Cara Pemerintah Jaga Devisa Negara Setelah CAD Kuartal III Bengkak

Oleh: Hendra Friana - 12 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Menkeu Sri Mulyani anggap defisit ini wajar di tengah pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sudah cegah pembengkakan meski belum optimal.
tirto.id - Defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal III/2018 membengkak hingga 3,37% atau 8,8 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya yang masih tercatat sebesar 8 miliar dolar AS atau 3,02 persen terhadap PDB.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut kenaikan CAD ini wajar di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini memang berdampak pada meningkatnya permintaan masyarakat terhadap barang impor.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang tercatat 5,06%, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2018 memang membaik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi mampu melaju ke angka 5,17%.

“Kebutuhan ekonominya ternyata sangat meningkat. Di satu sisi kita senang pertumbuhan ekonomi kita tinggi tapi konsekuensinya, kan, permintaan terhadap barang-barang impor meningkat,” kata Sri Mulyani usai rapat di kementerian koordinator perekonomian, Jumat pekan lalu.


Upaya Preventif Belum Efektif

Kendati demikian, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman mengatakan peningkatan CAD pada kuartal III sesungguhnya terbebani penurunan kinerja neraca perdagangan yang disebabkan sektor migas.

Defisit neraca perdagangan migas tercatat menyentuh angka 3,527 miliar dolar AS--naik sebesar 767 juta dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,32 miliar dolar AS. Angka ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah atau setidaknya dalam kurun 5 tahun terakhir.

Selain itu defisit neraca jasa--khususnya transportasi--juga meningkat seiring peningkatan impor barang dan pelaksanaan ibadah haji. Untungnya, defisit lebih besar mampu tertahan dengan peningkatan pertumbuhan ekspor manufaktur dan surplus jasa perjalanan.

“Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara antara lain terkait penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang kemarin,” tutur Agusman.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan III/2018 juga mencatat surplus yang cukup besar karena meningkatnya aliran masuk investasi langsung: 4,2 miliar dolar AS. Begitu pula dengan alur dana asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta pinjaman luar negeri korporasi juga kembali.

Namun hal ini tak cukup untuk membiayai defisit CAD. Walhasil, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III/2018 defisit sebesar 4,4 miliar dolar AS. Ini menyebabkan posisi cadangan devisa pada akhir September 2018 menjadi sebesar 114,8 miliar dolar AS.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan CAD yang melebar di triwulan III memang sudah bisa diramalkan sejak keluarannya data pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Data itu mengindikasikan peningkatan permintaan barang impor, terlebih langkah preventif seperti mandatori B20 untuk mengurangi impor migas serta kenaikan PPh impor baru migas baru keluar September lalu.

“B20 baru bulan pertama itu dan efektifnya juga baru 70 persen. Termasuk yang lain-lain. Artinya kebijakannya juga belum cukup berdampak pada transaksi berjalan,” ujarnya.

Infografik CI Ekspor impor


Proyeksi CAD dan Cadangan Devisa Akhir 2018

Meski demikian, Darmin tetap optimistis CAD triwulan IV bisa kembali membaik. Transaksi modal dan keuangan di akhir tahun, kata dia, akan mampu mengimbangi neraca pembayaran.

“Jadi tergantung transaksi modal dan keuangan berapa. Sampai dengan akhir 2017, misalnya, surplus, transaksi modal dan keuangan selalu bisa menutupi,” terangnya.

Ia memproyeksikan aliran dana dari pembayaran utang dan dividen diperkirakan menekan CAD hingga akhir tahun. “Mestinya persentase terhadap kuartal IV bisa menurun. Cuma saya belum bisa lihat berapa menurunnya,” imbuh mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro memperkirakan CAD tahun ini dapat mencapai 2,88% dari PDB. Sementara untuk cadangan devisa, kata dia, diperkirakan mencapai sekitar 115-116 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan akhir 2017 yang sebesar 130 miliar dolar AS.

“Kuartal IV defisit transaksi berjalannya mungkin karena ada laju income repatriation, akan turun. kalau trade balance, sih, mungkin masih negatif,” terangnya saat dihubungi reporter Tirto.

Namun demikian, ia meyakini CAD tidak akan melebihi 3% tahun ini. Dengan demikian, potensi defisit pada neraca pembayaran dapat ditekan seiring dengan perbaikan di sektor investasi.

“Hitungan kami 2,8-2,9% forecast CAD-nya. Kalau 2,5% berat, soalnya forecast CAD-nya tahun ini sudah tinggi year to date-nya,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait CADANGAN DEVISA atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Mufti Sholih