Carpooling, Solusi Mengurangi Kemacetan?

Infografik carpooling solusi kemacetan
Pekerja sedang menyelesaikan pembangunan jalan layang Pancoran, Jakarta, Kamis (21/9). tirto.id/Arimacs Wilander
Oleh: Terry Muthahhari - 6 November 2017
Dibaca Normal 3 menit
Carpooling disiapkan sebagai solusi untuk mengurangi mobil di jalan, tapi penerapannya tak semudah yang dibayangkan.
tirto.id - "Saya tiap pagi pergi ke kantor di Wisma 77 Slipi, jam 06.50-07.05 biasanya udah di Tol Barat, masih tersedia 4 tempat duduk kosong ke arah Slipi Jaya, Tomang, RS Harapan Kita...siapa mau gabung...?"

Ini adalah salah satu contoh pengalaman warganet yang memanfaatkan layanan berkendara dengan kendaraan pribadi sambil berbagi tumpangan yang ada dalam situsweb
www.nebeng.com. Istilah umumnya carpooling atau ridesharing atau nebeng yang marak beberapa tahun terakhir. Kegiatan nebeng ini macam-macam, mulai dari urusan berangkat ke kantor atau para perantau yang ingin pulang kampung setiap akhir pekan.

Carpooling dianggap sebagai solusi untuk mengurangi tingkat penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya terutama kota-kota besar. Pada akhirnya diharapkan bisa mengurangi kemacetan. Teorinya memang sederhana, dengan satu mobil, setidaknya bisa ditumpangi oleh beberapa orang yang sebelumnya memakai kendaraan pribadi untuk beraktivitas harian.

Namun, konsep nebeng tak hanya berlaku bagi masing-masing individu warga kota dengan jejaring media sosial. Penerapan solusi seperti ini juga pernah dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta melalui sistem zona 3-in-1 yang mewajibkan para pengendara untuk memaksimalkan jumlah orang di dalam mobil mereka. Melalui strategi ini, pengemudi mobil yang tidak mencapai kuota jumlah penumpang minimal tiga orang dalam satu mobil tak boleh melintasi zona 3-in-1 atau memutuskan untuk tidak mengendarai mobil pribadi untuk menghindari tilang.


Menurut penelitian Boston Consulting Group bersama Uber, penerapan ridesharing dapat menjadi alternatif mengurangi penggunaan jumlah kendaraan pribadi bisa dikurangi hingga 60 persen di Jakarta. Selain itu, kajian ini juga menunjukkan saat ini ada lebih dari 50 persen mobil di jalan yang hanya digunakan oleh 1 orang saja.

Merespons masalah ini, perusahaan pengembang aplikasi seperti UberPOOL, GrabHitch, GrabShare menyediakan fitur carpooling. Aplikasi ini memanfaatkan analisis data cepat yang akan menjodohkan calon penumpang dengan penumpang lain yang memiliki daerah tujuan yang sama. Sehingga tidak perlu repot-repot mencari teman seperjalanan.

Sistem ini memiliki potensi keuntungan karena di atas kertas bisa mengurangi jumlah ongkos transaportasi dan polusi hingga kepadatan kendaraan. Namun, ada kelemahan dari sistem carpooling sebagai sebuah alternatif moda transportasi.




Baca juga: Menghemat Uang dan Emisi Karbon dengan Layanan Ridesharing

Dalam laporan The Times of India, ada beberapa kendala serius dari praktek carpooling yang dirasakan oleh para komuter. Dimulai dari permasalahan waktu tempuh ke kantor yang bertambah karena harus berhenti untuk mengangkut penumpang sesama kawan perjalanan.

Di kota seperti Mumbai, India, menambah lokasi tujuan berarti menambah waktu terjebak dalam kemacetan. Selain itu, menunggu kolega kerja untuk berhenti menambah rasa frustrasi untuk para pekerja yang ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat. Bukan hanya itu, risiko pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan menjadi faktor yang juga dikhawatirkan dalam sistem carpooling.

Pengalaman para komuter di Mumbai tidak beda jauh dengan pengalaman warga Jakarta. Lukas, milenial yang sering nge-gym usai jam kerja di Mal Taman Anggrek, Jakarta. Lokasi kantor Lukas ada di pusat perkantoran Jalan Sudirman, sedangkan rumahnya berada di Pluit. Ia mengaku sudah minimal 20 kali menggunakan fitur carpooling.

Menurut Lukas, UberPOOL bisa dijadikan moda transportasi tidak dalam semua situasi. “Aku cuma pakai UberPOOL kalau misalnya udah tahu lagi nggak buru-buru,” jelas Lukas kepada Tirto.

Lukas punya alasan tidak selalu memanfaatkan carpooling seperti ketika ingin mengejar jam mulai kerja. Berdasarkan pengalamannya penumpang berpotensi menunggu hingga 45 menit jika menjadi penumpang kedua yang dijemput ketika menggunakan fitur carpooling.

Alogaritma aplikasi dalam mencocokan penumpang pengguna carpooling bisa saja canggih, tapi waktu tunggu bagi para pengguna bakal tetap tinggi karena menunggu rekan satu kendaraan, belum lagi soal imbas kemacetan di jalan.

Pengalaman Lukas senada dengan hasil riset Boston Consulting Group (BCG) bekerja sama dengan Uber, yang mengatakan memang harus ada peningkatan pelayanan dalam tiga aspek: waktu menunggu jemputan, harga yang harus lebih murah, dan waktu tempuh perjalanan untuk memaksimalkan tingkat adopsi carpooling. Adopsi moda transportasi carpooling masih membutuhkan waktu, atau tak secepat dengan menggunakan kendaraan pribadi yang tak memakai carpooling.

Sistem ini juga memang punya banyak kelemahan terutama karena faktor regulasi. Saat pengembang aplikasi mengembangkan carpooling, di sisi lain pemerintah belum konsisten soal pengendaliam populasi kendaraan terutama di kota besar seperti Jakarta. Persoalan ini juga menjadi ranah pemerintah pusat terutama soal pembiayaan kendaraan bermotor yang semakin mudah dan masif. Para pengembang aplikasi carpooling juga tak bisa dipungkiri punya peran dalam menambah populasi kendaraan baru.

Baca juga:
Sadar Darurat Macet Tapi Penjualan Mobil Terus Digenjot

Saat ini perusahaan transportasi daring tetap membuka kesempatan kepada masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi. Biasanya ditujukan kepada para driver yang belum memiliki mobil tetapi ingin bergabung dengan perusahaan taksi online dan sejenisnya. Upaya ini memang seperti berlawanan dengan konsep carpooling yang menghendaki penggunaan kendaraan yang sudah ada untuk saling berbagi tumpangan. Fasilitas ini malah akan membuka celah untuk menambah kendaraan baru di jalanan Jakarta.

John Colombo, Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia menjelaskan mengenai potensi ridesharing sebagai solusi moda transportasi masyarakat urban mengatakan “jadi kalau sebelumnya kita punya mobil, kita menyetir sendiri itu bukan ridesharing. Tapi kalau kita bagi tumpangan dengan yang lain. Misalnya, saya lagi mau ke kantor atau saya punya waktu tersisa, saya bisa memakai kendaraan yang sudah ada, bukan beli yang baru. Tapi pakai kendaraan yang sudah ada untuk berbagi tumpangan dengan warga yang lain,” jelas John.

Menurut rekomendasi dari studi Asian Development Bank (ADB) mengenai sistem transportasi di Indonesia (Agustus 2016), salah satu strategi pengurangan kemacetan yang harus terus dilakukan adalah perubahan paradigma mobilitas yang berbasis individu - yang memprioritaskan kepemilikan mobil dan motor - menjadi mobilitas berbasis masyarakat.

Mobilitas berbasis masyarakat direalisasikan dalam bentuk transportasi publik yang ramah lingkungan dan dapat digunakan secara massal. Upaya-upaya lain seperti carpooling memang sebuah alternatif untuk mengurangi populasi kendaraan pribadi di jalanan, tapi kenyataannya tak semudah konsepnya.

Baca juga artikel terkait KEMACETAN atau tulisan menarik lainnya Terry Muthahhari
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Terry Muthahhari
Penulis: Terry Muthahhari
Editor: Suhendra
DarkLight