Obituari

Charlie Watts, Drumer The Rolling Stones yang Sangat Mencintai Jazz

Oleh: Petrik Matanasi - 6 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Charlie Watts memang paling dikenal sebagai penggebuk drum The Rolling Stones. Namun, sejak awal dia adalah pencinta musik jazz.
tirto.id - Suatu malam, atau tepatnya selewat dini hari, Mick Jagger dan Keith Richard baru kembali ke hotel mereka. Jagger yang dalam kondisi mabuk tiba-tiba berteriak di depan pintu sebuah kamar. “Apa itu drumerku?” teriaknya.

Ulah Jagger itu tentu saja memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. Tampaknya dia hendak mengajak seseorang dalam kamar itu untuk teler bersama. Si penghuni kamar lalu menghampiri Jagger—bukan untuk menyambut ajakannya, melainkan melayangkan sebuah gebukan.

Jangan sebut aku drumermu lagi!”

Si penghuni kamar itu tak lain adalah Charles Robert Watts atau lebih dikenal dengan nama panggung Charlie Watts, penggebuk drum The Rolling Stones. Kejadian itu berlangsung sekira 32 tahun silam dan dicatat oleh Weekly World News (1 Agustus 1989).

Watts lahir di London pada 2 Juni 1941. Dia berasal dari keluarga buruh. Ayahnya adalah supir di perusahaan kereta api dan ibunya seorang buruh pabrik. Keluarganya pernah tinggal di Islington, London Utara.

Sejak kecil, Watts terbiasa mendengarkan musik jazz dan kemudian jatuh cinta padanya. Salah satu kawan berbagi kuping mendengarkan jazz adalah pencabik bass Dave Green. Jelly Roll Morton and Charlie Parker adalah kesukaannya.

Sebelum bergabung dengan The Stones pun, Watts main drum untuk beberapa band beraliran jazz dan blues. Watts, menurut Phillip Norman dalam The Stones: The Acclaimed Biography (2002, hlm. 75), sangat mencintai jazz di atas genre-genre musik lainnya. Namun, dia tak melihat ada harapan dalam karier musiknya. Musisi blues legendaris Alexis Korner lantas menyarankannya untuk main drum secara permanen di The Rolling Stones.

Watts bukan anggota asli The Rolling Stones di awal pembentukannya. Watts menjadi anggota The Rolling Stones pada 1963 untuk menggantikan posisi Tony Chapman. Setelah dia bergabung, Watts membawa nuansa-nuansa blues ke beberapa musik gubahan The Stones era 1960-an dan 1970-an.

Sebelum total ngeband bareng The Stones, Watts adalah desainer grafis di perusahaan periklanan. Setelah setahun belajar di Harrow Art School, Watts memutuskan cabut dan lalu bekerja di Charlie Daniels Studios. Pekerjaan itu dilakoninya sambil main band bersama Blues Incorporated di kafe dan bar di sekitar London.

Watts bergabung dengan The Stones setelah masuknya Bill Wyman pada akhir 1962. Watts pertama kali tampil sebagai drumer permanen The Stones di Ealing Jazz Club pada 2 Februari 1963. Di masa ini, mulanya band kesulitan menggaji Watts, tapi masalah ini teratasi seiring dengan menanjaknya ketenaran The Stones.

The Rolling Stones lalu masuk dapur rekaman pada awal 1964. Hingga saat kematiannya pada 24 Agustus 2021 lalu, Watts tak pernah absen sekali pun dalam penggarapan semua album The Stones.

Selain menggebuk drum, Watts juga turut andil mendesain untuk keperluan band, di antaranya untuk sampul album Between the Buttons (1967). Di luar The Rolling Stones, Watts pernah terlibat dalam sebuah big band bersama Jack Bruce, Courntney Pine, dan Evan Parker. Dia pernah pula membuat kartun persembahan untuk musisi jazz Charlie Parker.

The Rolling Stones adalah band yang punya reputasi cukup liar. Gosip-gosip bahwa anggotanya adalah pengguna obat terlarang dan terlibat dengan groupies seakan jadi makanan sehari-hari. Di antara anggota band, Watts adalah personel yang paling kalem dan tenang. Beruntungnya The Rolling Stones bukanlah Sex Pistol yang pernah mengganti Glen Matlock yang dianggap terlalu kalem dengan Sid Vicious yang liar.

Infografik Mozaik Melihat batu meluncur
Infografik Mozaik Melihat batu meluncur


Watts memang sempat disebut sebagai pemakai narkoba, tapi pada akhirnya dia mampu mengendalikan dirinya. Dia pun cukup tahan untuk tidak main-main dengan groupies. Beda dari para personel The Stones lain yang kerap kawin-cerai, Watts adalah pria yang setia. Dia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Shirley Ann Shepherd yang dinikahinya pada 14 Oktober 1964.

Watts mengenal Shirley sebelum jadi musisi terkenal dan kaya. Dari perkawinannya dengan Shirley, lahirlah seorang putri yang dinamainya Seraphine.

The Rolling Stones adalah band penting dalam sejarah musik rock dunia. Ia bolehlah disejajarkan dengan The Beatles atau The Who yang juga muncul pada 1960-an. Sebagai drumer, Watts kerap disejajarkan dengan Ringo Stars dari The Beatles dan Keith Moon dari The Who. Pada Juli 2006, majalah Modern Drummer mendaulatnya masuk dalam Modern Drummer Hall of Fame.

Kesuksesan The Stones jauh lebih panjang daripada The Beatles. Sewaktu The Beatles menutup perjalanan bandnya pada 1970, The Stones tetap jalan terus dan memulai era jayanya.

Hingga saat kematiannya, Watts tetap drumer The Stones. Di luar itu, Watts juga mengisi waktunya dengan bermain jazz yang sangat dicintainya. Pada 1980-an, misalnya, dia bermain jazz dalam Charlie Watts Orchestra. Dia juga mengajak kawan masa kecilnya Dave Green bermain dalam sebuah kuintet jazz.

Meski namanya dalam musik jazz tak sebesar di rock n roll, Watts tampak tak ambil pusing dan terus menikmatinya. Jazz seakan jadi dunia lain temapat Watts bersenang-senang, alih-alih mesin penghasil uang.

Di masa-masa senjanya, Watts menjadi pemilik peternakan kuda Arab di Devon. Selain itu, drumer berjuluk The Wembley Whammer ini juga mengelola beberapa lini usaha yang berkait dengan The Rolling Stones.

Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight