Cara Ajarkan Empati ke Anak: Kenalkan Lingkungan & Bacakan Dongeng

Oleh: Yonada Nancy - 23 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Mengajarkan empati kepada anak bisa dilakukan sejak dini: mulai dari mengenalkan ke lingkungan, menanyakan perasaan, gunakan buku, film dan tunjukkan keberagaman.
tirto.id - Banyak orang yang menginginkan buah hatinya tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial seperti empati. Dengan empati, anak-anak mampu untuk memahami dan menghormati pandangan orang lain.

Menurut Parent Toolkit, empati merupakan akar dari kemampuan seorang anak untuk menjadi baik dan berbelas kasih. Para ahli percaya bahwa anak-anak yang memiliki sikap empati cenderung berhasil dalam kehidupan sosialnya dan disukai oleh teman-teman.

Rasa empati sebenarnya telah muncul sejak manusia masih sangat belia, contohnya ketika bayi ikut menangis setelah mendengar tangisan bayi lainnya. Sifat ini akan lebih baik jika dipupuk sejak dini agar anak dapat tumbuh dewasa dengan memiliki empati.

Parents mengatakan, masa-masa yang tepat untuk mengajarkan anak rasa empati adalah 12 hingga 18 bulan. Ini karena di usia ini anak-anak mulai dapat mengenal rujukan sosial seperti membedakan emosi dalam ekspresi wajah.

Sejalan dengan Parents, dokter spesialis anak Dr. I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi dalam kelas parentingnya menyebutkan, masa-masa keemasan memupuk kecerdasan emosional anak paling baik dilakukan sebelum anak berusia tiga tahun.

Ini karena bagian otak yang diperlukan dalam perkembangan emosional yakni otak kanan akan berjalan optimal sebelum anak berusia tiga tahun.

"Sebetulnya kita, kan, membesarkan anak maunya pintar. Bukan hanya sehat tapi pintar, pintar itu bukan hanya intelektual, tapi (juga) emosional. Emosional itu sebetulnya banyak juga belahan (otak) kanan yang berfungsi,” kata Dokter Tiwi dalam kuliahnya.


Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan empati kepada anak:

Mengenalkan anak-anak pada lingkungan

Seperti yang dilansir dari Parents, menjadi empati dimulai dengan menjadi peka terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar. Orang tua yang menunjukkan anaknya bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain dapat memupuk keinginan anak untuk mengeksplorasi hubungan.

Jika memungkinkan, ajak anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti bermain di taman bersama dengan teman-teman sebayanya.

Menanyakan perasaannya

Menanyakan perasaan si kecil dapat menjadi kunci untuk mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak.

Dikutip dari Huffpost, Psikolog Michele Borba dalam bukunya yang berjudul “Unselfie: Why Empathetic Kids Succeed in Our All-About Me World” mengatakan bahwa “Gerbang menuju empati adalah melek emosi.”

Cara yang paling sederhana adalah menanyakan perasaan si kecil dengan menggunakan bahasa yang emosional seperti “Apakah kamu sedang marah?” atau “Kamu terlihat sedih.”

Laura Dell, seorang asisten profesor dari Sekolah Pendidikan Universitas Cincinnati mengatakan, anak-anak perlu mengenal perasaannya terlebih dahulu sebelum memahami perasaan orang lain.

"Sekali mereka dapat mengidentifikasi emosi mereka sendiri, mereka akan lebih baik dalam mengembangkan keterampilan dalam mengendalikan emosinya. Kemudian (mereka) akan mengambil langkah selanjutnya untuk memahami emosi orang lain” kata Dell.


Gunakan buku dongeng dan film

Salah satu cara mengenalkan perspektif berbagai peran adalah dengan membaca cerita dongeng atau menonton film.

Dilansir dari Parent Toolkit, cara ini dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang menyenangkan.

Selama membaca atau menonton bersama, tanyakan kepada anak bagaimana sang ­tokoh memecahkan masalahnya seperti “Menurutmu bagaimana perasaan Fawn ketika peri penjaga mengambil Gruff darinya?” atau “Menurutmu apa yang harus Franklin lakukan agar Beaver mau memaafkannya?”

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di NCBI menunjukkan, keluarga yang secara rutin melakukan ini mampu membuat anak-anaknya belajar banyak tentang perspektif orang lain dan bagaimana pikiran mereka berfungsi.

Tunjukkan keberagaman

Kita hidup di dalam masyarakat yang heterogen dengan berbagai ras, agama, dan suku, juga dalam penampilan fisik yang mampu atau disabilitas.

Menurut Huffpost, menunjukkan anak-anak tentang keberagaman dunia seperti menonton pertunjukan yang diselenggarakan oleh etnis atau kelompok tertentu, mengunjungi museum, makan di restoran ataupun menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial akan mengajarkan anak tentang keberagaman.

Dengan mengenal berbagai perbedaan, anak-anak seiring berjalannya waktu akan memahami bahwa perbedaan merupakan hal yang normal dan mampu menghadapinya dengan bijak.


Baca juga artikel terkait KESEHATAN JIWA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight