
Dinasti Chakri adalah dinasti raja-raja Siam yang didirikan oleh seorang tentara bernama Thongduang. Seperti banyak anak di negerinya, Thongduang sempat belajar di kuil Buddha. Ayah Thongduang adalah anak seorang pegawai dari Kerajaan Ayutthaya bernama Thongdi alias Somdet Phra Prathom Borom Maha Rajchanok, dan ibunya bernama Daoreung. Kerajaan Ayutthaya berakhir ketika Taksin menjadi raja di Thonburi—seberang kota Bangkok yang dibatasi Sungai Chao Phraya.

“Thongduang, keturunan dari salah satu keluarga Mon yang masih hidup dari elite lama, tetapi dengan seorang ibu Cina, telah bergabung dengan pasukan Taksin sebagai jenderal tepercaya,” tulis Anthony Reid dalam A History of Southeast Asia: Critical Crossroads(2015:215).

Chris Baker dan Pasuk Phongpaichit dalam A History of Ayutthaya (2017:267) menyebutkan bahwa Thongduang menyusul kesuksesan saudara-saudaranya sebagai komandan militer. Thongduang, seperti dicatat Patit Paban Mishra dalam The History of Thailand (71-72), menaklukkan Vientiane pada 1778.

Pada 1781, Bunma dan Thongduang memimpin pasukan ke Kamboja. “Ketika tentara kembali ke Thonburi, keponakan Thongduan, yang adalah gubernur Khorat, diam-diam pindah ke Thonburi untuk menyiapkan kudeta,” catat Chris Baker dan Pasuk Phongpaichit (2017:268).

Kekacauan pun terjadi, tetapi Thongduang berhasil menguasai keadaan. Sejak 10 Juni 1782, Thongduang menjadi raja dan memakai nama Ramathibodi—pendiri Kerajaan Ayutthaya—dan dikenal sebagai Rama I, pemula dinasti Chakri.

Rama I bertakhta hingga 1809, sampai dia tutup usia pada 7 September 1809. Thongduang memiliki 42 anak dari permaisuri dan selir-selirnya. Anaknya, hasil perkawinan Rama I dengan Amarindra yang bernama Chim naik takhta sebagai Rama II dan berkuasa hingga 1824. Kemudian Nang Klao Chao Yu Hua menggantikannya sebagai Rama III. Setelah bertakhta selama 26 tahun, dari 1824 hingga 1851, Rama III tutup usia dan digantikan adiknya, Maha Mongkut yang berkuasa dari 1851 hingga 1868 sebagai Rama IV.

Maha Mongkut bersahabat dengan para pemimpin sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Prancis. Ia berhati-hati sekaligus terbuka terhadap orang asing yang berdagang di Asia Tenggara.

Menurut Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia (2011:251), seorang pedagang bernama Read “terus-menerus mendorong Raja Mongkut agar waspada terhadap tipu muslihat Prancis dan agar meletakkan kepercayaan yang lebih besar kepada Inggris.”

Raja Mongkut kemudian dikenang lewat film Anna and the King (1999). Anna Leonowens dalam film itu adalah perempuan Inggris yang menjadi guru bagi anak-anak Mongkut, salah satunya Chulalongkorn, yang kelak menjadi raja.

Chulalongkorn naik takhta pada 1868 sebagai Rama V. Dalam The Chakri Monarchs and the Thai People: A Special Relationship (1984:28) disebutkan bahwa selama 42 tahun pemerintahannya, Chulalongkorn membangun sistem kesehatan umum. Penyamarannya sebagai rakyat biasa, membuatnya paham akan kondisi masyarakatnya secara langsung.

Raja Chulalongkorn memang tidak suka sekadar jadi raja yang berdiam di istana. Historical Dictionary of Thailand meyebut Chulalongkorn mengembara di sekitar Bangkok dengan pakaian petani biasa. Ia kemudian menulis buku Far From Home dan The Royal Ceremonies of the Twelve Months, serta 25 volume catatan harian.

Chulalongkorn juga pernah tiga kali mengunjungi Jawa, yakni pada 1871, 1896, dan 1901. Majalah Masyarakat ASEAN Edisi ke-23: Tahun Kebudayaan ASEAN (2020:40) mencatat bahwa pada 1871, setelah mengunjungi Batavia, Raja Siam ini membatik di Semarang. Ia menghadiahkan sebuah patung gajah yang hinggi kini terdapat di depan Museum Nasional, Jakarta. Maka itu, museum ini juga dikenal sebagai Museum Gajah.

Dalam kunjungan-kunjungannya, ia bertemu raja-raja Jawa. Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Bidaya: Batas-batas Pembaratan (2006) mencatat, dalam kunjungan pertamanya Chulalongkorn mengagumi kereta api jurusan Semarang-Kedungjati yang diresmikan pada 1871.

Chulalongkorn tutup usia pada 23 Oktober 1910, tepat hari ini 110 tahun silam. Ia digantikan Maha Vajiravudh sebagai Rama VI yang berkuasa dari 1910 hingga 1925. Pada usia 44 tahun, Rama VI meninggal dunia dan digantikan oleh adik laki-lakinya yang paling kecil, yakni Maha Prajadhipok sebagai Rama VII. Sebuah kudeta yang bernama Revolusi Siam 1932 membuat monarki absolut Siam berubah menjadi monarki konstitusional.




Maha Prajadhipok hanya bertakhta hingga 1935. Posisisnya digantikan oleh keponakannya, Maha Ananda Mahidol, anak dari Pangeran Mahidol Adulyadej dari Songkhla—putra dari Raja Chulalongkorn. Ibu Ananda Mahidol adalah Putri Srinagarindra. Maha Ananda Mahidol pun menjadi Rama VIII.

Ketika menjadi raja, usia Ananda Mahidol belum genap 10 tahun dan masih sekolah di Swiss bersama adiknya, Bhumibol Adulyadej. Di masa Rama VIII, Perang Dunia II berkecamuk. Raja sedang di luar negeri ketika Thailand jadi daerah pendudukan Jepang. Pada masa itu, Pridi Phanomyong menjadi wakil dari raja Thailand.

Setelah Perang Pasifik usai, barulah Rama VIII bisa pulang ke Bangkok. Namun, pada 9 Juni 1946, Rama VIII tewas tertembak secara misterius di kamarnya. Adiknya, Bhumibol Adulyadej yang baru berusia 18 tahun kemudian naik takhta.

Maha Bhumibol Adulyadej sebagai Rama IX berkuasa dari 1946 hingga 2016. Dalam dinasti Chakri, ia raja yang paling lama berkuasa. Dari pernikahannya dengan Ratu Sirkit, Bhumibol Adulyadej punya anak laki-laki bernama Vajiralongkorn yang lahir di Bangkok pada 28 Juli 1952.

Bhumibol Adulyadej tutup usia pada 13 Oktober 2016 dalam usia 88 tahun. Maha Vajiralongkorn, anaknya yang sudah berusia 64 tahun kemudian menjadi raja setelah dinobatkan pada 2019. Di antara raja-raja dinasti Chakri, Vajiralongkorn sebagai Rama X adalah raja yang usianya paling tua ketika mulai bertakhta.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 8 September 2020. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait RAJA THAILAND atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight