Menuju konten utama

Caleg Berkarya & Garuda Pontang-panting Agar Bisa Laku di Pemilu

Hasil sigi LSI yang dirilis awal Januari lalu menunjukkan elektabilitas Partai Berkarya dan Garuda masih di angka nol koma: Garuda 0,2% dan Berkarya 0,1%.

Caleg Berkarya & Garuda Pontang-panting Agar Bisa Laku di Pemilu
Sejumlah atribut visual kampanye dari para kontestan Pemilu 2019 yang tak beraturan mengotori ruang publik di Jakarta. tirto.id/Dicki

tirto.id - Batas waktu perebutan kursi DPR RI hanya tinggal lima pekan, tapi popularitas calon legislatif (Caleg) dari partai-partai baru masih jauh tertinggal. Berkaca dari pengalaman, popularitas saja tak cukup untuk memenangkan pertarungan, apalagi jika tidak populer.

Dua di antara partai yang tak populer itu adalah Partai Garuda dan Partai Berkarya. Hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis awal Januari lalu menunjukkan elektabilitas dua partai tersebut masih di angka nol koma: Garuda 0,2% dan Berkarya 0,1%.

Minimnya angka elektabilitas ini berpotensi bikin dua partai sulit lolos ambang batas parlementary treshold (PT). Penilaian ini disampaikan peneliti politik dari The Political Literacy Institute, Adi Prayitno.

Peluang itu tambah kecil karena dari sisi keanggotaan hingga strategi, kata Adi, Berkarya dan Garuda masih kalah jauh dibandingkan partai-partai politik yang sudah ada.

“Jangankan Berkarya dan Garuda, partai-partai yang sudah melalui Pemilu di 2014 saja masih kesulitan untuk lewat batas parlementary treshold 4%,” kata Adi kepada reporter Tirto, Sabtu (9/2/2019).

Adi punya sejumlah alasan yang mendasari argumennya ini. Pertama, program partai masih kurang jelas; kedua, soal mesin partai yang belum teruji; terakhir, partai terlambat kampanye program ke publik.

Ketiga alasan ini yang dianggap Adi membuat kampanye Garuda dan Berkarya tidak optimal dan kalah pamor dengan partai yang sudah ada meski masih relatif baru seperti Nasdem dan Perindo.

“Apalagi mereka tidak menunjukkan satu diferensiasi politik yang menonjol,” ucap Adi.

Mengharap Citra Soeharto

Adi boleh saja berpendapat demikian. Namun menurut Badaruddin Andi Picunang, salah seorang caleg sekaligus Ketua DPP Partai Berkarya, partainya kini sudah mulai dikenal pemilih. Ia bahkan mengklaim, Berkarya berada di posisi 6 besar dari 16 partai yang bertarung di Pileg Sulawesi Selatan.

Klaim itu, kata Andi, didasarkan atas hasil survei internal yang dilakukan timnya di Berkarya. Andi sendiri merupakan caleg nomor 1 Berkarya yang bertarung di wilayah III di Sulawesi Selatan.

“Kalau hasil survei internal kami di dapil, kami sudah masuk 6 besar dari 16 partai-partai. Berarti kinerja teman-teman di dapil, Alhamdulillah sudah baik, nah ini mudah-mudah bisa direplikasi oleh teman-teman di daerah lain,” ujarnya kepada reporter Tirto, Sabtu (9/3/2019).

Selain mulai dikenal, Andi menuturkan, survei internal juga mendapati temuan sosok Soeharto dan trilogi pembangunan khas Orde Baru masih dirindukan masyarakat. Kampanye dengan jargon “Penak Zamanku” yang banyak ditemui di sejumlah tempat, juga dinilai efektif mengerek elektabilitas partai besutan Tommy Soeharto ini.

“Di sini masih banyak masyarakat yang jadi saksi hidup dan merasakan bagaimana pembangunan di era Soeharto dulu. Karena, kan, kami ini partai yang masih mengedepankan trilogi pembangunan [Orde Baru],” imbuhnya.

Di samping itu, Andi menyebut, partainya juga berkampanye lewat beberapa program yang berbentuk pemberdayaan masyarakat seperti 'Saung Berkarya' dan program 'Goro'--akronim dari gotong royong.

Kendati demikian, ia sadar tantangan Pemilu 2019 cukup berat terutama terkait konsistensi mendukung capres-cawapres yang diusung Berkarya yakni Prabowo-Sandiaga. Merujuk hasil sigi Indikator Politik Januari 2019, pemilih partai politik pengusung Prabowo-Sandiaga tak seluruhnya memilih pasangan nomor urut o2 itu.

Menyikapi situasi seperti ini, Andi menyebut, Partai Berkarya memberi kelonggaran pada masing-masing caleg di daerah untuk beradaptasi dengan basis massanya. Jika basis massa tersebut lebih condong ke Jokowi-Ma'ruf, maka mereka tak perlu mengampanyekan Prabowo-Sandiaga di daerah.

Artinya, caleg yang bertarung di daerah harus mengikuti kehendak basis massa yang jadi incaran mereka. "Karena fokus kami memang memenangkan pemilihan legislatif dan masuk ramai-ramai ke Senayan," pungkasnya.

Mengetuk Pintu

Tak hanya Berkarya, Partai Garuda juga menghadapi posisi yang kurang menguntungkan sebagai partai baru. Ahmad Jony Marzainur, Ketua DPD Partai Garuda Riau, mengatakan, mereka harus pontang-panting di daerah dan memaksimalkan sumber daya yang masih minim.

Caleg nomor urut 01 dapil Riau II dari Partai Garuda ini mengakui partainya tak aman buat lolos dari ambang batas PT. “Kami harus bekerja lebih keras,” ujar Marzainur kepada reporter Tirto.

Berbeda dengan parpol baru lain yang memakai beragam strategi kampanye agar lebih populer, Partai Garuda bergerak tanpa konsultan politik dan lembaga survei internal untuk pemenangan Pemilu 2019.

Meski demikian, Maizanur mengaku tetap 'PD' dapat lolos ke parlemen lewat kampanye door to door yang ia lakukan bersama anggota lainnya di berbagai daerah.

Ia juga mengaku punya strategi pemenangan bagi para caleg Partai Garuda, salah satunya tak mengumbar janji. Oleh karena itu, Marzainur berkata, tiap caleg partainya punya program yang berbeda karena menyesuaikan dengan kemauan masyarakat yang mereka datangi saat kampanye.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Politik
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Mufti Sholih