Menuju konten utama

Cegah Indonesia Resesi, Pemerintah Genjot Infrastruktur di Jawa

Sebanyak 60% aktivitas ekonomi Indonesia terpusat di Pulau Jawa.

Cegah Indonesia Resesi, Pemerintah Genjot Infrastruktur di Jawa
Pemandangan proyek pembangunan infrastruktur jalur LRT di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama.

tirto.id - Perekonomian dunia sedang lesu. Sejumlah negara kini di ambang resesi karena pertumbuhan ekonominya yang terus menerus minus, salah satunya Jepang.

"Bahkan banyak negara masuk resesi. Negara lain yang positif juga menunjukkan perlemahan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Auditorium Kementerian PUPR Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (23/9/2019).

Indonesia sudah pasti akan menghadapi risiko tersebut. Untuk menghindarinya, pemerintah berupaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh.

Pada tahun 2018, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,17 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2017 dan 2016 yang hanya mencapai 5,07 persen dan 5,03 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, strategi yang akan dilakukan Indonesia agar tak mengalami resesi yaitu dengan menggenjot investasi dan pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa.

Pembangunan di Pulau Jawa penting mengingat 60 persen aktivitas perekonomian Indonesia ada di wilayah tersebut.

"Pulau Jawa itu mendeskripsikan 60 persen perekonomian Indonesia, kalau pertumbuhannya di atas 5 persen maka pertumbuhan ekonomi bisa dijaga. Pembangunan akan ekonomi RI sehingga kita bisa tumbuh di atas 5 persen saat ini," kata dia.

Dengan banyaknya wilayah yang terhubung, maka potensi beberapa wilayah dan kota akan berkembang. Dengan kata lain, ia menyebut perekonomian di beberapa wilayah yang terbangun infrastruktur, pertumbuhan ekonomi akan terus berdenyut. Ini mengingat, infrastruktur merupakan penyangga penting pada saat lingkungan global dan regional tidak pasti.

"Salah satu cara untuk menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita harus meningkatkan investasi. Infrastruktur dibangun dan daya beli terjaga, maka ekonomi akan stabil," terang dia.

Ia mengakui, beberapa pembangunan infrastruktur belum cukup memadai untuk mendorong investasi. Bahkan jika dibandingkan Malaysia dan Singapura infrastruktur RI belum ada apa-apanya.

"Indeks Kompetitif kita meningkat, infrastruktur kita lebih baik dari Filipina dan Vietnam. Tapi kita masih kalah dari Malaysia dan Singapura. Pembangunan infrastruktur akan mendorong konektivitas yang jauh lebih baik, ini juga akan mendorong perubahan tingkah laku masyarakat," kata dia.

Sebagai informasi sebelumnya, Presiden Jokowi mengingatkan ada potensi resesi ekonomi yang bisa terjadi di 2020-2021 lantaran adanya tekanan eksternal berupa perang dagang AS dan Cina yang hingga saat ini belum reda.

"Perang dagang menghantui kita. Tekanan-tekanan eksternal baik berupa kemungkinan potensi resesi pada 1 atau 1,5 tahun yang akan datang sudah mulai dikalkulasi, mulai dihitung-hitung oleh para pakar," kata Jokowi di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Jokowi menambahkan situasi ekonomi global saat ini memang tidak stabil. Bahkan, sejumlah negara sudah mengalami resesi ekonomi, di antaranya Turki dan Venezuela. Jerman--negara dengan ekonomi terbesar di Eropa--juga tengah di ambang jurang resesi.

"Kita harus mempersiapkan diri agar tidak terkena dampak. Kalau bisa, kita mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada, sehingga menguntungkan negara kita," terang Jokowi.

Baca juga artikel terkait PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti