Cheongsam Dahulu dan Sekarang

Kontributor: Eyi Puspita, tirto.id - 22 Jan 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Busana tradisional Tiongkok yang telah melewati sejarah panjang dan pernah menjadi simbol perlawanan perempuan.
tirto.id - Akhir tahun lalu, dari September hingga Desember 2022, sebuah pameran bertajuk “Timeless Elegance” digelar di China National Silk Museum di Hangzhou, Tiongkok.

Desainer dari 30 negara dan wilayah telah mempelajari cheongsam atau disebut juga qipao (baca: chi phao) – busana tradisional Tiongkok, menerjemahkannya sesuai perspektif mereka masing-masing, lalu mewujudkannya menjadi busana baru yang terinspirasi oleh cheongsam / qipao. Para desainer berasal dari lima benua: Asia, Eropa, Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Utara.

Pameran ini telah membangun platform untuk interaksi lintas budaya. Desainer Umida Muminova dari Uzbekistan misalnya, menciptakan gaun pengantin dengan membordir elemen tradisional Uzbek yang mirip burung foniks di atas cheongsam beludru merah.


Desainer lain dari Prancis, Françosie Hoffmann, terinspirasi oleh suasana wilayah Jiangnan yang puitis. Ia memakai teknologi cetak digital untuk menciptakan pola riak yang mengingatkan pada bukit dan danau barat (Xi Hu) di Hangzhou. Cheongsam monokrom Hoffmann bahkan membuat pengunjung mengira desainernya adalah orang Tiongkok.

Dafna Stoilkova dari Bulgaria menciptakan busana avant-garde dengan teknologi laser cutting. Menurutnya, pola gelombang pada busana kreasinya menunjukkan potensi eksperimental yang baru dari cheongsam tradisional.

Sementara, desainer Yu Hua membuat cheongsam yang dinamai “Relawan untuk Misi ke Meicheng” untuk memperingati terjadinya wabah covid-19 pada 2020. “Meicheng” berarti kota bunga plum blossom yang mengacu pada Wuhan, tempat kasus pertama covid-19 ditemukan. Yu Hua memang menciptakan desainnya di awal merebaknya wabah ini.


Dari Pembebasan Perempuan Sampai Simbol Borjuis

Cheongsam memang busana tradisional yang tidak hanya dikenal luas, tapi juga banyak dimodifikasi dan dipakai di luar Tiongkok oleh orang dari berbagai negara, termasuk non Tionghoa.

Jika kita mencari di Google dengan kata kunci celebrities in cheongsam, maka foto yang banyak muncul di laman awal justru selebritas Hollywood. Dari Nicole Kidman, Paris Hilton, sampai Emma Watson. Cheongsam modern – atau busana yang terinspirasi oleh cheongsam — juga telah hadir di berbagai runway, termasuk pada pagelaran rumah mode Louis Vuitton.

Namun sebelum menjelma cheongsam yang kita kenal sekarang, yakni berupa gaun terusan berkerah tinggi, berbelahan samping, yang feminin dan mengikuti lekuk tubuh, busana ini telah mengalami sejarah panjang. Pada suatu masa, ia bahkan dikenal sebagai simbol perlawanan kaum perempuan Tiongkok.

Cikal bakal cheongsam berakar dari masa Dinasti Qing (1644—1912). Ketika suku Manchu berkuasa, para pria diwajibkan memakai changpao (jubah panjang), untuk membedakan dari busana suku Han yang berkuasa pada dinasti sebelumnya.

Sementara, kaum perempuan memakai qipao, yaitu gaun panjang longgar yang menyembunyikan lekuk tubuh dengan belahan samping untuk memudahkan gerak. Mereka biasa memakai celana panjang di balik gaun itu. Agar lebih feminin, qipao dihiasi manik-manik, bebatuan, atau bordir.

Ketika Dinasti Qing runtuh, rakyat Tiongkok bertransformasi. Dipengaruhi oleh ide-ide Barat tentang kebebasan dan kesetaraan, para perempuan mulai memprotes patriarki dan budaya tradisional Tiongkok seperti tradisi mengikat kaki perempuan.

Infografik Cheongsam
Infografik Cheongsam. tirto.id/Ecun


Sejak 1910-an, mereka menuntut peran lebih besar di masyarakat. Mereka ingin bersekolah tinggi, berkarier, dan bersuara di luar area domestik. Pada Gerakan 4 Mei 1919, banyak siswa perempuan memakai changpao seperti rekan-rekan pria, juga sebagai bentuk protes.

Pada 1920-an di Shanghai –yang disebut sebagai Paris dari Timur—bentuk qipao (cheongsam) modern seperti yang kita kenal sekarang mulai terbentuk. Di kota persilangan budaya Barat dan Timur ini, gaun panjang ala suku Manchu yang longgar diubah menjadi lebih ramping dan memamerkan bentuk tubuh perempuan.

Lengan baju dibuat lebih pendek dan belahan sampingnya lebih tinggi. Gaya ini dipandang sebagai fashion statement yang merayakan pembebasan feminin, juga sebagai simbol seksualitas dan standar baru modernitas.

Pada 1927, qipao diresmikan sebagai busana nasional perempuan Tiongkok oleh Pemerintah Nasionalis saat itu.

Qipao dipakai sehari-hari oleh perempuan dari semua kelas sosial. Mereka juga memiliki panutan dalam berbusana, antara lain Song Qingling, politisi perempuan dan Madam Wellington Koo, istri menteri luar negeri Tiongkok. Foto ikonis Madam Koo memakai qipao dimuat di majalah-majalah internasional. Antara 1920an—1940an, ia juga dinobatkan sebagai Perempuan Berbusana Terbaik oleh Majalah Vogue.

Citra qipao meredup saat Perang Tiongkok – Jepang meletus pada 1937. Harga kain yang melesat dan situasi tak kondusif membuat desain qipao menjadi sederhana. Lebih fungsional, tidak estetik. Apalagi setelah Komunis berkuasa di Tiongkok pada 1949.

Qipao bahkan dipandang sebagai simbol kaum borjuis. Jas Mao yang monokrom dipakai oleh kaum laki-laki dan perempuan serta dianggap melambangkan kesetaraan di bawah Partai Komunis.

Namun qipao ‘selamat’. Banyak orang kaya Tiongkok yang kabur ke HongKong – saat itu koloni Inggris. Pada 1950—1960an di HongKong, qipao meraih masa keemasan keduanya. Penjahit qipao yang merupakan orang-orang asli Shanghai bermunculan di HongKong.

Kaum pekerja kelas bawah juga belajar menjahit qipao sendiri dengan material yang lebih murah. Karena rata-rata orang HongKong berbahasa Kanton, istilah qipao pun mulai berganti dengan cheongsam (gaun panjang). Warga keturunan Tiongkok di negara lain seperti Singapura dan Taiwan juga mulai memakai cheongsam.

Cheongsam
ilustrasi Cheongsam merah Pakaian Tradisional Cina. FOTO/iStockphoto


Cheongsam Masa Kini

Cheongsam mulai tidak laku pada 1970an karena bersaing dengan fesyen Barat yang lebih nyaman dan membebaskan gerak, seperti T-shirt dan celana panjang.

Namun pada tahun 2000, ketika film “In the Mood for Love” besutan sutradara Wong Kar Wai mulai populer, citra cheongsam pulih kembali. Penonton tersihir oleh aktor Maggie Cheung yang mengenakan 21 macam cheongsam bergaya ‘60-an dalam film itu.

Desainer internasional pun mulai terpikat oleh cheongsam. Mereka menciptakan desain yang terinspirasi atau mengadopsi elemen cheongsam, antara lain kerah tingginya yang kerap disebut kerah Shanghai / Mandarin. Jean Paul Gaultier, Guo Pei, Louis Vuitton dan Yves Saint Laurent adalah beberapa di antaranya.

Di Indonesia, kita mengenal banyak desainer yang juga membuat cheongsam modern. Tina Andrean, salah satunya, pada 2019 lalu menciptakan koleksi cheongsam dengan bahan kain batik tulis Palembang dan Betawi.

Paduan budaya Tionghoa dan Indonesia ini ia ciptakan karena melihat banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang senang berbatik saat Imlek. Sementara desainer Adrian Gan terkenal dengan cheongsam glamor untuk acara formal dengan craftmanship amat rapi.

Dengan populasi WNI keturunan Tionghoa sebanyak 2.832.510 jiwa (data 2010), cheongsam juga menjadi busana yang dicari menjelang Imlek di Indonesia. Walaupun bukan busana wajib, tapi tingkat penjualan cheongsam tahun ini meningkat.

Dilansir dari Radar Solo, pedagang cheongsam di Pasar Gede mampu menjual sampai ratusan helai setiap hari. Tak hanya karena sekolah di Solo menggelar perayaan Imlek, tapi ada pula yang membeli untuk dijual lagi di Kalimantan.

Uniknya, bahkan hingga sekarang, cheongsam masih terus menuai cerita. Pada 2019 lalu, grup musik Little Mix dari Inggris meluncurkan koleksi fesyen yang terinspirasi cheongsam, bernama PrettyLittleThing. Namun koleksi ini diprotes oleh konsumen karena dianggap sebagai perampasan budaya (cultural appropriation). Interpretasi cheongsam dalam koleksi ini dipandang terlalu seksi.

Pemilik akun Twitter Safe Haven Activists mengatakan bahwa koleksi ini – sengaja atau tidak — telah mendukung citra perempuan Asia yang submisif, eksotik, seksi, serta akibatnya mendorong kekerasan dan tindakan fetis pada mereka. Dan semua demi profit semata. Ia mendesak Little Mix untuk menarik koleksi PrettyLittleThing dari pasaran.

Melihat riwayat panjang cheongsam, rasanya tepat bila dikatakan bahwa busana ini telah berevolusi dan beradaptasi melewat berbagai peristiwa sejarah dan kontroversi.

Menjadi simbol perlawanan, kebebasan perempuan, sumber inspirasi kreator seni, serta identitas keturunan Tionghoa, masa depan cheongsam sepertinya masih akan panjang.

Baca juga artikel terkait BISNIS FESYEN atau tulisan menarik lainnya Eyi Puspita
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight