Misbar

Captain Marvel: Kemajuan Superhero Feminis Setelah Wonder Woman

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 10 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Carol Danvers tidak menjual keseksian-feminin seperti Wonder Woman. Ia badass dengan menjadi dirinya sendiri.
tirto.id - Di era kebangkitan gerakan perempuan melalui #MeToo, dua tahun silam DC Entertainment membawa Wonder Woman ke layar lebar. Hasilnya menggembirakan, sampai-sampai dianggap film terbaik DC (sejauh ini).

Marvel Studios tak mau kalah. Mulai awal Maret 2019 warga dunia disuguhi Captain Marvel, film superhero perempuan pertama Marvel Cinematic Universe (MCU).

Brie Larson terpilih memerankan Carol Danvers. Pada permulaan film ia belum mengetahui nama asli tersebut, juga asal-usulnya sebagai warga bumi. Ia justru tampil sebagai seorang prajurit perempuan bernama Vers yang menghuni Kerajaan Kree, ibukota planet Hala.

Vers sering melihat kilasan-kilasan masa lalunya sebagai seorang pilot di dalam mimpi. Saat terbangun ia mesti menjalankan rutinitas latihan bela diri dengan mentornya, Yon-Rogg (Jude Law). Yon-Rogg pula yang memimpin misi kru untuk menyelamatkan satu prajurit yang sedang ditawan oleh bangsa Skrull.

Permusuhan antara Kree dan Skrull telah berlangsung sejak lama. Orang-orang Skrull sering menjadi korban perburuan otoritas Kree. Misi mula-mula berjalan lancar, hingga kemudian diketahui bahwa penawanan anggota Kree hanyalah jebakan untuk menculik Vers.

Skrull membawa Vers ke pesawat mereka untuk diekstrak memorinya. Lagi-lagi yang keluar adalah ingatan sebagai pilot di bumi. Ia mampu kabur berkat kekuatan sinar foton yang tersimpan di kedua tangannya. Kapsul yang ia gunakan untuk kabur meledak, lalu ia jatuh ke permukaan bumi.

Orang-orang Kree menyebutnya sebagai Planet C-53. Vers jatuh tepat di sebuah gedung penyewaan DVD film Blockbuster (maklum, film berlatar tahun 1995). Vers kemudian menjalani petualangan bersama anggota tim S.H.I.E.L.D Nick Fury (sebelum satu matanya buta). Fury sebelumnya ditugaskan untuk menangkap Vers, namun lama-kelamaan membantu Vers dalam menyelesaikan misinya.

Di luar baku hantam dan kejar-kejaran saat keduanya diburu tim S.H.I.E.L.D., petualangan Vers tidak hanya ditujukan untuk menguliti kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Ia juga melakukan pencarian jati diri sebagai Danvers, seorang pilot angkatan udara Amerika Serikat dan masa lalunya yang berat.


Captain Marvel memenuhi standar film laga yang cukup menyenangkan untuk ditonton penonton kalangan usia remaja hingga dewasa (ratingnya PG-13 alias untuk 13 tahun ke atas). Kualitasnya tengah-tengah. Tidak buruk, tapi juga belum ke level spesial.

Potensi terbesarnya memang bukan pada efek visual atau koreografi bela diri. Captain Marvel justru bisa jadi pancingan untuk memulai perbincangan seputar superhero feminis karena menyajikan progres yang belum nampak dalam Wonder Woman.

Captain Marvel menarik sejak dalam versi komik. Mengutip catatan Washington Post, Captain Marvel yang asli adalah alien laki-laki dari perabadan Kree bernama Mar-Vell. Ia diam-diam bekerja sebagai ilmuwan di bumi lalu menjalin romansa dengan Carol Danvers, eks pilot yang bekerja di NASA.

Di titik ini Danvers masih digambarkan sebagai figuran. Saat gerakan feminis berkembang pada era 1970-an, karakter Danvers makin dibebaskan dari statusnya sebagai pasangan Mar-Vell. Dalam satu seri penting, ia mengalami sebuah insiden yang memberinya kekuatan seperti orang planet Kree. Ms. Marvel lahir, dan memulai petualangannya sebagai superhero mandiri.

Ia kemudian mampir ke beberapa seri komik Marvel, termasuk seri Avengers. Pada komik Civil War edisi 2006-2007, contohnya, ia menjadi salah satu kekuatan terpenting di kubu Iron Man. Pada 2007 kisah tersebut berujung pada bagaimana Danvers memimpin Mighty Avengers.

Ms. Marvel berevolusi menjadi Captain Marvel pada seri komik dengan judul yang sama pada 2012. Di dalamya terdapat narasi yang lebih matang untuk menjelaskan latar belakang militer Danvers, juga tentang mimpi bertualang ke luar angkasa semasa kecil, yang sebelumnya hanya berupa kilasan-kilasan tak utuh.


Salah satu kritik terbesar yang menghampiri industri komik Amerika adalah representasi superhero perempuan yang tampilannya dibuat untuk memanjakan mata penonton laki-laki.

Eksistensi superhero perempuan memang upaya yang penting untuk mengimbangi dominasi superhero laki-laki. Tapi masalah lain muncul karena mereka digambarkan berkostum ketat, menonjolkan belahan dada berukuran jumbo, atau memamerkan paha karena memakai bawahan kostum model bikini one-piece.

Gambaran tersebut diprotes oleh para feminis karena menganggap si karakter turut menyandang tugas sebagai objek seks. Tanpa mengeksploitasi elemen sensual, si superhero dianggap kurang mampu menarik perhatian pecinta komik laki-laki.

Teoritikus feminis mengategorikannya sebagai fenomena male gaze, yakni cara-cara menggambarkan perempuan dalam karya seni dari kacamata laki-laki-maskulin-heteroseksual. Tujuannya tak lain adalah menyenangkan konsumen laki-laki-maskulin-heteroseksual.

Karakter Wonder Woman muncul pertama kali dalam konsep yang demikian. Popularitasnya dalam waktu singkat memicu kemunculan superhero perempuan lain dengan penampilan serupa—baik oleh DC maupun Marvel.

Di layar lebar, kostum Wonder Woman tidak jauh berbeda dengan yang dipakai di komiknya. Tone warnanya hanya dibuat lebih gelap, khas film DC Extended Universe (DCEU). Ada yang mengatakan tampilan tersebut menandakan DCEU berusaha untuk setia dengan sumber orisinalnya.

Masalahnya, saat belum atau tidak memakai kostum perang, Diana (Gal Gadot) tetap tampil dalam gaun yang feminin plus riasan wajah yang cukup tebal. Kehadirannya dalam beberapa adegan otomatis memancing perhatian dari para pemeran laki-laki (maskulin-heteroseksual)—termasuk pasangannya Steve Trevor (Chris Pine).


Carol Danvers dalam Captain Marvel mematahkan itu semua. Bukan karena kostum perangnya tidak seterbuka kostum perang Diana. Tapi karena Danvers memilih kaos band rock Nine Inch Nails, kemeja flanel, jaket kulit, dan celana jeans saat mencoba berbaur dengan penduduk Los Angeles.

Kendaraannya? Harley Davidson hasil curian dari seorang pria bertampang sangar, berpenampilan ala geng motor, yang memanggilnya “honey” lalu memintanya untuk tersenyum. Khas mas-mas random yang sering nongkrong di pengkolan dan hobi cat-calling.

Dengan demikian Danvers tidak hanya menjauhi standar feminin ala superhero perempuan dari segi pakaian saja, tapi juga perilaku. Diana masih bisa tampak ramah dalam banyak adegan di film Wonder Woman. Danvers, di sisi lain, memajang wajah kaku hampir seluruh adegan dalam film.

Sikap tersebut sudah terlihat sejak trailer Captain Marvel tayang di Youtube. Warganet kemudian ramai-ramai meniru kelakuan mas-mas yang motornya dicuri Danvers: meminta Brie Larson untuk lebih banyak menampilkan senyum.

Brie menanggapinya secara jenius. Melalui Instagram story ia menampilkan foto poster film-film superhero Marvel Studios seperti Iron Man 3, Captain America: The Winter Soldier, dan Doctor Strange. Ia merekayasa ekspresi para tokoh utama laki-laki, melalui Photoshop, dari biasa menjadi tersenyum (penuh paksaan).


Apa yang terlihat di trailer juga bukan karena Brie tidak bisa akting. Narasi dalam film Captain Marvel menjelaskan bahwa sejak berstatus sebagai prajurit Kree Vers selalu dididik Yon-Rogg untuk tidak menonjolkan emosinya.

Manifestasinya bukan dalam senyum penuh keramahan saja, tapi juga amarah dan bentuk-bentuk perasaan lainnya. Emosi tersebut, katanya, buruk untuk performa Vers selama menjalani tugas.

Situasi ini lagi-lagi menjadi kritik terhadap ekspektasi laki-laki atas sikap perempuan, khususnya yang gemar mengatur cara berperilaku perempuan, sesuai standar yang sebenarnya hanya menyenangkan si laki-laki.

Infografik Misbar captain Marvel
Infografik Misbar captain Marvel. tirto.id/Sabit


Danvers toh akhirnya membandel. Ia belajar bahwa ekspresi emosional, sewajarnya perilaku manusia di planet bumi, justru jadi jalan pembuka tabir kebenaran mengenai masa lalunya.

Kilasan-kilasan memori itu beragam rupa. Misalnya saat Danvers kena marah karena menurut ayahnya seorang anak perempuan tidak seharusnya mengemudikan gokart terlalu kencang. Atau saat ia mendapat cacian misoginis dari rekan-rekan pria selama menjalani pelatihan militer dan percobaan menerbangkan pesawat.

Saya sepakat dengan beberapa kritikus yang menganggap Captain Marvel dan daulat Danvers sebagai sebagai superhero terkuat di alam semesta adalah jembatan yang terlalu instan menuju Avengers: Endgame.

Untungnya Marvel menjaga pesannya agar tetap relevan dengan situasi sosial kekinian. Hasilnya bukan bukan pengulangan, tapi justru kemajuan.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf