Misbar

Cara-cara Pretty Boys Jualan Maskulinitas Rapuh dan Beracun

Trailer PRETTY BOYS THE MOVIE. youtube/ Anami Films
Oleh: Aulia Adam - 30 September 2019
Dibaca Normal 5 menit
Menonton Pretty Boys seperti melihat laki-laki yang takut kehilangan penisnya. Konyol.


tirto.id - Ada satu fakta yang saya malu akui: saya pernah transfobik, homofobik, dan misoginis.

Saya pernah takut setengah mati jika bertemu waria. Jangankan bicara, berpapasan di jalan saja saya bisa lari. Meski tak sampai lari, saya juga memupuk kebencian dalam hati pada pria-pria yang bersikap feminin. Risih, jijik, takut. Kata-kata bermuatan negatif itu adalah gelombang perasaan yang kuat dan seringkali butuh energi besar untuk merasakannya—mengalaminya. Maka, sering kali saya menghindari perasaan-perasaan itu. Menghindari waria dan pria-pria yang terlihat feminin.

Semua itu berubah saat saya harus jadi interpreter seorang peneliti asing yang ingin tahu nasib kelompok minoritas gender di Indonesia. Pekerjaan itu mengharuskan saya duduk dengan 20 orang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) untuk menerjemahkan jawaban-jawaban mereka.

Menit-menit pertama, saya bertarung dengan diri saya sendiri: melawan fobia. Di pertengahan, saya mulai bertarung dengan kebodohan dan kebebalan yang selama ini mengakar jadi ketakutan berlebihan, jadi fobia. Saya mulai bersimpati, dan akhirnya menangis saat seorang transpuan mengharu-biru menceritakan kekerasan psikis, verbal, dan fisik yang diterimanya, cuma karena ia seorang waria.


Hari itu saya dibombardir cerita sedih: kisah diusir dari rumah sejak SD, tak tamat sekolah, susah mencari pekerjaan, dibotakin Satpol PP, dirazia dan diperkosa Wilayatul Hisbah, diamuk massa, difitnah dan diusir Geuchik alias kepala desa, dirawat di rumah sakit karena dipukuli pakai tongkat dan matanya dicolok pakai ranting pohon hingga harus buta.

Air mata merembes karena saya tersadar: penderitaan hidup para minoritas gender adalah dampak sebuah sistem yang sengaja memiskinkan mereka, membuat mereka jadi tak berdaya. Terutama mereka dari kelompok transgender, yang secara penampilan paling terlihat berbeda.

Are you alright?” kata Kyle Knight, peneliti Human Rights Watch, bos saya hari itu.

No.. no.. I’m okay. I just didn’t expect this.” This yang saya maksud adalah gelombang perasaan bersalah, yang ternyata lebih kuat dari risih, jijik, dan takut.

You need water,” tambah Kyle.

Saya memang mengangguk dan menenggak air putih setelah itu. Tapi, di kepala, saya akhirnya paham bahwa yang saya butuhkan adalah edukasi.

Menonton Pretty Boys, film perdana penyanyi Tompi sebagai sutradara, membawa kembali kenangan itu. Kenangan bahwa saya pernah jadi transfobik dan homofobik.

Premis film itu memang tentang dua tokoh utamanya yang ingin masuk TV, jadi selebritas, tapi harus mengorbankan jati dirinya untuk menjadi karakter yang mereka sendiri benci. Masalahnya, yang dimaksud dengan “karakter yang mereka sendiri benci itu” adalah menjadi banci, alias bersifat kemayu dan feminin.

Anugrah (Vincent) dan Rahmat (Desta), dua tokoh utamanya, digambarkan sebagai dua pria cis-heteroseksual yang bercita-cita dari kecil ingin jadi pembawa acara di televisi. Tapi, kesempatan itu baru mereka dapat setelah jadi penonton bayaran dan berlagak feminin. Premis film membingkai bahwa penonton zaman sekarang hanya akan tertarik dengan karakter pria yang kemayu, sehingga Anugrah dan Rahmat terpaksa berpura-pura demikian agar cepat terkenal.

Penulis naskah Pretty Boys Imam Darto bilang bahwa mereka sama sekali tak mengangkat isu transgender, apalagi isu minoritas seksual. Ia hanya ingin merekam dan mengkritisi ekosistem di balik industri televisi.

“Ada yang menyangka kami akan mengangkat isu transgender, sebenarnya bukan itu yang kami mau tonjolkan. Kami ingin mengangkat bagaimana di balik televisi, karena memang ekosistemnya seperti itu, di belakang layar begitu, dari koordinator penonton, kemudian ke artis, lalu nular ke artisnya, ya memang begitu,” ujar Darto saat konferensi pers film Pretty Boys di Yogyakarta, Jumat (20/9/2019).

Menurutnya, menulis naskah untuk film Pretty Boys tidak gampang, tetapi juga tidak sulit. Kesulitan yang ia hadapi lebih dianggap sebagai tantangan. “Lebih ke challange, riset udah riset sehari-hari sebagai pekerja televisi. Karena itu dunia kami, jadi enggak perlu riset lagi, tinggal me-recall aja apa yang ada di balik layar,” katanya.

Masalahnya, riset yang dirasanya cukup itu gegabah dan dangkal.

Naskah Pretty Boys sama sekali tidak sensitif pada orang-orang transgender, yang masuk dalam kelompok rentan dan terpinggirkan. Dari awal sekali film diputar, kelakar yang dilempar duo Vincent-Desta selalu berbau transfobik dan homofobik.

“Tampilannya brewokan, tatoan, eh tapi lemes banget,” kata Anugrah mengomentari Roni (Onadio Leonardo), koordinator penonton yang kelak jadi manajer mereka.

“Ini enggak apa-apa nih?” tanya Desta pada tukang rias yang mendadaninya, lalu dijawab, “Enggaklah, emangnya cacar.”

Semua komentar dan celetukan yang keluar pada tokoh-tokoh pria kemayu cenderung negatif dan merendahkan.

Konflik utama film juga menyorot hubungan Anugrah dan bapaknya (Roy Marten), seorang pensiunan tentara yang sangat kaku, kasar, dan temperamental. Melalui hubungan itu, Pretty Boys tegas membingkai keputusan Anugrah yang berdandan dan kemayu di televisi sebagai hal yang salah: memalukan dan bikin malu orangtua.



Semua karakter pria kemayu yang hadir juga digambarkan negatif: Ferry Maryadi digambarkan mata uang dan ganjen; Roni digambarkan tamak, penipu, dan tukang foya-foya; Mas Bay (Imam Darto), produser acara Kembang Gula digambarkan egois dan cuma mementingkan rating acaranya.

Dalam situasi homofobik itu, suasana makin diperparah dengan kehadiran seorang trans-prostitute yang diperankan Tora Sudiro. Pada sepotong adegan, Tora menasihati Vincent dan bilang kalau Vincent orang baik dan bisa punya hidup lebih baik dari dirinya. Tentu saja ini salah satu dialog paling tidak sensitif dalam Pretty Boys.

Kelompok transpuan sering kali masuk dalam golongan kelompok rentan karena mereka sering diperlakukan secara diskriminasi akibat tampilannya. Orientasi seksual dan proses transisi yang tak disetujui keluarga, biasanya bisa bikin seorang transpuan diusir dari rumah dari usia dini. Sehingga harus putus sekolah, dan hidup di jalanan untuk bisa makan. Minim pendidikan bikin pilihan kerja mereka juga tidak banyak: pengamen atau pekerja seks komersil. Beberapa yang lebih beruntung biasanya bekerja di salon.

Pendidikan seks dan gender yang masih minim, serta dogma agama, juga jadi faktor yang bikin kelompok transgender kehilangan banyak hak sebagai warga negara. Sehingga, wajar belaka sebetulnya jika ada karakter seperti Tora, yang bekerja di jalanan, dan tak paham hak-haknya sebagai warga negara untuk dapat pendidikan dan pekerjaan layak, karena dari kecil terlantar di jalanan.

Sayangnya, Pretty Boys malah lebih bersikap egois pada karakter-karakter tersebut. Imam Darto selaku penulis naskah, Tompi selaku sutradara, dan Vincent-Desta selaku produser film tampak bulat sepakat untuk meminjam karakter-karakter itu cuma sebagai bahan guyonan, ejekan, dan penghakiman dalam narasi mereka.

Tak ada sedikit pun ruang empati buat kelompok minoritas yang hidup sehari-harinya bisa jadi amat horor dan menyedihkan: takut keluar rumah karena hujatan orang, tak bisa makan kalau tak keliling ngamen di jalan, atau tak punya rumah untuk tinggal.

Naskah Pretty Boys sama sekali tak peduli bahwa privilese para pembuatnya (yang semuanya laki-laki cis-het) bisa digunakan untuk lebih memanusiakan kelompok rentan tersebut, alih-alih cuma memanfaatkan kelompok rentan itu jadi bahan olok-olok.


Riset yang dirasa Darto cukup karena pengalamannya bekerja di televisi juga sebetulnya amat abai konteks. Sejak 2016, Komisi Penyiaran Indonesia—lembaga pemerintah—juga sudah mengeluarkan larangan 'penampilan' LGBT ataupun yang “menyerupainya” di acara-acara televisi dan radio, sebagai bentuk sensor hak kebebasan ekspresi. Setelahnya hingga sekarang, sejumlah acara televisi sering disurati dan diancam sanksi jika mata transfobik dan homofobik KPI merasa risih.

Itu sebabnya, acara Kembang Gula yang dipakai Pretty Boys untuk menyampaikan apa yang disebut mereka sebagai kritik jadi terasa hambar dan tidak relevan. Jika memang ingin menunjukkan kekejaman industri televisi, mestinya para seniman ini tak perlu jadi kejam pula pada kelompok rentan yang hak-hak hidupnya sudah sering dipangkas otoritas.

Aroma Maskulinitas Beracun

Desta dan Vincent adalah dua orang komedian, yang buat saya pribadi selalu punya kelakar-kelakar cerdas. Keduanya selalu pakai plesetan dan tebak-tebakan konyol sebagai lawakan andalan. Jarang sekali ada yang gagal, dan berakhir jayus—setidaknya begitu kekuatan keduanya dalam acara malam yang mereka pandu di NET TV.

Sejak zaman MTV Bujang, kekompakan sahabat karib itu memang selalu jadi dagangan utama mereka. Sesuatu yang menarik perhatian, dan enak ditonton. Chemistry yang sama juga muncul di Pretty Boys. Meski berubah nama jadi Anugrah dan Rahmat, kita akan tetap merasakan aura Vincent-Desta yang sudah kepalang melekat pada keduanya. Hal itu bisa jadi kekuatan film ini, atau mungkin kelemahan: bagi yang berharap kemampuan akting out of the box dari dua komedian ini.

Namun, yang jelas, unsur komedi cerdas yang biasa jadi jualan mereka langsung luntur sebab premis awalnya sudah sangat diskriminatif dan terlalu hitam-putih pada kelompok minoritas. Alih-alih jadi kritik cerdas, seperti yang berusaha dikampanyekan mereka dalam tiap promosinya, Pretty Boys justru terasa seperti produk alam bawah sadar Vincent-Desta (bersama Darto dan Tompi) yang maskulinitasnya rapuh. Ada pula maskulinitas beracun (toxic masculinity) di sana.

Asosiasi Psikiater Amerika menyebut maskulinitas beracun adalah situasi di mana penganutnya secara sadar atau tidak, berperilaku anti-feminin, menghindari segala hal yang diasosiasikan sebagai tampil lemah. Mereka yang mengidapnya, masih terjebak pada pandangan dikotomis fungsi gender tradisional yang memandang laki-laki lebih segala-galanya dari jenis kelamin lain. Sadar atau tidak, mereka pikir laki-laki punya tempat lebih tinggi dari kelompok lain dalam spesies manusia.

Bagi mereka, terlihat “jantan” dan “tangguh” menjadi sebuah keharusan. Sifat ini erat asosiasinya dengan misgonis, sebutan untuk orang yang secara sadar atau tidak (memelihara maskulinitas beracun) dan membenci segala hal yang berbau atau terasosiasi dengan perempuan.

Padahal, maskulinitas beracun terbukti bisa bikin kesehatan mental terganggu, merusak lingkungan, dan bikin pengidapnya jadi orang yang cenderung melanggengkan kekerasan.

Sama halnya seperti Pretty Boys, yang mungkin secara tidak sadar, telah melanggengkan stigma dan stereotipe pada kelompok rentan. Tanpa berlaku adil, memberi ruang untuk melakukan riset lebih dalam tentang memanusiakan manusia. Sifat transfobik, homofobik, dan misoginis itu sebetulnya bisa hilang, jika kita lebih terbuka pada edukasi.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight