Cha Cha Real Smooth: Komedi Patah Hati dan Maskulinitas Positif

Penulis: Ruhaeni Intan - 25 Jun 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Film ini bergenre coming of age, mengisahkan banyak kejadian di hidup seorang pria berusia 22 tahun.
tirto.id - Laki-laki harus kuat. Harus jago berkelahi. Laki-laki tidak boleh menangis. Tidak boleh ada emosi selain marah karena marah sama dengan wibawa dan wibawa harus dipertahankan. Laki-laki yang dikagumi adalah laki-laki yang dingin, misterius, dan oleh karena itu harus bersikap cuek, masa bodoh, dan tidak peduli. Menjadi laki-laki yang mendobrak nilai-nilai ini berarti ia bakal terlempar ke posisi rentan atau kasarnya siap dipermalukan.

Namun, semua stereotipe itu tidak akan ada di dalam Cha Cha Real Smooth, film terbaru besutan sutradara muda Cooper Raiff. Justru yang akan disaksikan sepanjang film adalah kebalikannya: seorang lelaki muda yang manis, ramah pada semua orang, mampu mengkomunikasikan perasaannya, dan, ini bagian yang paling saya suka: lelaki muda yang mengakui kerentanannya.

Cha Cha Real Smooth (2022) adalah film yang disutradarai, diproduseri, ditulis, dan diperankan sendiri oleh Raiff, sineas muda Amerika Serikat yang masih berusia 25 tahun. Bercerita tentang Andrew, lelaki berusia 22 tahun yang baru saja lulus kuliah dan bertekad menyusul kekasihnya yang sedang menempuh pendidikan di Barcelona.

Demi menghemat uang, ia lantas kembali ke New Jersey untuk tinggal bersama ibu kandung, ayah tiri, dan berbagi kamar dengan adik laki-lakinya. Sehari-hari, Andrew bekerja sebagai pegawai paruh waktu di restoran cepat saji bernama Meat Stick. Jalan cerita mulai bergerak ketika Andrew yang bokek dan frustasi dengan pekerjaannya sebagai pramusaji, ditawari pekerjaan sambilan sebagai party starter. Berkat pekerjaan baru inilah, ia kemudian bertemu Domino, ibu tunggal satu anak yang diperankan dengan sangat baik oleh Dakota Johnson.

Sebuah Komedi Patah Hati

Awas: spoiler alert!

Babak baru kehidupan Andrew dimulai ketika ia berkenalan dengan Domino yang memiliki anak perempuan bernama Lola yang autis. Kondisi ini membuat Lola berjarak dengan teman-teman sebayanya yang kemudian berujung pada perundungan. Namun, Andrew yang sedari kecil sudah terbiasa mengasuh anak-anak justru menjalin persahabatan yang hangat dengan Lola. Bukan cuma itu, kedekatannya dengan Lola juga mengantarkannya pada Domino yang membuatnya kasmaran–atau lebih tepatnya tergila-gila–meski telah berstatus sebagai tunangan orang.

Mengambil tema coming of age, Raiff seolah ingin menunjukkan kepada dunia fase hidup 20-an yang penuh dengan ketidakpastian, kenaifan masa muda, dan tentu saja–seperti yang mungkin dialami oleh kebanyakan anak muda di usia ini–bergelut dengan patah hati.

Film ini sejatinya adalah komedi patah hati yang akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak dengan lelucon-lelucon konyol nan absurd tapi dekat dengan keseharian kita. Sebagai contoh (jangan baca kalau kamu terganggu dengan spoiler), ketika Andrew akhirnya mendapatkan panggilan kerja di sebuah lembaga nonprofit, ia mati-matian berusaha untuk membuat pewawancaranya terkesan dengan berbohong tentang kondisi ayahnya.

“Apa yang membuatmu ingin bergabung dengan tim sebagai Communication Associate?”

Jawaban Andrew atas pertanyaan ini mengingatkan saya dengan pengalaman saya sendiri ketika berhadapan dengan interview kerja. Apa jawabannya? Tak jauh beda dengan jawaban Andrew:

“Ya, saya lulusan marketing. Saya punya pengalaman mengurus media sosial…” dan seterusnya dan seterusnya.

Singkatnya: jawaban yang lurus tanpa modifikasi, tidak menarik, dan sama sekali jauh panggang dari api untuk membuat pewawancara terkesan. Bedanya, Andrew menyadari ini dan secara impulsif berusaha melakukan improvisasi dengan berbohong.

“Ayahku memiliki ALS..." “Tidak, bukan, ini tidak benar. Saya tidak tahu kenapa mengatakannya.”

Dialog-dialog semacam ini bakal sering muncul sepanjang film dan bagi saya, keabsurdan ini sangat menghibur. Bukan hanya karena dekat, tetapi karena keluguan masa muda yang berhasil ditunjukkan oleh Raiff melalui karakter Andrew.

Selain itu, beberapa adegan juga menampar apa yang selama ini kerap jadi permasalahan anak muda: berpikir seolah dunia berputar hanya di sekelilingnya. Ini bisa dilihat ketika Andrew menyadari bahwa Domino menyayangi tunangannya lebih dari yang ia tahu. Momen ketika Andrew menganggap kalau Domino sebetulnya tak ingin menikah adalah momen terepik dari perwujudan laki-laki seolah paling tahu tentang keinginan perempuan.

Cha Cha Real Smooth bakal membuat penonton terpingkal-pingkal dan menangis sesenggukan hingga pada akhirnya sampai pada keputusan: ini adalah film terbaik atau tidak sama sekali. Raiff yang memang masih menapaki usia 20-an sepertinya sangat paham fase hidup di usia ini. Andrew yang ia perankan sendiri adalah purwarupa dari anak muda masa kini: cemas dengan masa depan tapi berapi-api, serta punya tekad yang kuat untuk menikmati hidup.

Walau demikian, ada satu isu di luar craftsmanship yang amat penting untuk dibicarakan: Andrew sebagai pria muda yang lembut, penuh kasih sayang, dan berdaya dalam menerjemahkan emosinya adalah persona yang penting untuk melengkapi isu gender hari ini. Ia adalah contoh laki-laki baru.

Infografik Misbar Cha Cha Real Smooth
Infografik Misbar Cha Cha Real Smooth. tirto.id/Fuad


Mengenal Maskulinitas Positif lewat Karakter Andrew

Search for Common Ground dalam sebuah tinjauan literatur yang didukung oleh United States Agency International Development (USAID) menggarisbawahi pentingnya keterlibatan laki-laki dalam menghentikan tindak kekerasan berbasis gender atau Sexual and Gender-based Violence (SGBV). Mengacu pada hal ini, melibatkan laki-laki dalam kampanye kesetaraan gender berarti sebuah strategi yang tujuan akhirnya adalah mengubah perilaku maskulinitas beracun yang selama ini jadi dedengkot penyebab kekerasan terhadap perempuan.

Kehadiran film seperti Cha Cha Real Smooth, oleh sebab itu, perlu disambut karena kemampuannya menghadirkan tokoh laki-laki dengan persona yang mengkampanyekan maskulinitas positif. Apa itu maskulinitas positif?

Kiselica dan Englar-Carlson (2010) mengartikan maskulinitas positif sebagai perspektif yang menonjolkan kekuatan dan aspek menguntungkan dari identitas maskulin. Sementara, Crowther Centre menerjemahkan maskulinitas positif sebagai ekspresi atas sikap dan perilaku laki-laki untuk kebaikan bersama, baik secara individu maupun untuk komunitas.

Sederhananya, maskulinitas positif adalah lawan dari maskulinitas beracun yang selama ini menjadi akar dari kekerasan.

Andrew sejauh ini berhasil jadi representasi dari apa itu maskulinitas positif karena sosoknya yang digambarkan sebagai seorang caregiver. Ia tak segan menunjukkan cinta kasihnya kepada orang-orang sekitar mulai dari ibu, perempuan yang ia sayangi, hingga anak berkebutuhan khusus seperti Lola.

Ia juga berusaha menjadi panutan laki-laki, terutama bagi adik laki-lakinya yang sedang menginjak masa puber. Ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Kupers (2005) bahwa perlu ada intervensi dan bimbingan positif untuk mengubah penggambaran sosial maskulinitas saat ini.

Posisi yang diambil oleh Cha Cha Real Smooth dalam hal ini patut diapresiasi sebab ia berani melawan stigma bahwa biasanya di dalam masyarakat patriarkal yang kuat, posisi caregiver, seperti yang ditunjukkan oleh karakter Andrew, kerap dibebankan kepada perempuan.

Andrew adalah persona yang penting untuk ditampilkan sebab ia mengajarkan bahwa laki-laki juga boleh menunjukkan rasa cintanya, laki-laki boleh menjadi ekspresif, dan yang terpenting laki-laki boleh remuk redam karena mencintai seseorang dengan tulus. Ia menerima penolakan dengan hati yang besar dan bersedia mengesampingkan ego demi menghormati keputusan perempuan yang ia cintai.

Film ini sangat saya rekomendasikan bagi para penggemar romcom, slice of life, atau film-film mumblecore. Kamu sudah bisa menonton tayangan ini melalui layanan streaming berbayar Apple TV.

Baca juga artikel terkait CHA CHA REAL SMOOTH atau tulisan menarik lainnya Ruhaeni Intan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Ruhaeni Intan
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight