Cara Kristen Kanan AS Ekspor Rumor COVID-19, Homofobia, Islamofobia

Oleh: Ahmad Zaenudin - 10 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Kelompok-kelompok Kristen Kanan AS ini merupakan pendukung Trump di pilpres 2020.
tirto.id - Pemerintahan Trump gagap menangani pandemi COVID-19 yang telah menewaskan hampir setengah juta jiwa di AS. Tak hanya gagap, pemerintahan Trump dan para pendukungnya juga kerap menyangkal bahaya virus Corona baru berdasarkan teori-teori konspirasi. Namun, rumor-rumor ngawur ini rupanya juga tak hanya disebarkan secara domestik, tapi juga ke luar negeri.

Menurut investigasi yang dipublikasikan OpenDemocracy--organisasi media asal Inggris--akhir Oktober silam, setengah lusin kelompok Kristiani beraliran kanan asal Amerika Serikat menghabiskan dana jutaan dolar guna mempromosikan kesesatan informasi terkait COVID-19 dan berbagai isu sosial dan kesehatan lainnya di Amerika Latin. Salah satu kelompok itu, misalnya, menyebut COVID-19 sebagai "upaya rekayasa sosial dan ideologis paling monumental dalam sejarah". Yang dimaksud "rekayasa" di sini merujuk pada Cina yang mereka tuduh sebagai pencipta SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

Beberapa kelompok Kristiani sayap kanan itu ialah Population Research Institute (PRI), American Society for the Defense of Tradition, Family and Property (TFP), CitizenGo, World Youth Alliance (WYA), dan The Billy Graham Evangelistic Association (BGEA). Selain melalui gereja-gereja berjejaring, mereka juga beroperasi via platform teknologi, misalnya menggunakan aplikasi ponsel seperti the FEMM app.

Dalam pandangan mereka, Corona berasal dari sebuah laboratorium di Cina, yakni Wuhan Institute of Virology. Kebetulan, Wuhan merupakan tempat munculnya SARS-CoV-2. Namun, merujuk laporan Joby Warrick untuk Washington Post, salah satu tugas Wuhan Institute of Virology memang meneliti virus, khususnya yang bermutasi dari kelelawar. Bahkan, selepas SARS melanda dunia pada awal dekade 2000-an silam, tim peneliti Wuhan Institute of Virology berhasil menemukan asal-muasal virus yang menewaskan sekitar 1.000 jiwa, yakni kelelawar ladam (Rhinolophidae) yang tinggal di gua-gua di Provinsi Yunnan, Cina. Tim peneliti juga telah menerbitkan lebih dari 40 makalah ilmiah, termasuk tentang varian-varian baru virus Corona.

Yang patut diingat, Warrick menulis bahwa tidak ada bukti apapun bahwa SARS-CoV-2 sengaja dibuat atau terlepas dari laboratorium Wuhan.

Sialnya, merujuk investigasi OpenDemocracy yang ditulis Diana Cariboni dan Isabella Cota, Presiden Donald Trump termasuk yang mempercayai kesesatan informasi ini. Sesuatu yang sesungguhnya tak terlalu mengherankan. Sebab, dalam tubuh kelompok Kristiani beraliran kanan yang menyebarluaskan kesesatan informasi soal COVID-19 ini, salah seorang pemimpinnya duduk berbarengan dengan Steve Bannon--mantan penasihat Presiden Trump--untuk melakukan lobi-lobi politik anti-Cina.

Ya, banyak kelompok-kelompok Kristiani sayap kanan itu berhubungan erat dengan Trump.

Tak ketinggalan, salah satu kelompok Kritiani sayap kanan yang menyebarkan kesesatan informasi di Amerika Latin itu mengklaim bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) "memanfaatkan COVID-19 untuk menyebarluaskan praktek aborsi". Tentu, sebagai sayap kanan, mereka sangat anti dengan aborsi yang dianggap merusak visi "keluarga tradisional". Sebagai kelompok yang menggaungkan indahnya "keluarga tradisional", mereka juga sangat anti-LGBT. Di Amerika Latin sendiri, tempat beroperasinya kelompok asal AS ini, kekerasan terhadap kaum LGBT terhitung sangat tinggi. Menurut laporan Reuters, empat orang LGBT dibunuh setiap harinya di negara-negara Amerika Latin.

Setengah lusin kelompok Kristiani sayap kanan itu paling tidak telah menghabiskan uang senilai 44 juta dolar AS untuk menyebarkan kesesatan informasi di Amerika Latin. Dengan menyertakan kelompok serupa yang beroperasi di berbagai belahan dunia (khususnya negara-negara berkembang di selatan), 280 juta dolar AS dihamburkan untuk menyebarluaskan informasi sesat.

Alejandra Cardenas, salah seorang aktivis asal Amerika Latin yang diwawancarai Cariboni, menyebut temuan OpenDemocracy telah “membuktikan manipulasi yang telah kami lihat selama bertahun-tahun oleh Kristen sayap kanan di Amerika Latin, yang dimaksudkan untuk mematahkan tatanan sosial dan perlindungan hak asasi manusia yang diperjuangkan oleh gerakan rakyat". Cardenas menduga, penyebaran informasi sesat oleh kelompok Kristiani sayap kanan ke negara-negara Global South dimaksudkan sebagai "laboratorium". Jika misi mereka sukses, penyebaran informasi palsu akan dilakukan di tanah mereka sendiri, Paman Sam.


Amerika Latin sendiri termasuk yang paling menderita parah akibat Corona. Sementara itu, Brazil, Peru, Kolombia, dan Meksiko memiliki jumlah infeksi dan kematian yang tinggi. Selain karena kurang sigapnya pemerintah, penyebab tingkat infeksi setinngi itu adalah sikap masyarakat yang menyepelekan Corona.

Tidak Hanya Amerika Latin

Kelompok Kristinani sayap kanan asal Amerika Serikat tidak hanya beroperasi menyebarkan kesesatan informasi di Amerika Latin. Dalam laporan OpenDemocracy lainnya yang terbit Oktober silam, kelompok bernama Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) menghabiskan uang lebih dari 23 juta dolar AS sejak 2007 hingga 2014 untuk menyebar kebencian di Eropa, khususnya di Inggris. Pada 2020, OpenDemocracy memperkirakan jumlah dana yang digunakan untuk menyebarkan kesesatan informasi meningkat hingga 50 juta dolar AS.

Agenda utama BGEA, sebagai kelompok yang mengklaim percaya keistimewaan "keluarga tradisional," ialah menentang keberadaan LGBT di Eropa. BGEA menyebut pernikahan sesama jenis sebagai "orkestra setan". Sebagaimana kerja kelompok serupa di Amerika Latin, mereka menyebarkan kebencian terhadap LGBT melalui gereja dan media yang terafiliasi. Tak hanya menyasar LGBT, kelompok ini menyebarkan paham bahwa Islam merupakan ajaran "iblis".

Peter Tatchell, salah satu pembela hak-hak kaum LGBT di Inggris, menyebut keberadaan BGEA dan kelompok sejenis telah "mengekspor homopobia dan Islamfobia dari gereja-gereja evangelis Amerika Serikat ke seluruh dunia". "Imperialisme Kristen ini mengancam kesejahteraan dan hak asasi jutaan orang," tegasnya.

Dalam kerja-kerjanya di Eropa, BGEA menentang keras undang-undang anti-ujaran kebencian di Eropa dan mengklaim bahwa "aktivis progresif sekuler mengamuk".

Di Afrika, Family Watch International (FWI), kelompok Kristiani sayap kanan asal AS lainnya, menggarap agenda serupa dengan cara yang berbeda. Alih-alih menghabiskan uang untuk menyebarkan kesesatan informasi langsung di tanah Afrika, FWI gencar mengundang tokoh-tokoh politik asal Afrika bertandang ke markas mereka di Arizona, AS. Di sanalah mereka mendidik politisi-politisi Afrika.

Tapi, bukan pelatihan kepemimpinan atau kecakapan berpolitik yang diajarkan, melainkan benih kebencian kepada "musuh-musuh tradisional" kaum Kristen sayap kanan. Sebagaimana dilaporkan OpenDemocracy, FWI telah mengundang sejumlah politikus Afrika, misalnya Netumbo Nandi-Ndaitwah, Menteri Luar Negeri Namibia, dan Emmanuel Mwamba, Duta Besar Zambia untuk Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB).


Semenjak Mwamba mengikuti pelatihan FWI, Netumbo Nandi-Ndaitwah kemudian menjadi politisi yang menentang program bernama comprehensive sexuality education (CSE) di Afrika. Program ini bertujuan mengedukasi remaja Afrika tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Mwamba menentang program CSE karena ia percaya program tersebut bukan ditujukan untuk mengedukasi masalah seksualitas, tetapi "mengajarkan kaum muda Afrika agar tidak fobia terhadap LGBT". Padahal, CSE merupakan program penting untuk menanggulangi HIV dan kematian kaum ibu muda tatkala melahirkan, sebuah masalah yang terus menggelayuti Afrika.

Infografik Kristen evanglis AS
Infografik Kristen evanglis AS. tirto.id/Quita


Secara umum, kelompok-kelompok Kristiani sayap kanan asal AS itu memang memiliki hubungan dengan Presiden Donald Trump. Tatkala pilpres AS digelar kemarin, exit poll membuktikannya. Trump didukung kalangan evangelis sayap kanan. Merujuk hasil exit poll yang dirilis The New York Times, kaum konservatif memang pendukung Trump, yang tentu anti-LGBT dan lebih mementingkan uang daripada terbebas dari Corona. Sebanyak 76 persen pemilih Trump di pilpres AS 2020 mengaku sebagai bagian dari komunitas Evangelis. Di sisi lain, hanya 23 persen komunitas Evangelis yang mengaku memilih Joe Biden. Tercatat, 82 persen pemilih Trump mengaku bahwa isu terpenting AS saat ini ialah ekonomi, sementara itu bagi kalangan pemilih Biden hanya 17 persen yang menganggap ekonomi sebagai isu terpenting. Pemilih Biden, mayoritas atau 91 persen responden, menyatakan bahwa ketidaksetaraan rasial merupakan isu utama yang dihadapi AS.

Ketika disuruh memilih antara "menanggulangi virus corona sekarang, meski merugikan perekonomian" dan "membangun kembali ekonomi sekarang, meski itu merugikan upaya penanggulangan virus corona," kaum pemilih Trump memilih opsi kedua. Sementara kaum pendukung Biden mayoritas memilih opsi pertama.

Trump dan pendukungnya memang bikin repot dunia.

Baca juga artikel terkait PILPRES AS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight