Menuju konten utama

Cegah Tumbang karena COVID, Nakes Disuntik Vaksin Booster Pekan Ini

Dengan disuntikan vaksin booster, Menkes Budi berharap tak ada lagi nakes yang tumbang sehingga tak bisa menangani pasien karena terinfeksi COVID-19.

Cegah Tumbang karena COVID, Nakes Disuntik Vaksin Booster Pekan Ini
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada petugas PMI di Kantor PMI Kota Tangerang, Banten, Kamis (11/2/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/aww.

tirto.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan mulai pekan ini tenaga kesehatan (nakes) akan mendapat suntikan ketiga vaksin COVID-19 sebagai booster, atau perlindungan tambahan dari virus corona COVID-19. Langkah ini diambil agar tak ada lagi nakes yang tumbang dan tidak bisa menangani pasien karena terinfeksi COVID-19.

Rencananya para tenaga kesehatan akan disuntikkan dengan vaksin COVID-19 merek Moderna yang baru tiba dari Amerika Serikat.

"Kami sudah mengeluarkan policy bahwa rencananya mulai minggu ini kita akan memberikan suntikan ketiga booster tapi ini hanya untuk para nakes," kata Budi Gunadi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (13/7/2021).

Budi mengatakan pihaknya mengalami kendala mengenai sumber daya manusia (SDM) karena banyak tenaga kesehatan yang tumbang akibat COVID-19.

Sepanjang Juni-Juli ini saja sudah ada 83 dokter yang meninggal dunia akibat COVID-19. Padahal saat ini pemerintah harus menjamin ketersediaan tenaga kesehatan untuk menghadapi lonjakan kasus COVID-19.

"Ini hanya untuk nakes dulu ya supaya mereka bisa kita proteksi agar mereka bisa lebih tahan menghadapi gelombang orang yang masuk ini, karena memang kita kurang disiplin di sisi hulunya," kata Budi.

Budi memproyeksikan Jawa-Bali akan kekurangan tenaga kesehatan jika terjadi lonjakan kasus 30 persen saja. Jawa-Bali akan kekurangan 16.675 perawat, dengan rincian Jakarta membutuhkan tambahan 7.691 perawat, Jawa Barat membutuhkan 4.862 perawat, Jawa Tengah kekurangan 2.955 perawat, dan Yogyakarta kekurangan 701 perawat.

Demikian pun pada dokter umum. Jika kasus meningkat 30 persen maka Jawa-Bali akan kekurangan 2.270 dokter umum. Lebih rinci, DKI Jakarta kekurangan 1.105 dokter, Jawa Barat kekurangan 702 dokter, Jawa Tengah kekurangan 414 dokter, dan Yogyakarta kekurangan 107 dokter.

Kondisinya lebih buruk jika lonjakan terjadi hingga 60 persen. Jawa-Bali akan membutuhkan tambahan 21.887 perawat dan 2.968 dokter. Defisit paling banyak terjadi di Jakarta dan Jawa Barat.

Baca juga artikel terkait atau tulisan lainnya dari Mohammad Bernie

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Bayu Septianto