Riset Mandiri Tirto

Cerita Binatang adalah Favorit Orang Indonesia Saat Mendongeng

Header Riset Mandiri Fabel. tirto.id/Sabit
Oleh: Scholastica Gerintya - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Binatang yang paling sering muncul sebagai cerita adalah kancil.
tirto.id - “Anak-anak itu makhluk yang unik. Dan itu harus dipahami oleh semua orangtua,” tutur Reda Gaudiamo, penulis Na Willa: Serial Catatan Kemarin, buku cerita anak.

November 2018 silam, Tirto berkesempatan mewawancarai Reda terkait buku cerita anak. Terkait ucapan Reda, bila melihat budaya dan struktur sosial yang berlaku di Indonesia, ibu adalah sosok yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ayah juga bisa ikut menuturkan cerita ke anak, sehingga peran ini tidak melulu dilakukan oleh ibu.

Tulisan ini adalah seri kedua dari riset mandiri Tirto mengenai kebiasaan mendongeng kepada anak pada masyarakat Indonesia. Pada 25 Oktober 2018, Tirto melakukan survei terhadap 1.529 responden berusia 19-40 tahun. Survei dilakukan di seluruh wilayah Indonesia oleh Jakpat sebagai penyedia platform.


Kali ini, temuan riset yang akan dipaparkan adalah bahasa yang paling banyak digunakan saat mendongeng, jenis cerita yang dituturkan, dan dasar pemilihan cerita dongeng.

Metodologi Riset




Profil Responden


Infografik Riset Mandiri Fabel Rev
Infografik Riset Mandiri Fabel


Bahasa yang Digunakan Saat Mendongeng


Sebanyak 78,35 persen responden menggunakan Bahasa Indonesia dalam menuturkan dongeng. Sementara 19,55 persen responden memilih menggunakan bahasa daerah. Mayoritas responden yang memilih bahasa daerah menggunakan bahasa Jawa (48,28 persen), dan bahasa Sunda (21,55 persen).

Infografik Riset Mandiri Fabel
Infografik Riset Mandiri Fabel



Selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah, 2,11 persen responden menggunakan bahasa asing ketika mendongeng. Sebanyak 84 persen di antaranya berbahasa Inggris, 8 persen berbahasa Jepang, dan 8 persen berbahasa mandarin. Bila dilihat dari temuan, bisa diindikasikan bahwa unsur ke-Indonesia-an dan kedaerahan dongeng anak Indonesia masih tergolong kuat. Hal ini tercermin dari pilihan jenis cerita yang disukai responden.

Jenis Cerita


Temuan survei terkait jenis cerita yang paling banyak dituturkan kepada anak adalah fabel dengan angka sebesar 72,70 persen. Binatang yang jadi juaranya dalam dongeng adalah kancil; sebanyak 66,95 persen responden memilih kancil sebagai objek cerita.

Infografik Riset Mandiri Fabel
Infografik Riset Mandiri Fabel


Kisah terbanyak berikutnya adalah legenda atau cerita rakyat (49,62 persen) dan cerita petualangan atau pahlawan (49,54 persen). Kisah lainnya yang jadi pilihan responden adalah Timun Mas, Malin Kundang, Sangkuriang, Pangeran Diponegoro, Nabi Muhammad, dan kisah rasul.

Sumber Cerita


Hal menarik lainnya adalah sebagian besar responden--atau sebesar 74,64 persen--masih mengandalkan buku cerita sebagai dasar pemilihan cerita dongeng. Selain buku, sebanyak 61,08 persen responden mengisahkan ulang dongeng semasa kecilnya. Artinya, kebiasaan dongeng yang dituturkan secara turun temurun dari orangtua kepada anak masih melekat dalam masyarakat Indonesia.

Infografik Riset Mandiri Fabel
Infografik Riset Mandiri Fabel


Teknologi pun ikut mengambil bagian dalam proses pemilihan dongeng. Sebanyak 55,85 persen responden menyatakan mencontoh cerita yang mereka tonton dari televisi dan/atau Youtube. Selain itu, sebanyak 31,09 persen responden memberikan pilihan bagi anak untuk memilih dongengnya sendiri untuk dituturkan.


Terkait hal ini, Ed Yong, penulis kanal ilmu pengetahuan di The Atlantic, menjelaskan bahwa perkembangan dongeng telah sampai pada bentuk audio dan visual. Di Indonesia misalnya, ada akun dongeng di Youtube bernama Fairy Tales dengan 557.905 pengikut yang menyajikan beragam cerita, baik dongeng Nusantara hingga dongeng dari luar negeri macam Sinbad. Kecanggihan teknologi juga membikin dongeng dapat diakses melalui ponsel pintar berbentuk aplikasi.

Namun, cerita anak dan dongeng Indonesia punya persoalan: pesan moral yang dijejalkan kepada pembacanya. Hal ini dikemukakan oleh Dina, penulis “Peran Sastra Anak Terjemahan dalam Pengembangan Sastra Anak Indonesia: Upaya Revitalisasi Sastra Anak Indonesia”.

“Cara mengemukakan pesan sering terkesan menggurui, terbuka, langsung, dan vulgar, yang membuat cerita cenderung membosankan," tulis Dina.

Tak cuma Dina, ungkapan bernada serupa juga diucapkan oleh Reda. “Tetapi, saya khawatir dengan mutu. Seberapa banyak penulis buku anak kita yang peduli dengan anak? Jadi, mengajari anak itu enggak hanya soal agama, misalkan. Tapi hal-hal yang membuat imajinasi mereka tumbuh, jadi anak yang kuat, jadi anak yang kritis," katanya.

Melihat temuan survei menunjukkan bahwa cerita anak-anak yang mengangkat tema Indonesia dan kedaerahan masih digemari, perlu ada peningkatan kualitas cerita anak Indonesia yang tak melulu hanya membahas persoalan moral. Anak pun perlu dikenalkan dengan hal lainnya.

“Orang-orang sering lupa bahwa anak-anak itu adalah makhluk yang penting dan pendidikannya harus prima dan hati-hati sekali. Enggak bisa sembarangan," kata Reda Gaudiamo.

Baca juga artikel terkait RISET MANDIRI atau tulisan menarik lainnya Scholastica Gerintya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Scholastica Gerintya
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight