Cerita Marcello Tahitoe Menjalani Kehidupan Seperti Roller Coaster

Oleh: Addi M Idhom - 5 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Marcello Tahitoe menceritakan pengalamannya menghadapi situasi terpuruk ketika hadir dalam acara Musafir Malam di Mola TV.
tirto.id - Macello Tahitoe menggambarkan perjalanan hidupnya dengan satu ungkapan: roller coaster. Bak kereta luncur, ia menganggap kehidupannya sebagai proses "naik-turun yang menyenangkan."

Marcello bilang demikian saat berbincang bersama musikus rap kenamaan Indonesia, Iwa K dalam acara Musafir Malam yang ditayangkan Mola TV. Keduanya membicarakan kisah Marcello melewati pasang-surut, lepas dari keterpurukan, hingga perspektif sang tamu acara Musafir Malam tersebut tentang gaya rock 'n roll.

Nama Marcello--yang pernah memakai nama panggung Ello--melejit sebagai musikus papan atas tanah air saat berusia 20-an tahun. Popularitas pria kelahiran 37 tahun lalu tersebut cepat meroket setelah album pertamanya "Ello" dirilis pada tahun 2005.

Album debut Marcello sukses menyabet sertifikat Platinum, serta membukukan angka penjualan melampaui 150 ribu kopi. Berkat album tersebut, dia mendapatkan penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2005 kategori Pendatang Baru Terbaik. AMI 2005 juga mengganjar "Ello" dengan penghargaan Album Pop Terbaik.

Setelah melepas versi "Ello - Repackage" pada 2006, dia kembali menggetarkan panggung musik tanah air dengan album Realistis/Idealis, tiga tahun kemudian. Lirik lagu "Masih Ada" yang termuat dalam album tersebut masih sulit dilupakan: "Hari-hari ku lewati, hanya sendiri, tanpa kekasih..."

Dua album Marcello berikutnya, "Taub Mumu" dan "Jalur Alternatif" tidak mengikuti kesuksesan pendahulunya. Ia pun harus berurusan dengan penegak hukum, 2 tahun setelah "Jalur Alternatif" dirilis.

Marcello ditangkap polisi pada 6 Agustus 2017 atas tuduhan penyalahgunaan ganja. Akibat kasus tersebut, dalam persidangan pada awal 2018, Ello divonis harus menjalani rehabilitasi 9 bulan.


Terjerat kasus hukum tidak membikin kreativitas Ello dalam bermusik padam. Ia muncul lagi pada pertengahan 2019 dengan album "Antistatis" yang mengusung 9 lagu tentang sisi kehidupan dan perenungan pribadinya.

Lagu "Sampah-Sampah Dunia Maya" dalam album Antistatis mendatangkan penghargaan dari AMI Awards 2019. Marcello meraih penghargaan kategori Artis Solo Rock/Intrumentalia Terbaik.

Sebelum "Antistatis" dirilis, Marcello pernah menyatakan keinginannya membangun citra baru. Dia mengaku enggan membawakan lagu-lagu lamanya ketika ia dikenal sebagai Ello, meskipun nama panggungnya itu sudah kadung jauh lebih populer.

Maka, Marcello berfokus membuat lagu-lagu baru yang jauh berbeda dari karyanya pada beberapa tahun silam. "Jadi Ello-nya sudah deh cukup, sudah 3 album. Gue pengin fokus di Marcello Tahitoe saja," kata Marcello pada Juli 2019 silam.

Dibandingkan saat awal karier bermusiknya, penampilan Marcello memang jauh berubah. Dengan rambut panjang, disertai kumis dan jenggot, orang mungkin sulit mengenali lagi Ello yang dulu.


Cara Marcello Tahitoe Menghadapi Keterpurukan

Kepada Iwa K dalam acara Musafir Malam di Mola TV, Marcello Tahitoe mengaku mampu melewati pasang-surut kehidupan, dengan bersyukur. Saat terpuruk karena kasus pelanggaran hukum, dia lebih memilih legawa.

"Gua menerimanya dengan 95 persen bersyukur, dan baru sisanya kecewa, sedih. Akhirnya gua, [...] menjalaninya dengan legowo," ujar Marcello.

"Gue bisa saja memaki-maki semua yang membuat gua kecewa. Tapi, buat apa [....]."

Dia berpendapat, bersyukur bukan berarti seseorang menjadi lemah. Mampu bersyukur pada saat mengalami situasi sulit, menurut Marcello justru bentuk dari sikap pemberontakan. "Bersyukur itu rock 'n roll," kata Marcello.

Menurut Marcello, proses tersebut bisa lebih mudah dilewati karena meyakini bahwa Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Dengan keyakinan itu, ia pun berusaha "mengkalibrasi ulang" hidupnya.

"Selama 9 bulan gue, lumayan ngasih space [buat diri], akhirnya melihatnya ke positif. Ternyata, gue menemukan bahwa arti keluarga penting banget," tambah Marcello.

"Mungkin ini sudah basi banget, [tapi benar] bahwa pergaulan yang buruk mengubah kebiasaan yang baik," dia melanjutkan.

Bersyukur lebih mudah dilakukan karena Marcello menilai semua yang dimilikinya ialah pemberian dari sang maha kuasa, termasuk bakatnya dalam musik. "Namanya gift, kita menggunakannnya sebisa kita saja."

Di balik semua masalah, sisi positif juga ditemukannya. Marcello mengatakan, saat ia mengalami situasi terpuruk, "semesta dan Tuhan" mempertemukannya dengan orang-orang yang membuat dirinya bisa menggali lebih banyak potensi.


Situasi lebih berat yang pernah dialami Marcello adalah saat kehilangan ibunya, Diana Nasution, penyanyi pop senior yang populer pada tahun 1980an dan meninggal dunia 2013 silam. Kenangan pada sang ibu sempat ia tuangkan dalam salah satu lagu karyanya.

Bagi Marcello, cinta terbesarnya adalah untuk orang tua. Dia mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari keduanya. "Bokap gua bisa memberikan sesuatu ke orang lain saat dirinya sendiri kekurangan. [....] I want to be like them."

Percakapan dengan Iwa K dalam Musafir Malam di Mola TV, banyak menyingkap refleksi pribadi di kepala Marcello. Dia tidak hanya mengungkapkan pengalaman hidupnya, tapi juga prinsip-prinsip dan spiritualitas yang selama ini menuntun dirinya.

Musafir Malam tidak hanya menyingkap sisi pribadi sejumlah pesohor, seperti Marcello. Tayangan di Mola TV yang dipandu Iwa K itu sekaligus menunjukkan proses kreatif sang host.

Iwa K mengambil inspirasi dari obrolan dengan sejumlah artis dalam acara tersebut untuk menulis lagu. Sejumlah lagu lantas lahir dan tertuang dalam album terbaru Iwa K yang bertajuk "Musafir Malam."

Di sisi lain, Iwa memaknai "malam" sebagai metafor untuk sisi gelap kehidupan. Maka, saat 2 kata tersebut menjadi tema talkshow garapannya, Iwa berusaha mengajak tamu acara Musafir Malam membicarakan sisi gelap hidup mereka.


Dari obrolan dengan sudut pandang demikian, Iwa lantas menulis sejumlah lagu. Misalnya adalah lagu "I Wish" yang ditulis Iwa usai berbincang dengan Vanessa Angel. Selain itu, ada lagu "Di Balik Nama" yang terilhami oleh percakapannya dengan Nikita Mirzani.

Obrolan Iwa bareng Ariel Noah di acara talkshow yang sama juga mendorongnya untuk membuat lagu bertajuk "Someday." Lagu-lagu tersebut ditampilkan oleh Iwa pada akhir setiap episode acara Musafir Malam.

Sedangkan setelah berbincang dengan Marcello Tahitoe, Iwa K menyanyikan lagu berjudul "Kata Siapa" dengan berduet bersama Ipang Lazuardi.

Percakapan Iwa K bersama sejumlah selebritas yang menjadi tamu Musafir Malam, selengkapnya dapat ditonton di Mola TV.

Baca juga artikel terkait MOLA TV atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Musik)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight