CBS Menskors Presenter TV Charlie Rose terkait Pelecehan Seksual

Oleh: Yuliana Ratnasari - 21 November 2017
Dibaca Normal 1 menit
Seorang pembawa acara TV veteran dan wartawan, Charlie Rose (75) dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap delapan wanita.
tirto.id - Charlie Rose diskors oleh CBS News setelah menjadi tokoh media terbaru yang dituduh melakukan pelecehan seksual. Delapan wanita menuding Rose telah melakukan tindakan yang tidak mereka inginkan, berupa telepon cabul, memamerkan badan dalam keadaan telanjang, serta meraba-raba payudara, pantat atau area genital mereka.

Tuduhan tersebut, yang diperinci
Washington Post dalam laporannya pada Senin (20/11/2017), dilontarkan oleh wanita yang merupakan karyawan dan telah bekerja dengan pembawa acara Charlie Rose sejak akhir 1990-an hingga 2011.

Rose (75) yang acaranya mengudara di PBS, juga merupakan seorang pembawa acara di CBS “This Morning” dan sebagai koresponden untuk acara “60 Minutes.”

PBS mengatakan bahwa pihaknya menghentikan distribusi program wawancara dan CBS menghentikannya setelah berita tersebut.

Menurut laporan tersebut, penuduh Rose berusia antara 21 hingga 37 tahun pada saat kejadian tersebut. Tiga di antaranya bersedia namanya tercantum dalam laporan.

Seperti halnya tuduhan serupa terhadap tokoh media, bisnis, pertunjukan, dan politik yang telah muncul hampir setiap hari sejak tuduhan pertama kali muncul terhadap produser Hollywood Harvey Weinstein; ada konsistensi dalam tudingan tersebut.

Salah satu wanita yang juga mantan asistennya, Kyle Godfrey-Ryan, teringat setidaknya ada belasan kejadian di mana Rose berjalan telanjang di depannya. Rose juga berulang kali menelepon Godfrey-Ryan yang saat itu berusia 21 tahun ketika larut malam atau dini hari untuk menggambarkan fantasi soalnya dirinya yang berenang telanjang di kolam renang milik presenter kondang itu.

Lima orang menggambarkan bahwa Rose meletakkan tangannya di kaki mereka, kadang paha atas mereka. Dua orang mengatakan bahwa dia telah keluar dari kamar mandi dan berjalan telanjang di depan mereka. Yang satu menyebutkan bahwa Rose meraba pantatnya di pesta staf.

Enam orang lain yang dihubungi oleh
Washington Post mengatakan bahwa mereka menganggap apa yang dilakukan Rose sebagai pelecehan. Semuanya mengatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman dengan perlakuan Rose terhadap karyawan wanita.

Dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir
The Guardian, Rose menyebutkan bahwa dia membanggakan dirinya sebagai seorang advokat untuk karier terhadap wanita yang telah bekerja sama dengannya. Namun, dia juga mengakui bahwa perilakunya terhadap beberapa karyawan tidak sesuai.

"Adalah penting bahwa wanita-wanita ini tahu bahwa saya mendengar mereka dan saya sungguh meminta maaf atas perilaku saya yang tidak pantas. Saya sangat malu. Kadang saya sering bersikap tidak peduli, dan saya bertanggung jawab atas hal itu, walaupun saya tidak percaya bahwa semua tuduhan ini akurat. Saya selalu merasa bahwa saya sedang mengejar perasaan bersama, meskipun sekarang saya menyadari bahwa saya salah."

Dia melanjutkan: "Saya telah belajar banyak dampak dari kejadian ini, dan saya harap orang lain juga. Kita semua, termasuk saya, sedang menuju pengakuan baru dan lebih dalam tentang rasa sakit yang disebabkan oleh perilaku di masa lalu, dan telah mencapai penghormatan baru yang mendalam bagi wanita dan kehidupan mereka. "

Wanita lain, Reah Bravo, yang bekerja sebagai
associate producer untuk acara PBS Rose yang dimulai pada 2007, mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi di rumahnya di desa dan saat bepergian bersamanya di mobil, di sebuah suite hotel, dan di pesawat pribadi.

"Tindakan ini telah memakan waktu 10 tahun dan menjadi momen pembalasan yang sengit bagi saya untuk memahami kejadian-kejadian itu apa adanya," katanya kepada
Washington Post. "Dia adalah pemangsa seksual, dan saya adalah korbannya."

Produser lama Rose, Yvette Vega, mengakui bahwa seharusnya dia melakukan lebih banyak untuk melindungi wanita muda yang bekerja di acara itu. "Seharusnya aku membela mereka," katanya. "Aku gagal. Ini menghancurkan. Saya sangat menyesal tidak membantu mereka. "

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight