Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Candi Mendut: Sejarah & Arsitektur Peninggalan Bercorak Buddha

Candi Mendut terletak dekat dengan Candi Borobudur, sama-sama candi bercorak Buddha di Jawa.

Candi Mendut: Sejarah & Arsitektur Peninggalan Bercorak Buddha
Candi Mendut. wikimedia commons/fair use

tirto.id - Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta, serta 3 km dari Candi Borobudur. Candi bercorak Buddha ini memiliki arsitektur yang unik.

Tempat peribadatan yang kemudian dikenal sebagai Candi Mendut didirikan oleh Raja Dharanindra atau Indra dari wangsa Syailendra. Bukti pendiriannya tertulis di dalam Prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 824 M.

R. Soekmono melalui buku Candi: Fungsi dan Pengertiannya (2005) mengungkapkan, di prasasti tersebut terdapat penjelasan bahwa Raja Indra telah membangun bangunan suci bernama crimad venuvana yang artinya “bangunan suci di hutan bambu”.

Dalam disertasi yang ditulis J.G. de Casparis pada 1950, nama Candi Mendut dihubungkan dengan penamaan ala Raja Indra itu, yang kemudian dijadikan nama desa lokasi candi tersebut.

Sejarawan Slamet Muljana dalam buku berjudul Sriwijaya (1960) menduga bahwa Raja Indra identik dengan Sri Maharaja Rakai Panunggalan, raja ketiga Kerajaan Medang periode Jawa Tengah, atau yang kerap pula disebut Kerajaan Mataram Kuno.

Eksistensi Candi Mendut yang berdiri di zaman yang sama dengan Candi Borobudur ini bertahan hingga abad ke-10. Sama dengan Candi Borobudur, Candi Mendut sempat terbengkalai karena ditinggalkan seiring terjadinya erupsi Gunung Merapi.

Penemuan Candi Mendut

Saat pertama kali ditemukan, kondisi Candi Mendut tertimbun tanah serta dikelilingi semak belukar. Pada abad-19, B. Kersjes dan C. den Hamer melakukan survei mengenai candi yang baru ditemukan kembali pada 1836 ini.

Pada 1897 hingga 1904, Pemerintah Hindia Belanda melakukan penggalian dan pemugaran. Di tahap ini, kaki dan tubuh candi berhasil dibangun. Pemugaran ini bertepatan dengan perbaikan Candi Borobudur yang tahap berikutnya dilanjutkan pada 1908 oleh T. van Erp.

Seluruh tahap untuk melestarikan kembali Candi Mendut baru selesai pada 1925. Persis di sebelah candi terdapat Wihara Buddha Mendut yang melingkupi asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha.

Arsitektur Candi Mendut

Dikutip dari website resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Candi Mendut berbentuk segi empat. Tinggi bangunan utuh 26,40 m di atas batu setinggi 2 m. Tangga menuju selasar candi terdapat di sisi barat, di depan pintu masuk candi yang dilengkapi bilik penampil.

Di dinding pipi tangga, terdapat panil berpahat yang menggambarkan ajaran Buddha. Sedangkan pada pangkal tangga, ada patung sepasang naga yang membuka mulut.

Di dalam mulut naga, terdapat binatang yang menyerupai singa. Lalu, di bawah naga terdapat panil bergambar makhluk kerdil “Gana”.

Selain tangga, pada dinding kaki candi, terdapat 31 panil yang berisi cerita, pahatan bunga, serta suluran. Sedangkan, di dinding luar langkan terdapat saluran air (jaladwara).

Dengan atap yang terdiri dari tiga kubus yang semakin kecil ke atas, Candi Mendut dianggap memiliki kemiripan dengan candi di sekitar Komplek Candi Dieng serta Gedongsanga.

Candi Mendut juga dilengkapi dengan elemen lain seperti arca dan stupa. Tepat di dalam bilik, terdapat tiga arca Buddha, Cakyamuni yang bersila, Avalokitesvara yang melambangkan sifat penolong, dan Maitreya yang melambangkan pembebas manusia di masa depan.

Setelah itu, terdapat sejumlah 48 stupa di atap candi mendut. Pada tingkat pertama terdapat 24 buah, tingkat kedua 16 buah, dan tingkat teratas ada 8 buah.

Baca juga artikel terkait CANDI MENDUT atau tulisan lainnya dari Yuda Prinada

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya

Artikel Terkait