Cara Mal-mal Bertahan dari Perubahan Zaman

Infografik Mal Dengan Konsep Kota
Harbour City Shopping Mall di Kowloon, Hong Kong. FOTO/Discoverhongkong.com
Oleh: Aulia Adam - 1 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Saat mal-mal dibangun lalu disulap jadi sebuah kota kecil. Cara ini salah satu upaya agar bisnis mal tetap langgeng di tengah perubahan zaman.
tirto.id - Pada awal 2000-an, saat tanda-tanda bisnis mal mulai mundur, seorang arsitek Chris Law di Cina mengusulkan konsep “kota terbuka” bagi San Li Tun, sebuah pusat bisnis di Beijing. Ia bermaksud membangun kotak-kotak besar yang kelak bisa dipakai jadi toko-toko di ruang terbuka publik. Law sudah melihat kecenderungan perubahan tabiat warga yang lebih ingin membeli pengalaman daripada sekadar jalan-jalan di mal.

Dibanding membangun parkiran dengan berton-ton aspal, ia lebih memilih membangun trotoar dan pepohonan untuk para pejalan kaki. Ia mendesain toko-toko dan restoran di dua plaza yang berbeda. Salah satunya dipenuhi atraksi air mancur dan layar-layar televisi besar, sementara lainnya lebih seperti “tempat tenang untuk membaca buku didampingi secangkir cappuccino”.

Law sengaja membangun pagar-agar dan lorong-lorong zigzag dengan konsep desa modern. Tak dinyana desain yang memang ramah pejalan kaki ini sukses mengundang pengunjung yang banyak. Pengembang bahkan meminta Law mendesain sebuah area pengembangan ritel di Chengdu. Proyek satu ini bahkan diracik desain dengan nilai-nilai budaya lokal, diapit intim barisan pepohonan dan toko-toko. Law bahkan menambahkan sebuah hotel, apartemen, dan gedung perkantoran.

Rupanya, mal yang disulap jadi bagian kota ini dianggap jadi salah satu jawaban dari sakaratul maut bisnis mal. Tak hanya pengembang San Li Tun di Cina yang mencoba konsep ini. Sejumlah kota-kota besar di dunia juga mulai mengembangkan konsep ini.

Salah satunya Oculus di New York. Dari luar desain bangunan itu terlihat macam pajangan tulang dinosaurus, tapi jelas gedung itu bukan cuma sekadar keindahan arsitektur, ada lebih dari 100 toko di dalamnya. Ada pula kantor pusat yang menghubungkannya Brookfield Place dan One World Trade Center. Oculus juga dilengkapi dengan 11 jalur subway dan titik yang dilewati kereta api. Setidaknya 50 ribu komuter mondar-mandir di sana setiap hari.

Westfield, pengembang Oculus, sengaja mengonsep mal mereka jadi tempat yang dilalui orang-orang. Mencoba mengubah fungsi mal agar lebih dekat dan dibutuhkan oleh pengunjung. Mal ini saja diberi jargon “New York yang Baru untuk Dijelajahi: Belanja, Makan, Minum, Bermain. Semua dalam satu besar.”

Di dunia, konsep ini sudah diadaptasi di sejumlah negara bagian AS maupun negara lainnya seperti Boxpark di London, Downtown Container Park di Las Vegas, dan Brickell City Centre.



Selain lebih menarik perhatian para konsumen, konsep ini rupanya lebih ramah lingkungan. Profesor arsitektural teknologi dari Universitas Harvard Ali Malkawi menjelaskan kepada The Guardian, “Kerangka yang lebih tipis membuat kemungkinan ventilasi natural dan pencahayaan jadi lebih efisien energi.” Konsep mal yang dibangun seperti kota ini juga membuat produksi asap kendaraan bermotor jauh lebih berkurang, karena menggunakan sistem transportasi umum ketimbang lahan parker sendiri.

Arsitek Friedrich Ludewig dari firma Acme yang merancang mal berkonsep urban di Melbourne, Australia, menilai perubahan ini penting. Sebab telah ada perubahan tabiat orang-orang zaman sekarang yang lebih senang berbelanja daring daripada datang ke toko-toko di mal.

Analisis tersebut sejalan dengan kondisi bisnis mal di dunia yang menurun. Salah satunya di Amerika Serikat. Dalam laporan TIME, analis ritel Jan Kniffen bahkan memprediksi lebih dari sepertiga mal di Amerika akan tutup pada 2017. Dari 1.100, sebanyak 400 mal di antaranya akan segera tutup. Sementara itu dari sisa 700 mal, hanya 250 mal yang akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

Penelitian Green Street, sebuah grup konsultan perumahan, bahkan menunjukkan 15 persen mal di AS akan tutup dalam 10 tahun ke depan. Selain perubahan kebiasaan belanja, kemajuan teknologi juga menjadi salah satu faktor utama yang mematikan industri mal. Seperti dilansir CNBC, Green Street perusahaan-perusahaan mal kehilangan jenama-jenama besar yang menyewa tempat mereka karena orang-orang yang berbelanja online meningkat. Berjualan online terbukti memangkas biaya sewa tempat di mal—yang harganya cukup besar.

Lain cerita dengan yang terjadi di Hong Kong. Hingga sekarang di pusat kotanya saja ada 300 pusat perbelanjaan yang masih ramai. Tapi mal-mal itu bukan gedung tinggi dengan lahan parkir luas, melainkan di dalam stasiun subway dan di sela-sela gedung pencakar langit. Toko-toko itu sengaja diselip di antara jalanan agar para pejalan kaki terpancing.

Di Hong Kong, sekitar sepuluh ribu orang bekerja, hidup, dan bermain—menghabiskan waktunya dalam satu megastruktur saja. Dan mal sengaja ditempatkan di persimpangan dari semua arus pejalan kaki, antara titik masuk ke dalam struktur dan perumahan, kantor, dan fungsi transit. Konsep mal seperti ini secara tak langsung juga didesain untuk bisa dilewatkan mata.

Misalnya Langham Place, gedung dengan 59 lantai itu punya satu hotel bintang lima dan ruangan kantor kelas A. Ia juga terkoneksi dengan subway dan terowongan sendiri, dengan estimasi 100 ribu orang yang melaluinya per hari.

Business Insider sepakat bahwa satu-satunya cara menyelamatkan industri ini adalah dengan beradaptasi mengubah konsep mal menjadi tempat orang-orang merasakan pengalaman-pengalaman yang tak dijual di tempat lain. Misalnya pengalaman menonton di bioskop, dan membuat restoran besar. Atau cara-cara lain yang bisa merayu pengunjung mendatangi mal lagi.

Mau tak mau, mal memang juga harus mengikuti hidup manusia yang dinamis, jika ingin tetap bertahan di kota-kota yang padat manusia.

Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra
DarkLight