Cara Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak dengan Mengajarkan Puasa

Kontributor: Cornelia Agata Wiji Setianingrum - 30 Apr 2020 21:20 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Mengajarkan ibadah puasa pada bulan Ramadhan bisa menjadi sarana untuk mengasah kecerdasan spiritual pada anak.
tirto.id - Bulan Ramadhan menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Selain menjalankan puasa, umat Islam juga terbiasa meningkatkan amalan ibadah pada bulan ini.

Bulan Ramadhan juga dapat menjadi kesempatan bagi para orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anaknya cara berpuasa sesuai ajaran Islam.

Meski puasa mengharuskan untuk menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, ibadah ini masih bisa diajarkan kepada anak-anak sesuai dengan kemampuan mereka.

Bagi anak-anak yang belum mampu menahan lapar dan haus selama seharia, mereka bisa diajak berpuasa selama beberapa jam saja.

Perlu diketahui, sebagaimana dilansir laman Kementerian Kesehatan, puasa juga bisa memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh. Setidaknya ada tiga manfaat puasa bagi kesehatan.

Pertama, puasa menjadi momentum bagi tubuh untuk dapat melakukan proses detoksifikasi, atau pembuangan zat-zat beracun yang tidak diperlukan, secara lebih optimal.

Kedua, berpuasa juga bisa memberikan waktu pada sel-sel dalam organ tubuh untuk melakukan proses regenerasi dengan baik.

Ketiga, puasa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena fungsi dari sel-sel getah bening akan membaik.

Selain itu, puasa dapat pula menjadi sarana mengasah kecerdasan spiritual pada anak-anak yang baru belajar menjalankan ibadah ini.

Para orang tua biasanya sudah memahami bagaimana cara mengelola kecerdasan spiritual. Namun anak-anak masih membutuhkan bimbingan untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual.

Dalam buku Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Melalui Pembelajaran Membaca Sastra (2014), disebutkan bahwa konsep kecerdasan spiritual pertama kali muncul dari hasil riset Danah Zohar dan Ian Marshall pada akhir Abad 20.

Kecerdasan spiritual dimaknai sebagai kemampuan menghadapi sekaligus memecahkan masalah makna dan nilai dalam kehidupan. Kecerdasan spiritual menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya (Hlm. 21). Kecerdasan spiritual diperlukan untuk membuat fungsi kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional secara lebih efektif.

Pengembangan kecerdasan spiritual sejak dini pada anak-anak bisa dilakukan dengan sejumlah cara. Salah satunya dengan mengajarkan ibadah puasa.

Cara tersebut bisa diawali dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya menjalankan ibadah puasa, khususnya pada bulan Ramadhan.

Lalu, orang tua bisa memberikan pengetahuan soal waktu berpuasa dan cara menjalankan ibadah ini. Untuk mengasah kecerdasan spiritual anak, para orang tua disarankan untuk mengajarkan cara beribadah puasa kepada buah hati mereka sejak usia empat tahun.

Anak-anak dapat dibimbing untuk melaksanakan ibadah puasa secara bertahap. Misalnya, mulai dari berpuasa setengah hari, kemudian puasa hingga jam tiga sore, lalu puasa secara penuh.

Anda bisa memberikan reward kepada anak bila mencapai suatu tahapan puasa yang lebih tinggi. Reward yang diberikan tentunya bisa yang berhubungan dengan ilmu kerohanian seperti mainan interaktif yang berguna untuk belajar agama.

Ibadah lain yang dilakukan selama puasa juga penting diajarkan kepada anak. Para orang tua bisa dapat memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang sejumlah jenis ibadah wajib dan sunnah, seperti sholat fardhu, sholat tarawih, membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya.

Ketika orang tua sudah terbiasa mengajarkan ibadah puasa kepada anak-anak, buah hati mereka akan mengingat semua hal itu hingga beranjak dewasa. Dengan demikian, kecerdasan spiritual anak mulai terasah.

Kecerdasan Spiritual tidak hanya berguna untuk mendekatkan anak pada Tuhan namun juga dapat membuat mereka lebih menyayangi lingkungan, sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.


Baca juga artikel terkait PUASA atau tulisan menarik lainnya Cornelia Agata Wiji Setianingrum
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Cornelia Agata Wiji Setianingrum
Penulis: Cornelia Agata Wiji Setianingrum
Editor: Addi M Idhom

DarkLight