Cerita Korban & Saksi KRL Anjlok: Bergoyang, Miring, Tabrak Tiang

Oleh: Riyan Setiawan - 11 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Penumpang dan warga sekitar menceritakan detik-detik anjloknya KRL jurusan Jatinegara-Bogor di Kebon Pedes.
tirto.id - "Saya pegangan besi, mengikuti ayunan, terus terdengar, darrr! Saya kira ini menabrak truk tadi, saya punya analisa pasti kereta [KRL] ini terbalik karena kenceng banget, tapi alhamdulillah enggak sampai ambruk ini saya. Syukur kepada Tuhan."

Begitulah cerita Sulanjono Atmojo, salah seorang korban selamat dalam kecelakaan KRL jurusan Jatinegara-Bogor di Kebon Pedes, Bogor, Jawa Barat, Minggu (10/3/2019) kemarin. Ia mengaku masih syok saat saya ajak berbincang, Minggu sore.

Sesaat setelah KRL anjlok, Sulanjono dan penumpang lain bergegas loncat keluar gerbong KRL saat pintu dibuka oleh petugas.

"Kaget, kaget banget sampe menenggak tiga gelas kopi tadi," ujar Sulanjono.

Sulanjono menaiki KRL tersebut dari arah Stasiun Duri menuju Stasiun Bogor. Ia sempat tertidur dalam gerbong. Saat KRL sampai di Stasiun Cilebut, Sulanjono terbangun. Ia merasakan kereta bergoyang tak seperti biasanya. Sekitar 3,8 kilometer kemudian, kereta yang ditumpangi Sulanjono anjlok.



Sebelum anjlok, Agus Kusnadi (60 tahun), Ketua RT 01/RW 03 Kebon Pedes, sempat melihat KRL melaju dengan miring ke arah kiri. Saat itu, Agus sedang mengambil pucuk daun singkong di kebunnya yang berada di samping rel.

Tak lama berselang, muncul suara gemuruh dan dentuman yang keras. KRL itu anjlok dan menghantam tiang listrik yang berada di samping rel.

"Kalau tidak ada tiang listrik, mungkin bisa sampai ke rumah warga. Alhamdulillah ketahan tiang listrik dan tidak ada korban warga saya," ujar Agus.

Suara hantaman itu juga terdengar oleh Roni, (47), warga sekitar lokasi anjloknya KRL. Saat itu, Roni tengah memotong rumput di halaman depan rumahnya. Ia kaget bukan kepalang.

"Keras banget bunyinya. Saya merinding kalau ingat lagi," ucap Roni yang saya temui di tempat kejadian perkara.

Selain mendengar suara hantaman, Roni juga merasakan getaran akibat kecelakaan KRL tersebut. "Berasa banget getarannya, sudah kayak gempa."



Penyebab Kecelakaan Masih Diselidiki

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) belum bisa menyimpulkan penyebab anjloknya KRL jurusan Jatinegara-Bogor di lintasan Kebon Pedes, Bogor. VP Komunikasi Perusahaan PT KCI, Eva Chairunisa mengatakan perlu pemeriksaan menyeluruh terkait kecelakaan tersebut.

Meski begitu, Eva menduga ada dua faktor penyebab anjloknya KRL tersebut. Berdasarkan pengalaman atau peristiwa yang pernah terjadi, kecelakaan kereta bisa terjadi karena dua faktor, yakni internal dan eksternal.

"Faktor internal bisa karena human error atau gangguan jaringan aliran listrik atau persinyalan. Untuk hal ini, biasanya kami bisa deteksi dan dengan cepat bisa diinformasikan kepada pihak stasiun atau penumpang," kata Eva di Kebon Pedes, Minggu (10/3/2019).

Kemudian faktor eksternal, lanjut Eva, disebabkan oleh bencana alam atau sabotase perjalanan kereta oleh pihak tertentu. Misalnya seperti menaruh balok atau penghalang di badan rel.

"Hal eksternal ini yang tidak bisa kami prediksi dan sangat sedikit kemungkinan kami informasikan secara cepat keadaannya kepada penumpang,” ujarnya.

Belasan orang termasuk masinis mengalami luka akibat anjloknya KRL jurusan Jatinegara-Bogor di Kebon Pedes, Bogor. Namun tak ada korban jiwa akibat kecelakaan tersebut.

Eva mengatakan, saat ini PT KCI fokus untuk memulihkan jalur perlintasan antara Stasiun Bogor dan Stasiun Cilebut. Eva menyarankan pengguna KRL untung menggunakan moda tranportasi lain untuk sementara.


Baca juga artikel terkait KRL ANJLOK atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Gilang Ramadhan