Cara Mengatasi Anak Jenuh Belajar di Rumah saat Pandemi Covid-19

Oleh: Anisa Wakidah - 29 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Cara mengatasi anak jenuh saat belajar di rumah di situasi pandemi Covid-19 dapat dilakukan dengan terus memberikan perhatian kepada mereka. Ajak anak-anak untuk melakukan kegiatan bervariatif.
tirto.id - Aktivitas belajar di rumah selama masa pandemi tak hanya memunculkan sejumlah kendala, seperti menimbulkan kejenuhan pada beberapa anak. Untuk itu, orang tua memang dituntut untuk lebih kreatif dalam membangun interaksi dengan anak. Interaksi baik yang terbangun nantinya diharapkan bisa membuat anak tidak begitu kehilangan interaksi fisik yang biasanya dimiliki di sekolah bersama dengan teman-temannya.

Perapkan sistem pembelajaran daring menjadikan orang tua sebagai wakil guru bagi anak-anak. Dilansir dari cdc.gov peran serta orang tua dalam kegiatan belajar akan berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan penyesuaian kelompok usia anak.

Pada kelompok usia anak prasekolah dan sekolah dasar peran orang tua secara fisik misalnya dalam membantu anak menghidupkan perangkat, membaca instruksi dari sekolah, serta dalam mengetik jawaban.

Dilansir dari unicef.org Robert Jenkins, Kepala Pendidikan Global UNICEF (30/4) memberikan 5 tips untuk membantu belajar anak selama pembelajaran di rumah.

1. Membuat jadwal rutinitas yang fleksibel

Membuat jadwal dan membangun rutinitas merupakan hal yang perlu diperhatikan dengan mempertimbangkan kelompok usia anak. Jadwal rutinitas yang dapat Anda susun misalnya, jadwal tidur yang konsisten dan waktu bangun konsisten, serta faktor waktu bermain dan waktu untuk membaca. Anda dapat juga menggunakan kegiatan sehari-hari sebagai kesempatan belajar untuk anak-anak Anda.

Walaupun menetapkan rutinitas terstruktur merupakan hal yang penting bagi anak-anak dan remaja, namun orang tua juga perlu mempertimbangkan fleksibilitas tertentu. Fleksibilitas itu misalnya jika Anda menemui anak-anak mulai tampak gelisah ketika Anda mencoba mengikuti program pembelajaran online bersama mereka, Anda dapat beralih pada opsi yang lebih aktif. Contohnya dengan melakukan tugas rumah bersama yang juga merupakan bentuk pengembangan fungsi motorik halus dan kasar bagi anak.

2. Membangun komunikasi yang terbuka dengan anak

Dorong anak-anak untuk bertanya dan mengungkapkan perasaan mereka kepada Anda. Menggambar, cerita, dan kegiatan lainnya dapat membantu membuka diskusi. Ingatlah bahwa anak mungkin memiliki reaksi yang berbeda terhadap stres, jadi bersabarlah dan cobalah untuk lebih pengertian terhadap anak. Biarkan anak-anak berbicara dengan bebas tentang berbagai hal kepada Anda.

Ada saatnya anak-anak akan merasa khawatir dan cemas terhadap berbagai hal, misalnya tentang sekolah dan tugas-tugas maupun tentang isu-isu kesehatan. Pada situasi ini cobalah untuk tidak menghindari kekhawatiran mereka.

Pastikan untuk mengakui perasaan mereka dan meyakinkan mereka bahwa wajar untuk merasa takut tentang hal-hal tersebut. Tunjukkan bahwa Anda mendengarkan mereka dengan memberi perhatian penuh, dan pastikan mereka mengerti bahwa mereka dapat berbicara dengan Anda dan guru mereka kapan pun mereka mau. Peringatkan mereka tentang berita palsu dan dorong anak-anak untuk menggunakan sumber informasi tepercaya.

3. Luangkan waktu

Penting bagi orang tua untuk meluangkan waktu dalam menemani belajar anak. Anda dapat memulai sesi belajar yang lebih singkat dan secara progresif lebih lama. Jika target waktu belajar antara 30 atau 40 menit, Anda dapat memulai dengan 10 menit kemudian membangun semangat dari waktu itu. Selama proses belajar, kombinasikan waktu belajar online dengan aktifitas offline seperti latihan mengerjakan tugas.

4. Lindungi anak-anak secara online

Platform digital memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk terus belajar, bermain atau berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Tetapi, peningkatan akses online juga membawa risiko tinggi bagi keselamatan dan privasi anak. Anda dapat mendiskusikan dengan anak hal-hal yang perlu anak ketahui, dan seperti apa perilaku yang sesuai pada platform yang mereka gunakan, misalnya pada panggilan video sehingga anak-anak tahu cara kerjanya.

Diskusikan aturan bersama dengan anak Anda tentang bagaimana, kapan dan di mana akses internet dapat digunakan. Anda juga dapat mengatur pengaturan kontrol orang tua pada perangkat untuk mengurangi risiko, terutama untuk anak-anak prasekolah dan sekolah dasar.

Identifikasi aplikasi dalam perangkat anak, baik pada aplikasi media yang digunakan anak Anda untuk berkomunikasi dengan teman maupun aplikasi permainan dan hiburan daring lainnya yang disesuaikan dengan usia anak. Pada kasus cyberbullying atau insiden konten yang tidak pantas secara online, kenali sekolah dan mekanisme pelaporan lokal lainnya. Jangan lupa bahwa anak-anak atau remaja tidak perlu berbagi foto diri mereka atau informasi pribadi lainnya untuk mengakses pembelajaran digital.

5. Tetap berkomunikasi dengan sekolah anak Anda

Komunikasikan tantangan yang anak-anak hadapi ke sekolah anak Anda. Misalnya, ketika Anda menghadapi masalah teknologi atau konektivitas, atau jika anak Anda kesulitan menyelesaikan tugas, maka penting untuk tetap berkomunikasi dengan sekolah. Kelompok diskusi orang tua juga bisa menjadi cara yang baik untuk saling mendukung selama masa pembelajaran di rumah.


Baca juga artikel terkait BELAJAR DI RUMAH atau tulisan menarik lainnya Anisa Wakidah
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Anisa Wakidah
Penulis: Anisa Wakidah
Editor: Agung DH
DarkLight