8 Februari 1967

Chaerul Saleh: Pendorong Proklamasi yang Dilupakan Negara

Infografik Mozaik chaerul Saleh
Ilustrasi Chaerul Saleh. tirto.id/Gery
Oleh: Petrik Matanasi - 8 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Mantan pemuda
dilupakan negara.
Bilik penjara.
tirto.id - Seorang gadis indo-Belanda bernama Farida pernah meramalkan nasib Chaerul Saleh. Kala itu, di tahun 1950-an, Chaerul sedang jadi mahasiswa di Jerman Barat. “Farida meramalkan padanya dia itu akan menjadi orang penting di Indonesia,” kata seorang peninjau politik kepada Rosihan Anwar.

Rosihan mencatat kalimat itu dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik, 1961-1965 (2006: 111). Meski hanya sehari saja, lanjut ramalan tersebut, Chaerul akan menjadi Presiden Indonesia.

“Chaerul percaya akan ramalan itu dan karena itulah dia kini bersikap amat berhati-hati sambil menunggu waktunya,” kata si pengamat seperti ditulis Rosihan.

Nyatanya, Chaerul, yang dekat dengan Presiden Sukarno, tak pernah satu jam pun jadi presiden. Setelah 1966, nasib baik nyatanya berpihak pada Mayor Jenderal Soeharto. Tapi, Chaerul setidaknya sudah jadi orang penting.

Di akhir pemerintahan Sukarno, Chaerul punya posisi yang tak jauh dari Presiden: dia adalah Wakil Perdana Menteri (Waperdam) III dari 13 November 1963 hingga 22 Januari 1966. Waperdam adalah jabatan unik saat itu karena tidak ada posisi perdana menteri. Hanya ada Presiden Sukarno.

Pada 18 Maret 1966, Chaerul ditangkap dan ditahan. Tuduhan yang dialamatkan padanya, menurut Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2006), “tidak terkait keterlibatan dalam Gerakan 30 September. Melainkan karena sejumlah tuduhan pidana menyangkut penggunaan uang negara” (hlm. 264).


Dasar apes, penyakit jantung yang dideritanya kambuh selama di tahanan. “Dokternya Profesor Hanafiah, kawan saya, keponakannya Chairul Saleh. Dia mengatakan, waktu itu Chairul Saleh kehabisan obat, dan kena serangan jantung, pingsan dia. Sudah dilaporkan ke piket, dan piket sudah melapor ke pimpinan bahwa Chairul Saleh harus dibawa ke rumah sakit. Tapi ditunggu berjam-jam tidak mendapat izin, ya, akhirnya meninggal,” aku Adnan Buyung Nasution dalam Pergulatan Tanpa Henti (2004: 288).

Chaerul Saleh meninggal di penjara pada Rabu pagi tanggal 8 Februari 1967, tepat hari ini 51 tahun lalu. Jenazahnya dimakamkan di Karet Bivak oleh istri dan keluarganya.

Pemuda Malas yang Jadi Aktivis

Sebelum jadi Waperdam III, Chaerul Saleh pernah jadi Menteri Negara Urusan Veteran, Kabinet Djuanda (1957); Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja I (1959-1960); Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja II dan III (1960-1963). Ia juga pernah menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1960-1965).

Jauh sebelum nasibnya diramal Farida, Chaerul layak disejajarkan dengan tokoh pergerakan kemerdekaan, terutama dari kelompok pemuda radikal. Chaerul dikenal sebagai pemimpin Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Kala itu, Chaerul Saleh adalah mahasiswa sekolah tinggi hukum Recht Hoogeschool (RHS) Betawi. Dia jadi mahasiswa sejak 1937. Anak dokter Ahmad Saleh ini adalah lulusan Europe Lager School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS).

Pemuda yang tak suka dibangunkan dari tidur ini tak mau jadi dokter seperti yang diinginkan ayahnya. “Ah, aku tidak mau jadi dokter, karena malam-malam sedang enak-enak tidur dibangunkan,” akunya seperti dicatat dalam Chaerul Saleh Tokoh Kontroversial (1993: 157).

Meski begitu, dia tetap peduli pada cita-cita yang radikal di zaman kolonial: kemerdekaan Indonesia. Ketika tentara pendudukan Jepang berkuasa dengan cukup kejam di Jawa, Chaerul menjadi anggota Gerakan Bawah Tanah. Ia juga termasuk pemuda-pemuda yang ikut menculik Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok dan mendorong dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Orangnya Tan Malaka yang Dilupakan Negara

Di masa revolusi, Chaerul, yang dekat dengan kelompok Tan Malaka dan ingin merdeka 100%, bukan pejuang yang takut berdarah-darah. Sebagai pengikut Tan Malaka, Chaerul juga ikut ditangkap pada Maret 1946 lantaran terkait dengan Persatuan Perjuangan (PP)—organisasi oposisi yang dibentuk Tan Malaka dan Sudirman.


Setelah Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR) didirikan Tan Malaka pada akhir 1948, menurut Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949 (2008: 11-12), Chaerul pernah menjadi sekretarisnya. GRR adalah kelompok yang menentang perundingan RI-Belanda yang merugikan Indonesia.

“Kesatuan Laskar Rakyat dan kesatuan Bambu Runcing yang berhaluan kiri dari daerah-daerah Jakarta Timur, Bogor, Sukabumi, Tangerang, dan Banten telah bergabung di bawah pimpinan Chaerul Saleh,” tulis Matia Majiah dalam Kisah Seorang Dokter Gerilya Dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten (1986: 240).

Milisi-milisi bersenjata itu kemudian memindahkan pasukannya ke Banten Selatan menduduki Malingping dan Cibaliung. Mereka lalu mengadakan aksi bersenjata menentang Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1950.

Keterkaitannya dengan bekas pejuang dari golongan laskar rakyat yang sering bikin gangguan keamanan membuat Chaerul ditangkap pada 16 Februari 1950. Setelah ditangkap, Chaerul tak dimasukkan ke dalam penjara layaknya residivis. Dia malah dikirim ke Jerman untuk kuliah hukum di Universitas Bonn, Jerman Barat, dari 1952 hingga 1955. Ia melanjutkan studi yang tidak diselesaikannya di RHS Betawi.

Sepulangnya dari Jerman Barat, Chaerul ikut mendirikan Legiun Veteran. Di tahun 1957, dia pun diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Veteran.



Chaerul Saleh adalah orang non-partai yang, seperti ditulis Merle C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008), “dianggap sebagai orang Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Murba sudah sejak lama menentang PKI dalam memperebutkan kepemimpinan golongan kiri” (hlm. 577). Murba adalah organisasi yang didirikan juga oleh Tan Malaka.

Setelah meninggal di penjara, Chaerul Saleh seperti dilupakan negara. Meski dia berseberangan dengan PKI.


Selama hidupnya, Chaerul pernah menikah dengan Johanna Siti Menara Saidah, putri dari tokoh Minangkabau terkemuka di zaman kolonial, Datoek Toemenggoeng. Johanna meninggal setelah menderita kanker payudara.

Perkawinan Chaerul Saleh dengan Johanna ini tidak dikaruniai anak. Johanna, yang meninggal pada 19 Mei 1978, akhirnya hanya punya anak angkat. Anak angkatnya mengaku, seperti dimuat dalam majalah Tempo (3/6/1978), “Ibu tidak meninggalkan pesan apa-apa.” Permintaan terakhirnya: “Ibu minta dimakamkan di samping kuburan suaminya.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight