Periksa Fakta

Cara Salah Mendeteksi Minyak Goreng Palsu

Penulis: Irma Garnesia - 16 Apr 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Tirto tidak menemukan cara mendeteksi keaslian minyak goreng dengan memasukkan minyak ke dalam kulkas atau cara-cara sejenis yang disebutkan.
tirto.id - Di tengah polemik kelangkaan minyak goreng yang terjadi sejak Februari tahun ini, banyak pula informasi meragukan yang tersebar di tengah masyarakat. Pada akhir Februari misalnya, sempat tersebar informasi bantuan minyak goreng gratis di setiap desa/kelurahan seluruh Indonesia. Nyatanya, pembagian minyak gratis hanya dilakukan di Madiun, Jawa Timur; dan Garut, Jawa Barat. Pembagian minyak goreng di Garutmisalnyadiberikan kepada kelompok lansia yang telah melakukan vaksinasi kedua.

Kali ini, sebuah akun Facebook bernama Dapur Sehat (tautan) membagikan unggahan berupa tangkapan layar dari TikTok pada 28 Maret lalu. Ia membagikan cara mendeteksi minyak goreng tak layak konsumsi (minyak limbah). Informasi serupa juga dibagikan oleh akun Facebook Herni (tautan) pada 2 April.

Periksa Fakta Keliru Cara Deteksi Minyak Goreng Palsu
Periksa Fakta Keliru Cara Deteksi Minyak Goreng Palsu. facebook/Dapur Sehat


Beberapa cara tersebut, seperti dapat dilihat pada tangkapan layar, adalah dengan memasukkan minyak goreng ke dalam kulkas selama dua jam. Lantas, jika minyak mengeluarkan busa putih, artinya minyak tersebut merupakan minyak limbah.

Cara kedua, ketika menumis sayur, taruh sedikit bawang putih di tumisan. Jika bawang putih berubah jadi merah, berarti yang digunakan adalah minyak limbah. Ketiga, masukkan minyak dalam mangkuk dan tambahkan satu sendok makan mentega kuning. Jika minyak tidak berubah warna, maka minyak aman dikonsumsi.

Akun Dapur Sehat tidak menyebut sumber informasinya, begitu pula akun TikTok yang mengunggah video ini pertama kali. Lantas, benarkah tips-tips yang disebutkan?

Penelusuran Fakta


Tirto menelusuri cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi keaslian minyak goreng melalui mesin pencari Google. Salah satu sumber terpercaya untuk mencari informasi ini adalah GIMNI (Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia).

Di laman GIMNI disebutkan ada tiga jenis proses menggoreng, dan ini ada kaitannya dengan kualitas minyak goreng setelah dipakai berulang kali.

Jenis pertama: shallow frying, atau biasa disebut menumis dalam waktu singkat. Kedua, ada regular frying, yaitu proses menggoreng tempe, ikan, dan bahan lainnya dengan temperatur 90 hingga 120 derajat celcius dan relatif lama. Lalu ada deep frying, atau proses menggoreng di atas 170 derajat dalam waktu lama, dan biasanya dilakukan di industri makanan cepat saji.

Selama proses penggorengan, akan terjadi proses oksidasi, hidrolisa, dan polimerisasi pada akhir proses penggorengan, apalagi pada minyak yang dipakai berkali-kali. Minyak goreng yang memiliki komposisi utama trigliserida yang berasal dari bahan nabati akan mengalami perubahan kimiawi, dan trigliserida akan berubah bentuk menjadi “polar compounds” atau senyawa polar. Kualitas minyak yang digunakan berulang kali untuk menggoreng dapat dilihat dari kandungan total senyawa polarnya.

Senyawa polar akan tetap berada di dalam minyak jelantah, tidak akan terpisah bila hanya diolah dengan penyaringan/penjernihan warna biasa saja. Senyawa polar ini bersifat toxin dan bila dikonsumsi akan bereaksi dengan DNA dan RNA.

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI meminta masyarakat lebih waspada terhadap peredaran minyak goreng bekas pakai yang didaur ulang. Dari laman GIMNI, cara termudah untuk melakukan pengujian apakah minyak goreng ini murni (belum terpakai) atau berasal dari jelantah, adalah sebagai berikut:

1) Tuangkan minyak goreng ke atas panci penggorengan, lalu dipanaskan selama 1 hingga 1,5 menit.

2) Buka kertas minyak dan posisikan di atas panci dengan jarak sekitar 18 hingga 20 cm di atasnya.

3) Amati selama 3 menit. Apabila jumlah bercak atau titik-titik pada kertas ada lebih dari 10 titik, maka minyak tersebut merupakan minyak bekas (banyak polar compounds atau senyawa polar yang mudah menguap).

Selain dari GIMNI, Vella Rohmayani, peneliti di bidang Biologi Sel, Parasitologi, dan Bakteriologi, sekaligus Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) menjelaskan cara mendeteksi minyak goreng asli dan palsu.

Menurut Vella, Uji organoleptic dapat dilakukan untuk mendeteksi minyak asli dan palsu. Cara ini meliputi deteksi warna, bau, penampakan dan tekstur.

Pertama, dari warna minyak goreng. Minyak goreng asli memiliki warna kuning hingga kuning pucat. Jika warna terlihat lebih gelap, maka itu tidak normal atau termasuk minyak goreng palsu.

Kedua, dari bau minyak goreng. Minyak goreng asli memiliki bau khas seperti bau kelapa atau cenderung tidak berbau. Jika tercium bau lain, seperti bau tengik dan amis, maka minyak goreng sudah tidak baik kualitasnya. Bau amis biasanya disebabkan dari hasil oplosan atau gabungan antara minyak baru dan bekas.

Ketiga dari tekstur minyak goreng. Minyak goreng yang asli umumnya memiliki tekstur cair dan encer, berbeda dengan minyak goreng palsu yang memiliki tekstur lebih kental. Mengingat minyak palsu terbuat dari minyak bekas, maka tentunya sudah digunakan untuk menggoreng secara berulang.

Sedangkan untuk menghindari merek-merek minyak goreng yang tidak berizin, masyarakat dapat mengecek langsung melalui situs resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah-langkah cek izin edar BPOM adalah sebagai berikut:

  • Buka situs https://cekbpom.pom.go.id/.
  • Pada kolom “Cari Produk”, pilih cari berdasarkan "MERK".
  • Masukan merek minyak goreng yang ingin dibeli di bagian kata kunci.
  • Klik “CARI”, kemudian akan muncul nama produk yang dicari, lengkap dengan informasi seperti nomor registrasi dan pendaftar.
Sementara itu, dari dua sumber rujukan, Tirto tidak menemukan cara mendeteksi keaslian minyak goreng dengan cara memasukkan minyak ke dalam kulkas dan mengamati apakah minyak mengeluarkan busa berwarna putih. Tidak ada pula tips untuk mencampurkan bawang putih ke minyak hasil tumis dan melihat apakah bawang berubah jadi warna merah. Termasuk, minyak yang akan berubah warna jika dicampur satu sendok makan mentega.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, ada cara-cara yang lebih ilmiah yang dapat dilakukan untuk mengecek keaslian minyak goreng. Cara yang dibagikan di Facebook tidak memiliki basis tertentu dan tidak dijelaskan sumbernya. Informasi tersebut bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6287777979487 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight