Cerita Menulis Lagu dalam 3 Hari Usai Bertemu para Pesohor Dunia

Penulis: Addi M Idhom - 22 Okt 2020 20:15 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Musikus asal Inggris, Max Venison menulis lagu baru dalam waktu 3 hari dengan mengambil inspirasi dari sejumlah pesohor dunia.
tirto.id - Di balik sebuah lagu, selalu ada cerita. Paul McCartney menulis salah satu lagu The Beattles paling gemilang, Hey Jude, setelah bertemu anak John Lennon, Julian Lennon. McCartney menulis lagu karena mau menghibur bocah 5 tahun itu usai orang tuanya bercerai.

Semula McCartney menamai lagu itu Hey Jules, tapi lantas mengubahnya menjadi Hey Jude karena terinspirasi oleh nama yang diketahuinya dari musikal panggung Carousel.

Cerita McCartney hanyalah salah satu contoh. Banyak lagu lainnya kerap tercipta setelah si penulis mengalami suatu peristiwa berkesan, bertemu seseorang, hingga melihat atau mengetahui sesuatu yang menyentil perasaan. Seringkali, ide tentang lagu lahir dari situasi yang tidak direncanakan.

Namun, bagaimana jika pencipta lagu diharuskan menghasilkan karya musik dalam waktu pendek, dibatasi tenggat ketat, dan idenya hasil pertemuan dengan seseorang yang direncanakan. Apakah proses kreatif seperti ini dapat dilakukan?

Para Pesohor dan Inspirasi

Jawaban buat pertanyaan ini bisa ditemukan dalam Serial Life In Minor Keys, sebuah acara orisinal Mola TV yang dibintangi Max Venison. Dalam acara ini, Max diharuskan menulis sebuah lagu hanya dalam waktu 3 hari, dengan menggali ide dari pertemuan dengan sejumlah pesohor kelas dunia.

Para pesohor yang ditemui Max adalah orang yang menekuni karier di berbagai bidang. Ada petinju yang pernah merebut gelar juara dunia seperti Amir Khan. Produser rekaman musik peraih Grammy Awards Steve Lillywhite. Aktris Hollywod macam Portia Doubleday. Transgender bintang acara televisi di AS Caitlyn Jenner.

Ada pula atlet lari cepat peraih medali emas olimpiade Darren Campbell. Pentolan band rock asal Eropa The Vaccines, Justin Young, hingga aktor, presenter, penulis, dan jurnalis investigasi Inggris, Ross Kemp.

Max menemui pesohor-pesohor itu sambil melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Indonesia. Ia mengajak mereka berbicara tentang kehidupan pribadi, pengalaman mengesankan dalam karier, keputusan penting mereka, dan banyak hal lain.

Selama pertemuan, Max bertanya dan mencatat, seperti seorang jurnalis yang sedang melakukan wawancara. Namun, Max tak sedang mencatat serpihan informasi untuk berita. Yang dilakukannya adalah mencari ide untuk menulis lagu.

"1 tokoh, 3 hari, 1 lagu baru," begitu slogan Life In Minor Keys.

Max Venison merupakan musikus asal Liverpool, Inggris. Saat baru berusia 19 tahun, dia hijrah ke Los Angeles, AS, dan kemudian meneken kontrak multi-album solo dengan nama panggung Max Morgan, bersama studio Chime Ent./Universal.

Max juga menekuni dunia akting. Dia berperan dalam sejumlah serial tv dan film pendek yang di antaranya termasuk Dust to Dust (2015), A.W.O.L (2013), dan The Last Ship (2014).


Namun, hidup Max sempat terpuruk karena masalah kecanduan alkohol. Dalam Life In Minor Keys, Max mengaku itu terjadi karena sebuah kasus yang membikinnya kecewa, yakni saat lagu miliknya "dicuri" orang.

Beruntung, usai jatuh ke titik terendah pada tahun 2012, Max berhasil sembuh dari kecanduan dan produktif lagi. Dia lantas kembali merekam sejumlah lagu, dan menekuni dunia akting.

"Kesembuhan telah membuat ruang baru di dalam diri saya untuk menemukan keajaiban seni dan musik yang belum pernah saya alami sebelumnya," kata Max seperti dilansir rocktorecovery.org.


Bertemu Juara Dunia Tinju dan Menulis Lagu

Dalam salah satu episode Life In Minor Keys di Mola TV, Max Venison menemui salah satu petinju Inggris paling diperhitungkan, Amir Khan. Mereka bertemu di Jakarta dan lantas bertolak dengan mobil menuju Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Di kawasan puncak, Max dan Amir mengunjungi sebuah pusat pembelajaran anak-anak pengungsi imigran asal Afghanistan.

Keduanya sempat bercengkerama dengan anak-anak para imigran yang terdampar di Indonesia dan tidak memiliki negara tujuan. Amir pun menyempatkan diri berlatih tinju dengan anak-anak tersebut. Bersama anak-anak itu, ia dan Max lantas pergi ke sebuah restoran.

Amir yang kini menjadi promotor tinju dan filantropis bersedia pula menemani anak-anak imigran menaiki angkot dan menyusuri jalanan di Puncak Bogor. Mereka lantas makan siang bersama dan menonton pertunjukan debus.


Selama perjalanan Jakarta-Bogor, menaiki angkot, hingga makan siang bersama, Max menggali banyak cerita dari Amir. Sejumlah kalimat yang meluncur dari mulut Amir dicatat oleh Max. Hasil percakapan mereka lantas menghasilkan lagu dengan judul Different Child.

Amir Khan merupakan petinju kenamaan asal Bolton, Inggris, dengan karier gemilang di level amatir maupun ring profesional. Pemilik nama Amir Iqbal Khan tersebut pernah memegang sabuk juara dunia kelas welter ringan. Dia kemudian menyatukan gelar juara dunia di kelas welter ringan, setelah memegang sabuk versi WBA (2009-2012) dan IBF (2011).

Sebelum itu, Amir memegang gelar Commonwealth Light pada 2007 hingga 2008. Saat masih belia dan ada di level amatir, Amir sudah mengukir prestasi dengan memenangkan medali perak kelas ringan Olimpiade 2004.

Nama Amir tercatat menjadi salah satu petinju Inggris termuda yang pernah meraih gelar juara dunia. Pertama kali menjadi juara dunia, petinju berjuluk King Khan tersebut berusia 22 tahun.

Terakhir, pada Juli 2019, Amir berhasil menyabet gelar juara kelas welter versi WBC Internasional. Pada usianya yang tidak muda, Amir bisa menang TKO dan hanya butuh 4 ronde untuk membuat petinju asal Australia, Billy Dib tersungkur sebelum menyerah kalah dalam pertandingan di Jeddah, Arab Saudi.

Pada usia kepala tiga, petinju kelahiran 8 Desember 1986 tersebut juga meraih kesuksesan di luar ring. Amir kini menjadi promotor dan mensponsori pertandingan tinju melalui perusahaan bernama Khan Promotions dan Amir Khan Academy. Wajahnya pun kerap muncul dalam tayangan televisi di Inggris, seperti dalam serial I'm a Celebrity...Get Me Out of Here! di ITV.

Filantropis yang memiliki sebuah badan amal tersebut juga terjun ke bisnis olahraga mancanegara. Selain mencatatkan namanya sebagai salah seorang pemilik liga tarung MMA profesional di India, Super Fight League (SFL), Amir memiliki saham di pendirian Super Boxing League (SBL), sebuah kompetisi tinju profesional di negara yang sama.


Lahir dari keluarga Punjabi Rajput asal Pakistan, Amir mengaku mengerti rasanya menjadi miskin dan tak dapat menikmati hidup sejahtera. Itulah mengapa ia berniat membantu anak-anak imigran yang terlantar. Di sisi lain, ia ingin menunjukkan petinju tidak hanya akrab dengan baku pukul.

Kepada Max Venison, Amir mengaku terjun ke dunia tinju sejak usianya masih 8 tahun. Sang ayah mendaftarkan Amir ke sebuah sasana tinju karena ia gemar berkelahi.

"Menurut ayah, fisikku lumayan kekar, dan aku anak yang hiperaktif," ujar Amir.

"Dulu orang tua biasa akan menampar anaknya jika nakal. Ayahku tidak melakukan hal seperti itu, tapi malah mendaftarkan aku ke sasana tinju. Agar aku bisa belajar disiplin."

Amir menilai keputusan ayahnya memang tepat. Belajar di sasana tinju membuat kebiasaannya berkelahi bisa berhenti. Selain itu, nasib tidak terduga terjadi: ia naik ring tinju profesional serta menjadi juara dunia.

Itulah kenapa, saat Max bertanya tentang judul lagu yang mungkin muncul dalam benak Amir, ia secara spontan menjawab: Different Child. Sebuah ungkapan simpati Amir kepada keputusan sang ayah.

Banyak potongan percakapan Amir tertuang dalam lagu baru karya Max ini. Sejumlah penggalan lirik lagu Different Child juga langsung dikutip oleh Max dari ucapan Amir.


Sejumlah kisah Amir tergambar dalam lagu karya Max. Misalnya, cerita Amir saat publik dan media sudah menganggap kariernya tamat setelah kalah dan tangannya patah.

Amir mengaku motivasinya meledak ketika banyak orang meremehkan dirinya. Akhirnya, setelah dua tahun vakum, Amir membalik perkiraan banyak orang dan kembali merebut gelar juara dunia.

Max mengaku begitu terkesan dengan sosok Amir. Lantas, dalam waktu 2,5 hari saja, sebuah lagu baru tercipta. Di studio, Max menyanyikan dan merekam lagu Different Child. Dia berduet dengan penyanyi muda Indonesia, Naya Suwarso.

Bagaimana Max Venison bisa menciptakan lagu baru dan merekamnya dalam waktu singkat, kisah selengkapnya bisa disaksikan dalam acara Life In Minor Keys di Mola TV.

Baca juga artikel terkait MOLA TV atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom


Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH

DarkLight