Cara Mengatasi OCD dengan Perawatan dan Psikoterapi hingga Obat

Kontributor: Dwi Nursanti, tirto.id - 4 Feb 2022 09:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Cara mengatasi OCD atau Obsessive Compulsive Disorder, dari terapi hingga obat.
tirto.id - OCD atau Obsessive Compulsive Disorder adalah sejenis gangguan mental yang menyebabkan pengidapya tidak dapat mengendalikan pikiran dan dorongan (obsesi) serta melakukan sesuatu secara berulang-ulang (kompulsi). Salah satu selebritas Tanah Air yang mengidap gangguan tersebut adalah Aliando Syarif.

Masalah kesehatan mental ini tidak hanya sekadar kebiasaan seperti menggigit kuku dan memikirkan hal negatif saja. Akan tetapi, pengidap tidak dapat menghentikan pikiran atau hal-hal yang berulang kali dilakukan, yang mana sebenarnya pengidap tidak ingin melakukannya dan tentu merupakan hal yang di luar kendali.

Sebagai misal dalam kategori kebiasaan kompulsif, yaitu mencuci tangan. Orang normal mungkin akan mencuci tangan beberapa kali sehari dengan sewajarnya. Pada pengidap OCD, mencuci tangan bisa dilakukan dengan durasi yang sangat sering hingga hal ini mempengaruhi kehidupan pengidapnya secara signifikan.

Contoh dalam kategori pikiran obsesif, yaitu khawatir berlebihan dengan keselamatan diri sendiri atau orang lain. Contoh lain, kecurigaan yang berlebihan kepada pasangan disertai perilaku yang tidak wajar.

Menukil dari situs Antara, sebenarnya OCD terdiri dari berbagai bentuk. Namun, kebanyakan kasus yang sering muncul ialah memeriksa, kontaminasi, simetri dan keteraturan, serta pikiran yang mengganggu.

  • Contoh kategori memeriksa yaitu memeriksa gas, sakelar lampu, dan kunci secara berulang ketika akan bepergian.
  • Contoh kategori kontaminasi yaitu mencuci tangan secara berulang karena ketakutan akan kontaminasi kuman.
  • Contoh kategori simetri dan keteraturan yaitu penataan sepatu di lemari yang lurus menghadap depan dan sesuai warna. Hal ini akan menganggu pikiran si pengidap apabila sepatu tidak semetris dan sedikit berantakan.
Sebenarnya banyak di antara pengidap OCD mengetahui bahwa pikiran dan hal-hal yang mereka lakukan secara berulang merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Pun pengidap OCD juga sama sekali tidak menikmati pikiran dan hal tersebut. Akan tetapi, seperti yang dikatakan di awal, pengidap OCD hanya tidak bisa menghentikan kebiasaan tersebut. Ketika mereka berhenti, mereka justru kian semakin cemas.

Diagnosis OCD



Berikut sejumlah langkah-langkah untuk membantu diagnosis OCD sesuai dengan keterangan Mayo Clinic.

1. Evaluasi psikologis

Psikiater akan melontarkan sejumlah pertanyaan dan bertukar pikiran ihwal pikiran, perasaan, dan gejala serta pola perilaku dengan pasien. Nantinya, hasil ini yang akan menjadi patokan untuk menentukan pasien memang memiliki obsesi dan perilaku kompulsi atau tidak. Apabila dibutuhkan, psikater juga akan berbicara dengan keluarga atau orang terdekat pasien dengan catatan pasien tersebut memperbolehkan.

2. Kriteria diagnostik untuk OCD

Psikiater akan menggunakan panduan dengan kriteria yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) untuk mendiagnosis OCD. DSM-5 ini diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

3. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari tahu apakah ada organ tubuh yang mempengaruhi munculnya gejala OCD atau tidak.


Psikiater kadang-kadang sulit untuk mendiagnosis OCD karena sejumlah gejala OCD mirip dengan gejala gangguan depresi, kecemasan, skizofrenia dan beberapa gangguan kesehatan mental lainnya. Untuk itu pasien diharap bisa kooperatif dengan psikiater agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Adapun treatment untuk OCD adalah dengan psikoterapi dan obat-obatan. Pengidap OCD bisa mendapatkan salah satu treatment tersebut, namun terkadang psikiater juga menyarankan kombinasi keduanya.


Terapi dan Obat Medis



Laman resmi National Health Service melansir 2 treatment untuk menangani OCD. Berikut penjelasannya.

1. Psikoterapi

Jenis terapi yang digunakan adalah Cognitive Behavioural Therapy (CBT) dan Exposure and Response Prevention (ERP).

Dalam metode terapi tersebut, pasien akan diajak bekerja sama dengan terapis untuk memecah masalah yang dialami, meliputi pikiran, perasaan fisik, dan tindakan. Pemecahan tersebut bertujuan untuk menghadapi ketakutan dan kecemasan yang selama ini dialami pasien.

2. Obat

Obat-obatan akan diresepkan kepada pasien apabila psikoterapi tidak cukup membantu dalam menangani OCD pasien, atau jika gejala OCD yang dialami bertambah parah.

Adapun obat utama yang diresepkan adalah antidepresan jenis Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI). SSRI bekerja dengan cara meningkatkan kadar serotonin (hormon pemberi perasaan nyaman dan senang) di otak.

Tidak hanya antidepresan saja. Obat lain juga mungkin akan diresepkan oleh psikiater sesuai dengan gejala yang dialami pasien.


Penanganan lebih lanjut oleh tim spesialis mungkin akan dilakukan apabila pasien tidak kunjung membaik dengan 2 treatment yang sudah dilakukan di atas. Sementara itu, beberapa orang dengan OCD yang sangat parah, jangka panjang, dan sulit diobati akan dirujuk ke layanan OCD spesialis nasional.




Baca juga artikel terkait OCD atau tulisan menarik lainnya Dwi Nursanti
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dwi Nursanti
Penulis: Dwi Nursanti
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight