Menuju konten utama

Cara Corona Covid-19 Menyebar: Didominasi Pola Perjalanan Global

Penyebaran Covid-19 paling banyak karena perjalanan global.

Cara Corona Covid-19 Menyebar: Didominasi Pola Perjalanan Global
Calon penumpang dengan menerapkan jaga jarak mengantre untuk lapor diri di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (10/7/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal.

tirto.id - Virus corona yang meyebabkan penyakit Covid-19 menyebar dengan cepat dan masif karena pola perjalanan global sangat kuat di banding sepuluh tahun lalu.

Menurut Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Dr. dr. Dwi Agustian, MPH, PhD, virus ini memang unik dan bukan yang pertama kali.

Berdasarkan sejarah, SARS COVID-19 pernah terjadi di Hong Kong tahun 2002-2003 yang lebih mengerikan dengan vatality rate mencapai 20%.

Hanya saja, kata Dr. Dwi, SARS CoV-2 sangat mudah tertular ditambah pola perjalanan global sangat kuat dibanding sepuluh tahun lalu. Rata-rata perjalanan penerbangan luar biasa berlipat-lipat dan itu menimbulkan kecepatan virus bergerak dari satu orang ke orang lain.

"Virus ini hanya bisa menimbulkan [sebaran yang sangat cepat] seperti ini di dunia modern pada saat teknologi bisa membuat orang berinsteraksi dengan cepat. Dua puluh tahun lalu virus ini tidak bisa menimbulkan efek biologis secara cepat," ujar Dwi di Media Center Satgas Penanganan COVID-19 Graha BNPB Jakarta pada Jumat (23/10/2020), seperti dikutip covid19.go.id.

Dwi menambahkan, virus ini baru dan pengetahuan (tentang COVID-19) masih terakumulasi untuk memberikan pemahaman yang pasti. Berdasarkan data statistik untuk pengembangan terakhir dari populasi umum paling tinggi 5%.

Dwi mengungkapkan di Bandung, Jawa Barat, ada populasi yang tak bergejala melakukan testing secara masif dari 100 orang hanya 1 orang yang positif tanpa gejala. Artinya dengan kasus ini kita menunggu cukup waktu untuk mengumpulkan gejala-gejala dan risiko.

“Kita akan membahas lebih lanjut dan nantinya akan menjawab bagaimana karakteristik virus ini (COVID-19). Bukti-bukti ini dikumpulkan dan datanya dicatat dengan baik," jelas Dwi.

Motivator Tung Desem Waringin, yang juga penyintas COVID-19, mengatakan dirinya menduga tertular COVID-19 saat perjalanan di pesawat terbang pada 15 Maret 2020.

Saat itu penumpang pesawat penuh dan yang menggunakan masker hanya penumpang yang sakit.

Tiga hari kemudian, pada 18 Maret 2020, Tung mengalami demam hebat di malam hari namun kembali normal pada pagi harinya. Kejadian itu terus berulang selama beberapa hari. Kemudian dirinya sempat tak bisa nafas. Kemudian melakukan cek tes darah dan foto torax.

“Setelah itu saya 95% positif COVID-19. Pada saat itu swab test masih antri panjang dan lama, tidak seperti sekarang," ujar Tung Desem Waringin (TDW) yang mengaku sempat tiga kali ditolak rumah sakit.

TDW menambahkan dirinya merasakan efek luar biasa dari mengonsumsi cukup air putih setiap harinya. Salah satunya adala pengambilan analisa gas darah (AGD) yang sebelumnya dua kali gagal menjadi lebih mudah.

“Mestinya, menurut saya, pasien COVID-19 diwajibkan minum air putih selama perawatan," ungkap TDW.

---------------------------

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH