Cap Go Meh, Perayaan Saat Terang Bulan yang Sempat Suram

Oleh: Irfan Teguh - 4 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Perayaan Cap Go Meh sebagai warna kebudayaan Tionghoa di Indonesia timbul tenggelam dibawa arus zaman dan kebijakan.
tirto.id - Lima belas hari setelah ingar bingar perayaan Imlek, pada purnama pertama di awal tahun, warga Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Kemeriahan Cap Go Meh biasanya terasa di wilayah komunitas Tionghoa seperti di Singkawang, Kalimantan Barat.

Kota Singkawang terkenal kental dengan budaya Tionghoa. Jejak sejarah migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke Kalimantan Barat pada masa lalu, menampilkan Singkawang seperti saat ini. Akulturasi budaya terjadi dan membentuk kebudayaan baru yang menarik. Beberapa di antaranya kerap ditampilkan dalam perayaan Cap Go Meh.

Daya tarik perayaan Cap Go Meh di Singkawang telah terendus oleh para pebisnis biro perjalanan, yang menawarkan paket-paket wisata untuk mengunjungi pesta Cap Go Meh di kota tersebut. Dalam perayaan dua minggu setelah Imlek ini, nilai jual Cap Go Meh di Singkawang terutama karena ada penggabungan antara tradisi Cina, pribumi Dayak kuno, dan spiritual Melayu. Dari sekian atraksi di Singkawang, yang paling menarik biasanya adalah Tatung.

Tatung adalah media roh yang diberi kostum prajurit Dayak kuno, Cina, dan Pribumi yang berfungsi untuk mempertahankan kota dari kedengkian spiritual.

Tatung menunjukkan kekuatan mereka melalui penyiksaan diri dan bertengger di tandu yang dipikul oleh rombongan bait suci. Prosesi Tatung diperkirakan telah dimulai pada abad ke-17 di Kongsi (Gong Xi) Lan Fung atau sekarang dikenal Kalimantan Barat,” tulis Jafar Fikri Alkadrie dkk, dalam Dinamika Diaspora Subkultur Etnik Cina di Kota Singkawang (Intermestic: Journal of International Studies Vol. 1. No. 2, Mei 2017)


Sementara itu, Yohanes Kurnia Irwan dalam majalah Esensi No. 3 Tahun 2015, mencatat bahwa atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan karena banyak orang kesurupan, dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Ia menambahkan bahwa upacara ini dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung.

“Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh yang merasuki tubuh Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah tobat dan orang suci lainnya,” tulisnya.

Rangkaian perayaan Cap Go Meh di Singkawang dalam catatan Nirwono Joga dalam Gerakan Kota Hijau (2013) sejatinya dimulai dari Tahun baru Imlek yang menyajikan ragam penampilan seperti permainan naga-barongsai, pawai lampion, wayang gantung, dan pertunjukan musik delapan dewa.

Atraksi Tatung dan perayaan Cap Go Meh secara umum di Singkawang adalah hajatan bersama masyarakat TIDAYU (Tionghoa-Dayak-Melayu). Proses integrasi ketiga etnis ini memperkuat jalinan persaudaraan dan toleransi di kota tersebut.

Sempat Dilarang

Cap Go Meh yang merekatkan masyarakat tidak hanya terjadi di Singkawang yang masyarakatnya ragam etnis, tapi juga berlangsung di kota-kota lainnya di Indonesia, seperti Gorontalo, Jakarta, dan lainnya.

Pada perayaan Cap Go Meh 2012 di Gorontalo, pawai dan acara lainnya diikuti bukan hanya oleh orang Tionghoa yang mayoritas beragama Buddha, tapi juga oleh etnis lain yang beragama Islam dan Kristen. Saat itu, Cap Go Meh di Gorontalo akan digelar dalam tiga hari berturut-turut pada tanggal 4, 5, dan 6 Februari 2012, tapi karena tanggal 4 Februari bertepatan dengan 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Islam—hari kelahiran Nabi Muhammad—maka Cap Go Meh hanya digelar dua hari.

“[…] maka umat Tionghoa Buddha pun rela memperingati Cap Go Meh hanya dua hari saja, yaitu hanya tanggal 5 dan 6 Februari,” ujar Ibu Maryam, Ketua Walubi Gorontalo seperti dikutip Abdul Jamil Wahab dalam Harmoni di Negeri Seribu Agama (2015).


Dalam buku yang sama, situasi toleransi ini ditegaskan oleh pendeta Jemy Paulus Bambang, Wakil Ketua GPIG (Gereja Protestan Indonesia Gorontalo).

“Sejak abad ke-15 masyarakat di Gorontalo berfalsafah semua yang ada di Gorontalo adalah orang Gorontalo, sikap pemerintah pun tidak membeda-bedakan. Kami merasa diperlakukan sama jadi walau ada perda tidak ada diskriminasi,” katanya.

Infografik Cap Go Meh


Sementara itu, di Jakarta tempo dulu, menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004), perayaan Cap Go Meh tidak kalah meriah dengan karnaval yang rutin digelar di Brazil ketika orang-orang menari dan berpesta pora di jalan-jalan. Sampai awal 1950-an, selama seminggu penuh diadakan secara bergiliran dari Pecinan (Glodok), Senen, Jatinegara, Tanah Abang, Pal Merah, dan tempat lainnya.

Hampir semua warga Jakarta turun ke jalan-jalan untuk menyaksikan barongsai dan berbagai atraksi lainnya. Iring-iringan tersebut begitu panjang, saat kepalanya sudah sampai di Senen, ekor iring-iringannya masih di lapangan Banteng—garis lurus kedua tempat itu kurang lebih 1 km.

Dalam buku yang lain—Robin Hood Betawi (2002), Alwi Shahab berkisah bahwa pesta Cap Go Meh yang digelar bergiliran berlangsung semalam suntuk dan diramaikan oleh barongsai ular naga yang panjang. Ular naga itu diarak ratusan orang dan meliuk-liuk diiringi musik tanjidor dan tambur besar. Tapekong atau toapekong—gambar atau patung dewa di kelentengyang sengaja dikeluarkan dari vihara atau kelenteng, dalam pesta itu terdapat di tengah rombongan barongsai.

“Untuk pengamanan, tiap rombongan barongsai diberi tambang. Mereka yang masuk ke dalam tambang umumnya para pria. Maklum, banyak bahayanya kalau perempuan ikut-ikutan masuk. Karena di dalam tambang banyak ‘hidung-belang’ yang mabuk-mabukan, sambil ngibing diiringi tanjidor. Di dalam tambang juga terdapat ratusan orang yang membawa taptu atau obor,” tulis Alwi Shahab.

Pesta meriah itu tidak hanya diminati warga Jakarta, tapi juga masyarakat dari luar kota seperti Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.


Irwan Firdaus dari Media Indonesia dalam Etnis Cina dalam Potret Pembauran di Indonesia (2000) karya Abdul Baqir Zein sempat mewawancarai Melly G. Tan (Tan Giok Lan)—saat itu Peneliti Utama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berkisah tentang perayaan Cap Go Meh di tahun-tahun sebelum perang kemerdekaan.

Melly bercerita tentang orang-orang Jakarta yang keluar pada malam hari ketika Cap Go Meh digelar. Tapekong-tapekong dikeluarkan dari kelenteng dan vihara lalu dihias dengan kembang-kembang. Ketika tapekong-tapekong itu akan dikembalikan ke tempat semula, kembang disebarkan ke pengunjung yang berebut untuk mendapatkannya.

“Rebutan bunga itu sebagai tanda berkat yang akan melekat. Karena kembang-kembang itu dipajangi di kereta-keretaan yang digotong-gotong. Dan itu ramai sekali. Wah, itu seluruh Jakarta berkumpul menonton keramaian. Pembesar-pembesar Belanda datang dan sengaja hadir,” ujarnya.

Menurut Melly, pada 1967 pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang segala perayaan yang berunsur kebudayaan Tionghoa untuk digelar secara umum, kecuali di dalam kelenteng. Setelah peraturan itu, acara Cap Go Meh hanya menjadi perayaan keluarga. Anak-anak mendatangi orangtua sebagai ungkapan rasa hormat.

Sementara dalam catatan Alwi Shahab, di Jakarta perayaan tahunan itu sempat dilarang oleh Wali Kota Sudiro pada 1954. Pasca Gerakan 30 September 1965, Gubernur Ali Sadikin pun ikut melarang perayaan Cap Go Meh.

Sebuah kartu pos bertitimangsa circa 1910 yang dihimpun Olivier Johannes Raap dalam Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013) menggambarkan satu acara dalam kemeriahan Cap Go Meh yang bernama Cengge. Kartu pos tersebut menambah dokumentasi perayaan Cap Go Meh di Nusantara tempo dulu. Cengge adalah pawai tradisional Tionghoa. Ia menerangkan gambar yang tertera di kartu pos:


“Sebuah panggung tinggi dinaiki anak yang didandani ala wayang Tionghoa dan diarak beramai-ramai dari pintu ke pintu rumah orang kaya, para sahabat, dan opsir-opsir untuk memberi selamat sekaligus menerima sedekah. Acara Cengge diadakan di pesta Cap Go Meh yang merupakan penutup pesta tahun baru Tionghoa,” tulisnya.

Dalam perayaan Cap Go Meh di Nusantara, ada satu makanan khas yang cukup populer yaitu lontong Cap Go Meh. Sementara di Tiongkok menurut Thomas Liem Tjoe dalam Ilmu Bisnis Tionghoa (2008), makanan khas yang disantap adalah tangyuan—semacam bakpia dari tepung ketan dengan isi kacang merah dan babi asin.

Menurutnya, Cap Go Meh adalah hari pesta. Semua orang keluar rumah untuk makan enak di restoran bersama keluarga dan kerabat. Saling menyapa dan memberi salam, ‘Thiam Hok Thiam Siu’ (Tambah kaya tambah sejahtera).

“Pesta itulah yang memicu populernya makanan enak bernama lontong Cap Go Meh, sebuah fusi dahsyat yang telah berhasil melintasi beberapa abad, dan tetap populer hingga kini. Lontong Cap Go Meh juga sering disebut lontong terang bulan, karena Cap Go Meh selalu jatuh pada malam terang bulan,” katanya.

Tahun berubah, pemerintahan berganti. Perayaan Cap Go Meh sebagai warna kebudayaan Tionghoa di Nusantara timbul tenggelam dibawa arus zaman dan kebijakan. Kini, perayaan yang jatuh pada purnama pertama di mula tahun tersebut kembali bisa digelar. Malam terang bulan, orang-orang bergembira bersama.

Baca juga artikel terkait CAP GO MEH atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Suhendra