Cara Kamus Oxford Mengabadikan Peristiwa

Oleh: Rahman Fauzi - 28 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Peristiwa Brexit dan Pilpres AS menjadikan 'post-truth' sebagai kata pilihan kamus Oxford tahun ini. Dua momen yang banyak pihak yakini terjadi karena keyakinan pribadi berdasarkan emosi sukses mengesampingkan fakta-fakta objektif.
tirto.id - Merekam peristiwa bisa dilakukan dengan beragam cara. Lewat lagu The Lonesome Death of Hattie Carroll, Bob Dylan mengabadikan kisah tragis pembunuhan perempuan kulit hitam bernama Hattie Carrol oleh seorang juragan pada 1963. Sementara Svetlana Alexeivich merawat ingatan kolektif soal perempuan 15-30 tahun yang terlibat dalam Perang Dunia II melalui novelnya Unwomanly Face of War.

Bagi para penyunting Kamus Oxford, usaha mengabadikan peristiwa dilakukan dengan memilih “kata tahunan”. Sejak 2004, para penyunting Kamus Oxford rutin menentukan kata atau ekspresi pilihan terbaik yang penggunaannya meningkat signifikan sekaligus merefleksikan peristiwa apa saja yang terjadi sepanjang tahun. Peristiwa referendum Brexit dan Pemilihan Presiden Amerika Serikat berkontribusi besar memunculkan beberapa kata yang saling bersaing ketat. Sampai akhirnya, kata “post-truth” ditahbiskan sebagai pemenang pada 2016 ini.

Post-truth tergolong ajektiva yang didefinisikan sebagai “relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief”. Saat fakta-fakta objektif terkesampingkan oleh emosi dan keyakinan pribadi, saat itulah post-truth terjadi.

Polemik atas Referendum Brexit yang memutuskan Britania Raya keluar dari Uni Eropa dan Pilpres AS menjadi biang keladi post-truth terpakai amat sering tahun ini. Peningkatan penggunaannya mencapai 2.000% dibanding tahun lalu. Menanjak di bulan Juni saat referendum Brexit tergelar, lalu mengalami fluktuasi, sampai meningkat lagi di Oktober saat kampanye Pilpres Amerika berlangsung gaduh.

Dalam kasus Brexit, konteks post-truth tergambar dari kebanyakan pemilih untuk cabut dari Uni Eropa, sekalipun banyak analisis menyebut bakal terjadi kegoncangan perekonomian Britania Raya. Keputusan ini diprediksi membuat sektor perdagangan, investasi asing, regulasi-liberalisasi, kebijakan industri kompetisi, imigrasi, dan layanan finansial menjadi lebih rumit dari sebelumnya.

Keluarnya Britania dari Uni Eropa sesuai apa yang diinginkan 52% pemilih yang merasa independensi Britania Raya terusik oleh segala regulasi Uni Eropa. Kebanyakan pemilih tua yang menginginkan Britania keluar dari Uni Eropa. Sedangkan para pemilih muda memilih bertahan sebagai bagian Uni Eropa.

Sedangkan dalam Pilpres AS yang memunculkan Donald Trump sebagai presiden, dimeriahkan komentar-komentarnya yang bernada xenofobia, mengagungkan supremasi kulit putih, rasis terhadap suatu etnis, pelecehan kepada perempuan, dan beragam kebencian lain. Belum lagi skandal pajak, plus rencana-rencana yang digaungkan, seperti melarang muslim masuk AS dan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko. Nyatanya, mayoritas warga AS jugalah yang menjadikan Trump sebagai Presiden.

"Tidak mengejutkan pilihan kami merefleksikan tahun yang didominasi muatan politik dan diskursus sosial. Dipenuhi kenaikan penggunaan media sosial sebagai rujukan berita utama dan peningkatan ketidakpercayaan fakta yang dituturkan penguasa. Post-truth sebagai sebuah konsep telah menemukan pijakan linguistiknya," kata Presiden Kamus Oxford, Casper Grathwol kepada The Guardian.

Meski laris dipakai, post-truth sejatinya bukan barang baru. Sebab, dramawan keturunan Serbia-Amerika Steve Tesich sudah menggunakannya sebelum dianggap keren. Pada 1992, Tesich menuliskan kalimat, "we, as a free people. have freely decided that we want to live in some post-truth world" dalam artikelnya tentang Skandal Iran-Contra dan Perang Teluk Persia di majalah politik, Nation.

Kata “post” yang ditempatkan di awal bukan merujuk kepada ketuntasan seperti dalam 'post-war' atau 'post-match'. Melainkan merujuk keadaan di mana sebuah konsep tertentu menjadi tidak penting lagi, seperti dalam ‘post-racial’ dan ‘post-national’.

Kandidat lain yang bersaing dengan "post-truth", yaitu "alt-right" dan "Brexiteer". Alt-right yang dimaksud bukan aksi menekan dua tombol di keyboard secara bersamaan. Namun, kependekan dari 'alternative right', yaitu pengelompokan ideologis dengan sudut pandang konservatif atau reaksioner ekstrem. Sedangkan 'Brexiteer' penanda kepada mereka yang memilih Britania Raya hengkang dari Uni Eropa. Istilah Brexit sendiri masuk nominasi kata pilihan tahunan 2015.

Peristiwa besar memberi kemungkinan jamaknya penggunaan suatu istilah. Berkeliarannya badut pembunuh di Inggris dan AS membuat kata coulrophobia (ketakutan berlebih kepada badut) lazim dipakai. Isu Black Lives Matter di AS menjadikan kata woke (waspada saat terjadi ketidakadilan, khususnya rasisme) populer lagi sejak pertama kali terdaftar di glosarium bahasa slang Afrika-Amerika pada 1962.

Kalimat lainnya antara lain, adulting (praktik berkegiatan orang dewasa), hygge (konsep nyaman a la Denmark), chatbot (program komputer untuk mengobrol dengan manusia), glass cliff (situasi perempuan atau anggota minoritas memimpin dengan risiko tinggi), dan Latinx (orang asli atau keturunan Amerika Selatan).

Infografik Hikayat Kamus Oxford


Proses Menentukan, Kritik, dan Kamus Lain

Melalui program penelitian bahasa yang luas, tim Kamus Oxford mengumpulkan sekitar 150 juta kata baru tiap bulannya dari koran, buku, blog, dan segala naskah berbahasa Inggris. Piranti lunak khusus digunakan dalam penyusunan daftar kata. Setelah terkumpul informasi mumpuni, barulah tim kamus Oxford menentukan apa kata tahunan terbaik.

Eric Zorn, kolumnis Chicago Tribune, mengungkapkan ketidaksetujuan post-truth terpilih menjadi kata yang mencerminkan jiwa tahun 2016. Selain post-truth masih jarang dipakai di kehidupan sehar-hari, konsep post-truth mirip dengan “truthiness”, istilah terbaik pilihan Kamus Merriam-Webster pada 2006. Pada kenyataannya, istilah “truthiness” kalah populer dari istilah “google” (kata kerja) yang awet dipakai sampai kini. Zorn meyakini, kata alt-right dan woke justru lebih pantas daripada post-truth.

Tradisi memilih kata tahunan bukan milik Oxford belaka. Kamus Merriam-Webster lebih dahulu melakukannya pada tahun 2003, sedangkan Kamus Macquarie menyusul pada 2006. Tradisi ini diawali asosiasi bahasa Jerman, Gessellscahft fuer deutsche Sprache yang memulainya pada 1971.

Sedangkan untuk konteks bahasa Inggris, organisasi American Dialect Society mulai membuat sejak 1990. Selain daftar kata pilihan tahunan, ada juga daftar kata yang tidak terpakai lagi seperti yang dilakukan Time, New York Times, dan BBC.

Sebetulnya, Kamus Oxford kerap kali membedakan kata pilihan tahunan untuk kamus versi Britania dan AS. Hanya saja, sedari 2013, kata tahunan versi dua kamus ternyata sama. Beberapa kata pilihan tahunan versi Oxford yang masih lazim kita kenal, seperti podcast (2005), unfriend (2009), selfie (2014), dan vape (2014). Tahun

lalu secara kontroversial emoji ekspresi wajah berlinang air mata bahagia [ :’) ] menjadi kata pilihan tahunan terbaik. Penggunaan emoji ini paling populer di antara emoji lain, sekaligus meningkat 4% di Britania Raya dan 9% di AS ketimbang penggunaan 2014.

Setelah keputusan Brexit dan terpilihnya Trump, semoga kata pilihan tahunan 2016 bukanlah emoji wajah cemberut berlinang air mata. :’(

Baca juga artikel terkait KAMUS OXFORD atau tulisan menarik lainnya Rahman Fauzi
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Rahman Fauzi
Penulis: Rahman Fauzi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti