Cara dan Waktu yang Tepat untuk Menyapih Anak

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 3 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Menyapih anak bisa dimulai ketika anak berusia dua tahun seperti yang direkomendasikan World Health Organization (WHO).
tirto.id - Menyapih adalah kegiatan saat anak berhenti menyusu air susu ibu (ASI) pada ibu. Proses menyapih mengharuskan ibu dan anak untuk bersabar. Hal itu disebabkan karena biasanya prosesnya lama dan harus dilakukan secara bertahap.

Waktu untuk menyapih adalah keputusan masing-masing orang tua, terlebih sang ibu. Beberapa mulai menyapih anak mereka ketika anak berusia 2 tahun, beberapa yang lain mungkin menyapih anak mereka saat usia anak lebih dari 2 tahun.

Keputusan untuk menyapih anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain kembalinya ibu untuk bekerja, kondisi kesehatan ibu, ASI yang berhenti keluar, atau hanya perasaan ibu yang mengatakan bahwa sudah waktunya untuk menyapih anaknya.

Banyak ahli menyepakati bahwa pemberian ASI lebih baik dilanjutkan selama hal tersebut sesuai dengan ibu dan bayi mereka. Para ibu mulai menyapih anak mereka ketika anak sudah mulai berjalan, berbicara, dan makan makanan yang lebih padat.

Kids Health menulis dalam laman resminya bahwa American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan ibu memberikan ASI pada bayi selama 6 bulan sejak ia lahir. Setelah itu, AAP merekomendasikan kombinasi makanan lembek dan ASI hingga bayi berusia minimal 1 tahun. Kemudian, anak dapat mulai disapih dengan minum susu murni lainnya.

Namun, World Health Organization (WHO) merekomendasikan bagi ibu untuk menyusui selama 2 tahun pertama usia anak dikutip dari laman Kids Health.

Berhentinya anak untuk menyusu pada ibu mereka tidak dilakukan secara tiba-tiba. Proses tersebut berjalan dengan lambat dan bertahap.

Para ibu juga dapat bersepakat dengan anaknya kapan waktu untuk memulai menyapih anak. Namun pada dasarnya, anak juga dengan sendirinya akan menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.

Kids Health menuliskan beberapa tanda yang menunjukkan anak sudah dapat berhenti menyusu:

1. Tampak tidak tertarik saat menyusu

2. Anak menyusu dalam waktu yang lebih pendek dari biasanya

3. Mudah terganggu saat menyusu

4. Anak sering menggigit atau menarik payudara. Jika anak melakukannya, ibu harus melepas anaknya dan mengatakan dengan tenang bahwa itu sakit.

5. Payudara tidak mengeluarkan ASI tetapi anak masih menghisap demi kenyamanan.

Metode Menyapih Anak

Untuk memulai menyapih anak, lakukan dengan perlahan dan bertahap. Sang ibu ada baiknya untuk melihat reaksi anak ketika ia berhenti menyusu. Baby Center menuliskan beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menyapih anak seperti:

1. Lewati waktu menyusui

Alih-alih menyusu ASI, ada baiknya ibu menawarkan pilihan lain seperti dot atau cangkir susu. Ibu dapat memberikan susu formula atau susu sapi utuh (ketika anak sudah berumur satu tahun).

Mengurangi waktu menyusui satu per satu selama beberapa minggu akan membuat anak menyesuaikan diri. Dengan cara ini, persedaan ASI ibu juga berkurang secara bertahap sehingga payudara tidak akan membesar dan mengalami mastitis.

2. Memperpendek waktu menyusui

Membatasi waktu anak untuk menyusui dapat dilakukan oleh para ibu untuk menyapih anaknya. Selain itu, coba selingi dengan makanan ringan yang sehat.

3. Tunda dan alihkan perhatian anak

Ketika anak meminta untuk menyusu ASI, para ibu dapat menundanya dan mengalihkan perhatiannya dengan hal lain. Metode ini dapat berfungsi dengan baik ketika anak sudah besar dan dapat diajak untuk berunding.

Ketika mulai menyapih anak, ada beberapa hal yang patut diperhatikan terkait kebutuhan nutrisi anak. Women Health menuliskan bahwa kebutuhan nutrisi anak akan bergantung pada usia di mana anak berhenti untuk menyusu.

Jika anak berusia kurang dari 1 tahun, ada baiknya untuk menambahkan susu formula dengan frekuensi pemberian yang sama banyak.

Jika anak berusia lebih dari 1 tahun, para ibu dapat memberikan makanan selingan sehat atau minum air susu sapi murni. Apabila anak menolak atau tidak tertarik, ada baiknya untuk memberikan pelukan saat memberinya makanan. Hal tersebut akan memudahkan transisi dari pelukan saat menyusui secara perlahan.

Selebihnya, tetap berkonsultasi dengan ahli kesehatan atau dokter untuk pertimbangan-pertimbangan lainnya.


Baca juga artikel terkait MENYAPIH ANAK atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight