Cerita Para Korban Penganiayaan Si Rambut Cepak

Oleh: Andrian Pratama Taher - 13 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Seorang driver taksi daring dipukuli saat hendak pulang. Sehabis itu, Hadi diminta pulang tapi tak melapor ke berbagai pihak.
tirto.id - Kasus pengeroyokan terhadap Kapten Komaruddin tak hanya membuat Mapolsek Ciracas dibakar. Sejumlah orang jadi korban kekerasan dari pelaku yang diduga anggota TNI.

Seorang driver taksi daring bernama Hadi (bukan nama sebenarnya), menjadi salah satu korban. Ia dipukuli gerombolan pelaku terduga pembakar Mapolsek Ciracas saat hendak pulang ke rumah di daerah Cikeas, Bogor.

“Suami saya ikut menjadi salah satu korban,” kata Yani, bukan nama sebenarnya kepada reporter Tirto, Kamis (13/12/2018).

Menurut Yani, peristiwa terjadi sekitar pukul 01.29. Hadi yang tengah melaju dengan mobilnya, tiba-tiba diteriaki gerombolan berbadan tegap dengan rambut cepak. Jumlah mereka kira-kira 20 orang.

Gerombolan itu menuding Hadi merekam perusakan yang mereka lakukan. Mereka kemudian menarik Hadi yang duduk di kursi kemudi hingga bajunya robek. Tak sampai di situ, kaca depan dan bumper bagian belakang dirusak gerombolan tersebut.

“Alhamdulillah suami saya tetap bertahan,” kata Yani.

Saat perusakan dan intimdasi berlangsung, Hadi diselamatkan kawanan lain dari gerombolan pria berambut cepak yang mengenakan masker itu. Kawanan tersebut meminta Hadi pergi dan mengancamnya untuk tak melapor ke berbagai pihak.



Namun, Yani tak puas. Dia tak terima atas intimidasi dan kekerasan yang dilakukan terhadap sang suami. Yani ingin ganti rugi atas kerusakan mobil dan penanganan trauma suaminya. Ia kemudian melapor ke Polres Jakarta Timur.

“Saya mau tahu siapa yang akan bertanggung jawab,” kata Yani.

Tak hanya Hadi, Selasa (11/12) kemarin, kami merilis laporan dugaan intimdasi yang diduga dilakukan gerombolan yang sama terhadap sejumlah warga di perumahan PTB.

Intimidasi yang dilakukan gerombolan itu yakni dengan menyisir kawasan perumahan. Para pelaku juga punya ciri-ciri yang sama, berbadan tegap dengan rambut cepak.

Salah seorang pengurus RT yang enggan disebutkan menuturkan kepada reporter Tirto, salah seorang ketua RW menjadi korban tindak kekerasan gerombolan itu. Saat kami temui, bekas luka di dagu dan memar di bibir masih tampak.

Seorang korban lain berinisial RIS harus dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami pendarahan di kepala akibat dipukuli. Selain itu, ada mobil dan pos ronda yang juga dirusak gerombolan tersebut.

Selain itu, sebuah posko ormas dan rumah terduga pelaku pengeroyokan terhadap Komaruddin juga diduga dirusak gerombolan ini.

infografik kekerasan TNI
infografik kekerasan TNI


TNI Minta Tidak Dituduh

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono enggan berkomentar terkait dugaan keterlibatan aparat TNI dalam perusakan Mapolsek Ciracas dan penganiayaan sejumlah warga. Argo berdalih belum mendapat laporan.

“Kami masih menunggu apakah ada laporan atau tidak,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis siang.

Argo menyebut polisi sedang mendata apa saja kerusakan yang terjadi, termasuk perusakan rumah terduga pengeroyok Komaruddin. Argo malah bertanya balik mengenai kabar ada kendaraan dirusak. “Siapa itu? Ya silakan saja melapor,” kara Argo singkat.

Sementara itu Kapendam Jaya Kolonel Kristomei Sianturi meminta masyarakat tak mengaitkan gerombolan penyerang warga dengan TNI. Ia meminta publik tidak mem-framing orang berbadan tegap dan rambut cepak adalah TNI.

“Kalau memang dia tahu itu tentara harusnya lapor. Kalau tentara, pasti itu tentara ya lapor,” kata Kristomei kepada reporter Tirto.

Menurut Kristomei, Kodam Jaya sedang menyelidiki apakah benar pelaku bagian dari TNI. Namun hingga kini, klaim Kristomei, Kodam Jaya memastikan tidak ada satu anggota pun terlibat.

“Sampai saat ini laporan dari komandan satuan kepada pangdam tidak ada yang keluar. Kalau misalnya nanti terbukti ada yang keluar, ya tanggung jawab satuannya,” kata Kristomei.

Baca juga artikel terkait PEMBAKARAN POLSEK CIRACAS atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Mufti Sholih