Captain Morgan: Perompak, Politikus, dan Ikon

Oleh: R. A. Benjamin - 25 Desember 2021
Dibaca Normal 4 menit
Henry Morgan adalah satu nama terpopuler dalam sejarah bajak laut. Namun ia relatif jarang diadopsi oleh budaya populer dibanding perompak lain.
tirto.id - Ia berdiri dengan satu kaki menginjak tong yang mungkin berisi rum atau bubuk mesiu, pedang menancap ke tanah, dan jubah berkibar. Wajah pemilik tubuh itu tampak bahagia, barangkali mabuk kemenangan.

Sosok bajak laut dalam label rum Captain Morgan tersebut jelas ditujukan untuk memperkuat kesan yang ingin ditampilkan. Usai menenggak satu seloki kau mungkin menjelma sosok bebas tak acuh hukum yang tampak jaya, dan setelah beberapa tenggak lagi bakal sama semringahnya dengan Morgan sendiri.

Ilustrasi ikonik tersebut berasal dari tangan seniman asal Amerika Don Maitz. Berkat dia, selamanya kita bakal mengenang sosok Kapten Morgan yang tampak bahagia.

Selain dalam merek liquor populer, publik juga barangkali familier dengan sosok Morgan--jika tidak tertukar dengan Kapten Hook--berkat kehadirannya di berbagai medium. Bagaimanapun sosok yang bernama asli Henry Morgan itu bisa dibilang salah satu bajak laut paling terkenal.

Sederet film dan dokumenter telah mengangkat sosoknya sejak lama. Begitu pula di ranah sastra, termasuk dalam salah satu novel Ian Fleming, Live and Let Die. Dia juga muncul dalam berbagai judul gim video hingga karakter seri manga/anime karya Eiichiro Oda. Dari skena musik, pirate metal kesohor asal Skotlandia, Alestorm, mengangkat nama sang kapten sebagai judul album debut mereka, Captain Morgan's Revenge. Di Karibia, ia bahkan diabadikan sebagai nama-nama hotel dan resor hingga situs-situs lokal.

Begitulah, kita mengenalnya dari label minuman keras, kisah harta karun, dan karakter-karakter yang mungkin telah sangat jauh dikembangkan dan dimodifikasi. Bagaimana dengan reputasi sebenarnya sosok pemilik nama itu?


Dari Perompak ke Panggung Politik

Henry Morgan (atau nama Wales-nya, Harri Morgan) diperkirakan lahir pada 1635 di Wales. Selain tanggal, lokasi persis kelahirannya pun tak diketahui. Demikian pula dengan informasi lain seperti keluarga atau bagaimana dia bisa mencapai Karibia.

Morgan diperkirakan mulai berlayar sebagai serdadu, pelaut magang, bahkan mungkin juga sandera. Britannica mencatat Morgan juga diduga telah berpartisipasi dalam ekspedisi melawan Kuba pada 1662, serta menjadi komandan kedua privateer Inggris yang bertempur melawan koloni Belanda pada 1665-1667. Privateer adalah sebutan bagi swasta yang biasa disewa negara-negara imperial atau pihak mana pun untuk menyerang lawan di lautan.

Di antara banyak hal yang kabur, satu hal yang pasti dari Morgan adalah ia berprofesi sebagai buccaneer, sebutan untuk privateer di kawasan Karibia. Karena merupakan "bajak laut dengan izin membajak", ia menolak disamakan atau disebut bajak laut.

Beroperasi dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Morgan mengubrak-abrik otoritas Spanyol di Hindia Barat. Ia diangkat menjadi laksamana (admiral) yang memimpin armada besar dan menjadi musuh terburuk Spanyol sejak privateer lain macam Sir Francis Drake.

Di antara sejumlah agresi di sepanjang koloni Spanyol di Amerika Tengah, beberapa yang cukup mencuat adalah penyerangan Porto Bello pada 1668, Maracaibo di Venezuela yang diserbu tahun berikutnya, dan Old Panama City yang menemui giliran pada 1671.

Serangan terakhir Morgan, seperti dicatat dalam The Sack of Panamá: Captain Morgan and the Battle for the Caribbean, adalah terhadap Spanyol. Mariana, Permaisuri Spanyol saat itu, menitahkan penyerangan kapal dagang Inggris di Karibia. Privateer andalan Inggris lantas diutus untuk menyerang balik. Morgan berangkat ke Panama dengan modal 36 kapal Inggris dan Prancis yang mengangkut hampir 2000 buccaneer.

Namun, alih-alih pertempuran laut, armada Morgan harus menembus hutan hujan dan rawa di isthmus Panama yang menghubungkan Amerika Utara dan Selatan.

Yang terjadi ketika mereka mencapai Old Panama City adalah kaos. Dalam upaya untuk mengacaukan pasukan Morgan, Gubernur Panama disebut melepaskan dua kawanan lembu dan banteng ke medan perang. Tapi, karena takut oleh suara tembakan, kawanan hewan itu berbalik dan menginjak penjaga dan beberapa pasukan Spanyol yang tersisa.

Pertempuran itu berujung kekalahan Spanyol. Mereka kehilangan antara 400 dan 500 orang, sementara dari pihak privateer hanya 15 yang tewas.

Gubernur Panama telah bersumpah membumihanguskan kota bilamana pasukannya takluk. Dan itu benar-benar ia lakukan. Berbarel bubuk mesiu diledakkan. Old Panama City rata dengan tanah, terbakar habis bersama aset-asetnya yang belum sempat dilarikan. Para privateer menghabiskan tiga pekan di antara puing-puing Panama Lama, menjarah apa saja yang bisa mereka temukan.

Kelak, Spanyol membangun ulang kota yang kini dikenal sebagai Panama City, enam mil ke arah pantai agar lebih mudah dipertahankan.


Dalam perjalanan pulang, Morgan disebut meninggalkan para pengikutnya dan melarikan diri dengan sebagian besar barang rampasan.

Sebelum penyerangan itu dilakukan, Inggris dan Spanyol ternyata telah menyepakati perjanjian damai (Treaty of Madrid). Spanyol pun murka akibat ulah Morgan. Demi menenangkan Spanyol, Morgan ditangkap dan dipanggil ke London pada 1672. Morgan mendapat teguran resmi, tapi secara keseluruhan rakyat London, para bangsawan, dan tokoh pemerintahan memperlakukannya sebagai pahlawan.

Dua tahun berselang, Morgan dianugerahi gelar kebangsawanan (knighthood) dari Inggris. Sir Henry Morgan (bukan lagi Kapten Morgan) lantas dikirim kembali ke Jamaika dan terlibat politik di koloni Inggris itu. Ia menempati posisi deputi gubernur. Berkat pengaruhnya, Port Royal di Jamaika pun menjadi tujuan favorit para privateer yang beroperasi di Karibia.

Kendati dianggap tak cocok untuk berada di bangku pemerintahan, berkat kegemarannya mabuk-mabukan atau berjudi di kedai minuman, Morgan toh bertahan selama belasan tahun di dunia politik Jamaika.

Masih Kurang Populer

Morgan meninggal pada 25 Agustus 1688. Saat pemakamannya, sebuah amnesti diumumkan: Bajak laut dan privateer bisa memberikan penghormatan tanpa perlu khawatir diringkus di daratan.

Beberapa warisan yang ia tinggalkan adalah tiga perkebunan yang dibeli dari hasil kerja sebagai privateer, juga sejumlah besar budak Afrika.

Di samping sebagai privateer besar dengan banyak warisan, ia juga terkenal sebagai bajak laut haus darah. Reputasi menakutkan ini datang dari The Unparallel’d Exploits of Sir Henry Morgan, our English/Jamaican hero…, biografi yang ditulis oleh Alexandre Exquemelin, ahli bedah yang direkrut Morgan ke kapalnya. Biografi itu disebut fokus melukiskan perbuatan mengerikan sang kapten. Namun, keotentikannya diragukan lantaran sentimen si ahli bedah terhadap Morgan.

Kendati demikian, pengamat sejarah bajak laut seperti Jan Rogoziński berpendapat bahwa berkat biografi itulah Henry Morgan dikenang sebagai bajak laut terkemuka.

Hal lain yang tak kalah penting dari amatan Rogoziński adalah pendapatnya soal Morgan dalam konteks hari ini. Ia menilai Morgan tidak cukup sering muncul dalam karya-karya fiksi terkini meski ia begitu populer. Menurutnya ini disebabkan lantaran tabiat sang kapten yang "campuran ambigu kepemimpinan karismatik dan pengkhianatan egois."

Morgan memang dirayakan dengan meriah di berbagai produk budaya populer. Wajah dan karakteristiknya, dari berbagai media, barangkali menjadi yang pertama terpikirkan oleh banyak orang ketika mendengar kata "pirate". Namun, kebanyakan dari penggambaran itu datang dari puluhan tahun lalu.

Kita mungkin bisa membayangkan wajah Ian McShane ketika mendengar nama Blackbeard, atau akting mantap Toby Schmitz kala memerankan Calico Jack. Tetapi sebagian orang mungkin hanya ingat akan wajah semringah di label botol rum kala mengenang Morgan.


Infografik Kapten Morgan
Infografik Kapten Morgan. tirto.id/Sabit


Jika Morgan dikatakan kurang populer dibanding nama-nama bajak laut karena tidak disertakan dalam novel penting seperti Treasure Island atau hanya disebut sekilas dalam film pertama seri Pirates of the Caribbean, misalnya, maka ada beberapa perkara yang mungkin jadi penyebabnya.

Yang pertama ialah soal masa ketika Morgan beraksi. Dia eksis dan beredar di Karibia pada fase pertama zaman keemasan perompakan, The Buccaneering Period (dari sekitar 1650 hingga 1680). Itu adalah masa yang bisa dibilang tidak "semeriah" dua periode berikutnya. Kisah Morgan juga tak berkelindan dengan bajak laut atau privateer populer lain, selain persinggungan singkatnya dengan François l'Olonnais (inspirator di balik penamaan karakter di One Piece, Roronoa Zoro).

Yang kedua, bisa jadi soal fokus para penulis cerita yang condong tertuju pada periode ketiga zaman keemasan perompakan. Ketika Morgan meninggal pada 1688, nama-nama perompak yang belakangan lebih familier macam Blackbeard, Calico Jack, dan Bartholomew Roberts masih menjalani masa kecil masing-masing. Samuel Bellamy bahkan baru lahir satu tahun setelah kematian Morgan.

Nama-nama itu mulai beraksi pada periode terakhir zaman keemasan perompakan, The post-Spanish Succession, kala perompakan kian masif di berbagai titik lautan. Singkatnya, bajak laut betulan. Merekalah pengibar bendera hitam, jolly roger, yang mengembuskan kebebasan dan menggentarkan kapal mana pun.

Absennya jolly roger di kapal Morgan lantaran ia sendiri tidak merasa sebagai bajak laut. Jangankan jolly roger, dia bahkan tak mengibarkan bendera British khusus privateer yang digunakan untuk membedakan kapal-kapal mereka dengan kapal angkatan laut. Morgan berlayar di bawah bendera dan warna Inggris yang sama, Union Jack.

Karena pertimbangan-pertimbangan di atas, maka bisa dimaklumi jika salah satu privateer terhebat Kerajaan Inggris lebih jarang ditemukan penggambarannya belakangan. Meskipun, di lain sisi, kita bisa yakin andai ada nama bajak laut lain yang digunakan sebagai merek minuman, ia mungkin tak akan pernah mengalahkan kepopuleran dan imaji Captain Morgan.

Baca juga artikel terkait BAJAK LAUT atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight