Cara Memilih Kontrasepsi Tepat untuk Perencanaan Keluarga

Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Rahim kering, jerawatan, gemuk, tidak nyaman, dan ngeri adalah beragam mitos yang beredar seputar pemakaian kontrasepsi.
tirto.id - Mengatur jarak kehamilan dan memilih kontrasepsi bisa jadi hal yang paling merepotkan bagi pasangan yang ingin memulai perencanaan keluarga. Banyak mitos yang beredar mulai dari rahim kering, rasa sakit, efek gemuk, jerawatan, hingga rasa tidak nyaman membuat pasangan ngeri mencoba alat kontrasepsi yang cocok. Padahal, ada banyak macam alat kontrasepsi yang bisa dijadikan alternatif untuk perencanaan keluarga.

Perencanaan keluarga adalah poin penting yang harus dipersiapkan setelah menikah. Dengan perencanaan keluarga yang matang, pasangan bisa mengembangkan diri dan karier. Kemampuan untuk merencanakan kehamilan termasuk memilih kontrasepsi juga dipercaya dapat meningkatkan kesehatan mental dan kebahagiaan bagi perempuan. Di sisi lain, kasih sayang dan kebutuhan finansial untuk anak bisa dimaksimalkan.

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan Tirsa Verani mengelompokkan metode kontrasepsi berdasarkan masa perlindungan menjadi tiga jenis. Pertama adalah kontrasepsi hormonal yang terdiri dari IUD hormonal, implan, pil KB, kontrasepsi darurat, dan suntikan KB. Lalu kontrasepsi non-hormonal yang terdiri dari IUD non-hormonal, kondom, serta sterilisasi (tubektomi, dan vasektomi). Terakhir kontrasepsi alami berdasar metode kalender, senggama terputus, dan metode menyusui.

Tapi, secara umum, penggunaan kontrasepsi di seluruh dunia masih didominasi oleh perempuan, sehingga keluhan seputar metode ini masih banyak disuarakan oleh perempuan, meski kemampuan reproduksi dan memilih kontrasepsi juga dimiliki laki-laki. Salah satu kekhawatiran yang paling sering membikin perempuan takut memilih kontrasepsi adalah mitos tentang rahim kering.

“Begitu perempuan berhenti menggunakan kontrasepsi, menstruasi dan kesuburan mereka akan segera kembali normal,” papar Tirsa saat ditemui Tirto dalam acara Pil KB Andalan FE di Bogor (25/3) mengklarifikasi mitos tersebut.


Saat mengonsumsi pil KB, berkurangnya darah menstruasi bukan akibat dari rahim kering melainkan perubahan ketebalan dinding rahim dari efek hormon progesteron dalam pil. Kesuburan akan segera kembali dalam hitungan hari sampai minggu, setelah berhenti mengonsumsi pil KB. Kontrasepsi jenis ini bersama suntik KB juga mengandung hormon estrogen yang bisa menekan kadar hormon androgen dalam tubuh sehingga produksi minyak menurun dan mengurangi jerawat.

“Pil KB juga sudah ada yang kadar estrogennya rendah jadi tidak bikin gemuk.”

Tapi meski begitu, masih banyak perempuan yang percaya bahwa penggunaan kontrasepsi jangka panjang dapat mempersulit kehamilan di kemudian hari. Pendapat itu tak sepenuhnya salah. Laman Better Health menyebut beberapa metode kontrasepsi memang memberi efek demikian, seperti pada metode suntikan kontrasepsi yang butuh waktu 12-18 bulan agar hormon dalam suntikan benar-benar hilang dari tubuh. Atau metode sterilisasi yang memang menghentikan peluang kehamilan di kemudian hari.

Laman tersebut merangkum beberapa mitos lain seputar kontrasepsi, di antaranya mencegah kehamilan dengan senggama terputus, yakni mencabut penis sebelum ejakulasi. Faktanya, metode ini kurang efektif karena sperma bisa tersisa di ujung penis sebelum ejakulasi dan menyebabkan pembuahan.

Lalu menyoal mitos mengurangi risiko hamil selama berhubungan seks saat menstruasi. Padahal, ovulasi (periode saat telur dilepaskan) dapat terjadi lebih awal. Ditambah, sperma memiliki masa hidup hingga beberapa hari dalam tubuh sehingga memungkinkan pembuahan beberapa hari setelah berhubungan seks tanpa pelindung.

“Makanya penting untuk konsultasi untuk mengetahui info dan memilih KB yang tepat,” kata Tirsa.


Memilih KB yang Tepat

“Awalnya pengen punya dua anak, tapi ternyata aku belum mampu untuk nambah, jadi sementara satu dulu.”

Artasya Sudirman, seorang penyiar di salah satu stasiun radio ibukota mengungkapkan motivasi memilih menunda kehamilan keduanya. Saat melahirkan anak pertama, perempuan yang akrab dipanggil Tasya ini paham bahwa perencanaan kehamilan yang tepat dibutuhkan untuk memiliki anak. Jika jarak anak terlalu berdekatan, maka risiko kurang kasih sayang, gizi, dan finansial pendukung akan membayangi pertumbuhan anak.

Ditambah lagi, Tasya selalu mengalami pusing dan mual selama menstruasi pasca-melahirkan. Gejala itu termasuk tanda-tanda anemia, masalah kesehatan yang jamak ditemui pada perempuan Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menyebut satu dari tiga ibu di Indonesia terkena anemia dan 60 persen di antaranya akibat kekurangan zat besi.

“Padahal, saya diharuskan aktif karena masih menjadi istri, ibu, anak, sahabat, dan diri sendiri,” ungkap Tasya. Baginya menunda kehamilan merupakan salah satu cara ia memaksimalkan potensi diri sebagai seorang perempuan dalam berkarier sekaligus membangun keluarga harmonis. 'Women empowerment'," ujar Tasya di acara #AktifTanpaAnemia yang diadakan di Bogor, Senin (25/3).


Saat ini terdapat banyak jenis kontrasepsi yang bisa dipilih untuk mengatasi beragam masalah seperti yang dikeluhkan Tasya. Norina Veronica, manajer produk Andalan Kontrasepsi, salah satu produk dari DKT Indonesia, menyatakan bahwa untuk produk pil KB saja mereka menyediakan berbagai komposisi berbeda, yakni pil KB FE, pil KB kombinasi, dan pil KB laktasi.

Pil KB FE memiliki zat besi yang berguna untuk mengurangi gejala anemia saat menstruasi, seperti yang dialami Tasya. Lalu pil KB kombinasi mengandung progesteron dan estrogen untuk memelihara kesehatan kulit, siklus menstruasi, dan alat reproduksi. Terakhir pil KB laktasi diproduksi dengan kandungan hanya progesteron sehingga tidak mengganggu produksi dan kualitas ASI.

“Tinggal pilih mana yang cocok dengan kondisi masing-masing ibu,” kata Nori.

Infografik Mitos VS Fakta Kontrasepsi
Infografik Mitos VS Fakta Kontrasepsi. tirto.id/AlfiaAquita


Dengan tingkat kegagalan kurang dari 1 persen, pil KB efektif menunda kehamilan jika diminum secara teratur. Ditambahkan dokter Tirsa, penggunaan pil KB tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan yang sudah menikah. Perempuan lajang dengan riwayat sakit, nyeri, dan haid tidak teratur pun bisa menggunakan alat kontrasepsi ini sebagai terapi pengobatan.

“Saat haid kita mengeluarkan banyak darah, ditambah perempuan Indonesia kurang asupan daging merah dan sayuran hijau sehingga lebih rentan terkena anemia dibanding negara lain,” ungkap Tirsa. “Tambahan zat besi pada plasebo pil KB bisa merangsang pembentukan sel darah merah.”

Riset terbaru Lisa Iversen (2018) yang diterbitkan British Medical Journal menyebutkan konsumsi pil KB bisa mengurangi risiko kanker ovarium. Studi pada 1,9 juta perempuan berumur 19-49 tahun ini menemukan korelasi antara konsumsi pil KB kombinasi dengan berkurangnya risiko kanker overium sebanyak 21 persen.


Namun, jika penggunaan pil KB dianggap merepotkan karena harus dikonsumsi setiap hari, masih ada alternatif lain berupa suntik KB per 1-3 bulan sekali, IUD untuk perlindungan 3-5 tahun, implan 4 tahun, kondom, kontrasepsi darurat, atau sterilisasi. Langkah memilih kontrasepsi bisa dimulai dari rencana memiliki anak. Jika pasangan memutuskan untuk tidak lagi memiliki anak, sterilisasi adalah metode kontrasepsi paling permanen.

Tapi, apabila kebutuhannya hanya menunda, maka perencanaan harus dikerucutkan antara pemakaian kontrasepsi hormonal atau non-hormonal baru kemudian memilih jangka waktu kontrasepsi. Kontrasepsi hormonal jangka pendek, terdiri dari pil KB atau suntikan KB. Kontrasepsi hormonal jangka panjang tersedia dalam bentukan implan KB atau IUD hormonal.

Sementara kontrasepsi non-hormonal jangka pendek bisa memakai kondom dan untuk kontrasepsi non-hormonal jangka panjang tersedia IUD tembaga yang tidak mengandung hormon.

Baca juga artikel terkait SEKS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf