Cara Merencanakan Kehamilan dengan Pertimbangan Ekonomi & Kesehatan

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 16 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Cara merencanakan jarak kehamilan antar satu anak dengan anak lain penting demi kesehatan dan juga ekonomi keluarga.
tirto.id - Kehamilan merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan suami istri. Akan tetapi, beberapa kehamilan terjadi tanpa direncanakan seperti kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat. Kehamilan ini bisa jadi justru membebani sebuah keluarga itu sendiri karena tidak terjadi perencanaan.

Mengutip BBC, seorang ibu bisa hamil kembali setelah menunggu setidaknya satu tahun sejak terakhir melahirkan. Hamil dengan jarak waktu kurang dari satu tahun akan membawa risiko kesehatan bagi ibu dan anak. Dengan jarak yang sebentar, bayi berpotensi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan kurang, bahkan kematian pada bayi dan ibu.

Sebuah penelitian seperti dilaporkan Save Motherhood Week menunjukkan ada potensi negatif ketika wanita hamil kurang dari 11 bulan setelah melahirkan. Mereka memiliki peluang lebih tinggi diinduksi saat kelahiran selanjutnya sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa wanita hamil kurang dari enam bulan setelah melahirkan memiliki risiko 70 persen lebih tinggi untuk kelahiran prematur. Angka ini risiko prematur ini lebih tinggi ketimbang wanita dengan interval antar kehamilan yang optimal.

Risiko Ekonomi Kehamilan Jarak Dekat


Beban finansial juga muncul ketika kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat terjadi. Beban kehamilan yang baru dan tidak direncanakan akan menambah biaya pengelolaan keuangan, sebagaimana dikutip dari Siap Nikah. Siap Nikah adalah situs yang dikelola Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan kebutuhan nutrisi ibu hamil tentu menambah beban keuangan keluarga. Biaya ini pun akan meningkat jika kehamilan ibu bermasalah. Sementara itu, kehamilan jarak dekat tentu mengandung risiko lebih besar dibandingkan kehamilan sebelumnya.

Orang tua harus menyisihkan biaya kontrol dokter rutin, biaya persalinan, hingga biaya perlengkapan bayi. Di sisi lain, ibu belum lama melahirkan di mana si kecil juga membutuhkan biaya lebih untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkannya demi tumbuh kembang optimal. Tabungan pun belum terisi kembali, dan anggaran darurat akan terpakai juga.

Untuk ibu bekerja, jarak kehamilan yang dekat biasanya akan memunculkan keraguan untuk tetap bekerja atau justru berhenti. Tidak sedikit yang wanita yang kesulitan bekerja penuh waktu seperti sebelumnya, ketika anak kedua atau ketiga belum lahir.

Bila bekerja, konsekuensinya adalah mencari pengasuh bayi yang cocok. Dalam hal ini pun, orang tua harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak lagi.

Oleh karenanya, penting untuk merencanakan kehamilan bersama pasangan salah satunya dengan memilih kontrasepsi yang tepat. Pastikan pula untuk mengenakan kontrasepsi dengan benar, cari tahu kapan Anda harus berkonsultasi kembali dengan ahli kesehatan sehubungan dengan kontrasepsi.

Menurut Mayo Clinic, jika telah menjadi orang tua dan memiliki anak, kehidupan keluarga akan berubah. Berikut adalah pertanyaan yang harus dijawab sebelum pasangan orang tua memutuskan memiliki anak kembali:

- Apakah Anda dan pasangan siap untuk merawat bayi yang baru lahir lagi?
- Bagaimana reaksi anak-anak Anda yang lain jika Anda harus membagi perhatian pada bayi yang baru lahir?
- Bagaimana interval kehamilan yang tepat untuk Anda dan pasangan?



Baca juga artikel terkait KEHAMILAN atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Agung DH
DarkLight