Menuju konten utama

Catatan Kekalahan Militer Filipina Melawan Separatis

Belasan tentara Filipina kembali tewas karena serangan kelompok separatis Abu Sayyaf. Catatan buruk kekalahan militer Filipina pun semakin panjang. Setiap tanggal 9 April, Filipina memperingati hari libur nasional bertajuk The Day of Valor. Peringatan ini dilatarbelakangi jatuhnya Filipina ke tangan Jepang pada Perang Dunia 2.

Catatan Kekalahan Militer Filipina Melawan Separatis
Baku tembak antara tentara Filipina dengan kelompok pemberontak Abu Sayyaf di Kota Zamboanga, Filipina Selatan. REUTERS/Erik De Castro

tirto.id - Peringatan The Day of Valor tahun ini terasa sangat memilukan karena bertepatan dengan gugurnya 18 tentara Filipina. Pelakunya adalah kelompok pemberontak Abu Sayyaf. Serangan kelompok separatis itu tak hanya menewaskan 18 tentara Filipina, tetapi juga melukai 53 tentara lainnya. Ini merupakan serangan dengan korban terbanyak dalam satu insiden pada satu lokasi tahun ini. Filipina berduka.

Serangan terhadap Abu Sayysaf dilakukan oleh puluhan tentara dari Batalion infanteri 14th dan Batalion Pasukan Khusus 4th. Di saat orang lain libur merayakan The Day of Valor, mereka diberi tugas menyerbu pasukan Abu Sayyaf yang terindikasi beraktivitas di sebuah hutan pedalaman di perbatasan kota Tipo-tipo dan Al-Barkah di Provisi Basilan. Tugas mereka menangkap komadan Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, hidup atau mati.

Alih-alih menyergap, mereka malah disergap duluan. Posisi Abu Sayyaf yang berada di dataran tinggi memudahkan mereka menembaki para tentara malang ini. Di sisi lain, secara kekuatan mereka kalah jumlah. Juru bicara militer Filipina, Filemon Tan menyatakan pemberontak yang serentak menyerang berkisar 100 - 150 orang.

Bagaimana ceritanya suatu kumpulan pasukan elit Filipina bisa dengan mudah diporak-porandakan oleh gerilyawan Abu Sayyaf yang didominasi anak-anak muda?

Militer Filipina mengakui posisi mereka yang ada di bawah tidak menguntungkan. Abu Sayyaf menyergap dari atas bukit dan melempari tentara Filipina dengan granat yang dilontarkan dari M203. Hal ini diakui oleh militer Filipina sendiri.

"Musuh ada di posisi yang lebih tinggi. Di manapun pasukan kami berlindung, mereka dengan mudah ditembak dan terkena senjata berat dan bahan peledak," kata Kolonel Benedict Manquiquis, juru bicara militer kepada pada stasiun radio DZRH.

Pembantaian terhadap pasukan Filipina oleh kelompok pemberontak bukanlah hal yang baru. Pada Januari 2015, skema penyergapan yang gagal dan berubah menjadi pembantaian terjadi serupa. Korbannya tak tanggung-tanggung yakni tewasnya 49 anggota komando elit dari kepolisian Filipina. Pelaku serangan berasal dari kelompok Bangsamoro Islamic Freedom Fighter (BIFF).

Catatan Serangan Teror ASEAN

Data Global Terrorism Database (GTD) yang mengumpulkan serangan teror di dunia dalam kurun waktu 1970-2014 memaparkan data yang menarik. Angka berbicara, kelompok separatis di Filipina lebih berani, nekat dan berbahaya ketimbang kelompok separatis di negara-negara ASEAN lain, khususnya Indonesia, Thailand, Myanmar dan Kamboja.

Terhitung sejak 1970, total serangan teror di Filipina mencapai 4.860 kasus. Rinciannya mencakup penyergapan bersejata, pengeboman, serangan terhadap infrastruktur, pembunuhan dan penculikan. Apa yang terjadi di Filipina ini jauh melampaui Thailand (3.074 kasus), Indonesia (686 kasus), Myanmar (315 kasus), dan Kamboja (258 kasus).

Saat ini, di ASEAN hanya Thailand dan Filipina yang tercatat mengalami serangan kelompok separatis dengan intensitas tergolong tinggi. Di luar itu, aktivitas serangan yang dilakukan Democratic Karen Buddhist Army (DKBA) di Myanmar dan Cambodian Freedom Fighters (CFF) di Kamboja bisa dihitung jari.

Sedangkan di Indonesia, pasca Rekonsiliasi Helsinki 2005 antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah, otomatis fokus utama beralih pada Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun, jika dihitung dari skala kekuatan militer relatif kecil, OPM dikategorikan kecil.

Tingginya jumlah serangan di Filipina dan Thailand tak lepas dari sikap kelompok separatis yang semakin berani dan nekat pada dekade 2000-an.

Di Filipina, total serangan yang menargetkan aparat keamanan dalam kurun waktu 40 tahun terakhir mencapai 2.444 kasus, hampir 60 persen (1.431 kasus) terjadi pada rentan 2000-2014. Pada periode yang sama, serangan yang terjadi di Thailand mencapai 1.160 dari total 1.252 kasus atau 92 persennya.

Namun, ada taktik dan pola serangan berbeda di Thailand dan Filipina. Di Thailand, kecenderungan serangan dilakukan tanpa baku tembak dengan lawan, 60 persen atau 675 kasus diselesaikan dengan meneror lewat aksi bom.

Lain halnya dengan Filipina. Para gerilyawan berani berhadap-hadapan bentrok senjata dengan aparat. Dari total 2.444 serangan menargetkan aparat, 75 persennya atau 1.818 kasus adalah serangan yang dilakukan secara terbuka.

Taktik ini menyebabkan jumlah korban di pihak pemerintah yang cukup tinggi. Data GTD mencatat sejak 1970-2014, korban dari aparat keamanan di Filipina mencapai 4.708 orang. Angka ini bukan yang sebenarnya mengingat GTD hanya mencatat berdasarkan pengakuan pihak militer ke media. Jumlah korban dari tentara dan polisi yang terungkap bisa lebih besar.

Tapi jika dibandingkan dengan jumlah korban aparat di Thailand yang hanya 970 orang, peperangan menghadapi kelompok separatis di Filipina tentunya lebih menakutkan.

Ada satu analisa menarik yang dilontarkan Richard Fernandez dalam kolomnya di Pajamas Media. Richard yang merupakan warga Australia turunan Filipina, adalah pengamat dari Universitas Harvard. Richard mengkritisi minimnya mobilitas taktis angkatan darat Filipina. Akses medan yang berat ditambah buruknya infrastruktur di Filipina Selatan memperparah itu. Pengejaran kelompok gerilya pun sukar dilakukan.

Selama ini, dalam soal mobilitas angkatan perang Filipina lebih bergantung kepada marinir ketimbang angkatan darat itu sendiri. Batalyon Scout Ranger dan pasukan khusus dari angkatan laut selalu jadi ujung tombak dalam setiap operasi.

Masalah muncul saat kurangnya mobilitas dan kemampuan bermanuver. Kondisi diperparah dengan lambannya bantuan dari pasukan pendukung. Kasus terkepungnya tentara Filipina hingga 10 jam dalam pertempuran 9 April lalu bisa jadi pembenar analisa ini.

Dalam konteks mobilitas meredam gerilyawan, Filipina bisa belajar dari Thailand. Alasan kelompok separatis di Thailand tak berani menyerang langsung karena ruang gerak mereka yang tertutup habis akibat akses-akses jalan mulus yang menembus hutan dan gunung. Jalan-jalan kecil berukuran lima meter itu tidak hanya beraspal tapi juga dibeton.

Di daerah konflik provinsi Pattani, pemerintah Thailand memberikan akses jalan mulus hanya untuk lima rumah yang terletak di atas bukit. Tak disangka, jalan-jalan inilah yang memudahkan tentara untuk melakukan penyergapan dan penangkapan gerilyawan.

Namun, Filipina bukanlah Thailand. Dalam kasus Pattani, Bangkok tak segan mengucurkan uang miliaran bath demi pembangunan yang pada ujungnya merayu agar kelompok pemberontak itu taubat. Lain hal dengan pemberontakan di Filipina Selatan yang diakibatkan tidak adanya pemerataan dan ketidakadilan dari Manila.

Di lain sisi, pada beberapa kasus pertarungan di Filipina seperti perang teritorial. Kelompok-kelompok besar seperti Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan Moro National Liberation Front (MNLF) hadir seperti sebuah negara memiliki pemerintahan dan wilayah yang tentara Filipina tak berani menyerangnya. Di lapangan, baik itu milisi ataupun tentara semuanya saling menahan diri.

Catatan Serangan di Filipina

Sejak awal 2013, MILF dan MNLF sebagai dua kelompok besar yang memiliki anggota ribuan terikat perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah. Meskinya perjanjian bisa meredam aksi serangan, nyatanya dalam periode 2013-2014, angka serangan ke militer atau polisi malah makin meningkat hingga 2 kali lipat ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Ini adalah catatan terburuk dalam konflik separatis di Filipina. Angka 138 serangan pada aparat keamanan di 2012, naik jadi 416 serangan, bertambah jadi 456 serangan pada dua tahun berikutnya.

Rincian pelaku serangan itu adalah kelompok Abu Sayyaf 42 kasus, BIFF 311 kasus, MILF 11 kasus, MNLF 6 kasus. Masuknya nama MILF dan MNLF jadi penegas bahwa pengingkaran perjanjian perdamaian acapkali dilakukan.

Menariknya, pelaku serangan tertinggi pada periode 2013-2014 adalah sayap militer partai komunis Filipina yakni National People's Army (NPA) dengan 417 kasus.

Dibanding militan berideologi kanan yang hanya terpusat di Filipina selatan, Area aksi NPA lebih luas dengan mencakup 38 provinsi di tiga pulau besar Luzon, Visayas dan Mindanao. Hanya saja tipikal mereka lebih kepada tindakan gerilya dengan pola hit and run. Intensitas NPA melakukan serangan tak lepas dari terfokusnya pemerintah Manila menangani konflik Moro.

Secara statistik, jumlah personel dan kekuatan militer, angkatan perang Filipina tentunya jauh unggul ketimbang kelompok-kelompok separatis di sana. Jadi sebuah pertanyaan kenapa mereka selalu terlihat kepayahan dan seolah konflik ini tak pernah usai entah itu dengan cara diplomasi ataupun operasi militer.

Penyebab semua itu mungkin candu bantuan uang yang dikeluarkan sekutu terdekat mereka yakni Amerika Serikat. Untuk menangani konflik dan memperkuat angkatan perang Filipina, Reuters mencatat sejak tahun 2002, AS sudah mengucurkan bantuan $500 juta.

Angka ini terus bertambah seiring ancaman Cina yang ingin berkuasa di Laut China Selatan. Jose Cuisia, Duta besar Filipina di Washington mengakui tahun ini bantuan itu diperkirakan mencapai $120 juta – terbesar dalam 15 tahun terakhir. Pada dasarnya konflik di Filipina Selatan ini bukan hanya berbicara statistik tentang jumlah korban dan kerugian, tapi juga soal uang.

Baca juga artikel terkait SANDERA atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Hukum
Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti