Fahira Humaira:

"Cadar Hanya Kain Hitam yang Tak Ada Hubungan dengan Bom"

Oleh: Aditya Widya Putri - 30 Januari 2017
Dibaca Normal 6 menit
Terkadang perempuan yang memakai nikab mesti bersabar dalam menghadapi situasi tertentu tetapi ada saatnya bersikap tegas terutama ketika harga dirinya diganggu.
tirto.id - Di sudut sebuah restoran khas Sunda di daerah Cibubur, Jakarta Timur, Fahira Humaira, 28 tahun, tengah menyantap tahu goreng. Ia terlihat anggun dengan balutan abaya hitam bermotif emas di pinggiran lengan, mengenakan nikab hitam yang menutupi bagian muka. Ia menyambut saya dengan ramah.

Kami sudah bikin janji dengan teman-temannya dari Komunitas Muslimah Bercadar. Ini sebuah grup yang dibentuk pada 20 Desember 2013 untuk mengenalkan pakaian nikab di masyarakat Indonesia. Salah satu kegiatannya adalah menemani dan menguatkan perempuan yang dalam masa transisi memakai nikab secara penuh.

Karena sering dicap negatif bahkan stigma sebagai teroris, para perempuan yang mengenakan nikab dan burka (bagian mata ditutup kain kasa) kerap mengalami kejadian tak enak saat berinteraksi dengan lingkungan sosial dan di area publik. Dari kantor pemerintah, kampus, sampai institusi swasta. Kendati ruang-ruang publik ini membatasi, mereka tetap memakai cadar.

Fahira mengatakan, karena stigma negatif terhadap perempuan dengan pakaian penutup kepala hingga kaki, dan media turut berperan, yang hadir kemudian adalah pandangan umum bahwa semua perempuan bercadar tak punya otonomi terhadap tubuh dan pilihannya. Karena itu Fahira justru ingin membongkar prasangka macam itu, membuka diri atas kesan komunitas eksklusif lewat Komunitas Muslimah Bercadar.

“Bagaimana kita, sebagai yang pakai nikab, bisa maju dengan segala potensi yang kita punya dan tidak terhalangi hanya karena sehelai kain hitam ini?” kata Fahira, yang rutin mengisi acara-cara pelatihan bisnis.

Sembari ditemani tiga perempuan dari komunitas itu, memesan kudapan dan minuman, saya mengobrol selama tiga jam dengan perempuan kelahiran Madinah ini, 15 Januari lalu.

Bagaimana cerita kamu memutuskan memakai cadar?

Aku memutuskan pakai cadar saat aku haid di umur 15 tahun, karena saat itulah total semua hukum berlaku ke kita. Tapi sebelum itu, memang lingkungan aku lingkungan bercadar. Aku tumbuh di lingkungan pondok (pesantren), hanya di pondok memang tidak diwajibkan. Itu totally pakai, enggak bongkar-bongkar lagi.

Lingkungan pasti memiliki peranan dominan. Karena lingkungan religius, jadi yang dibicarakan topik agama terus. Tapi kita tidak dipaksa karena di keluarga aku ada juga yang enggak pakai. Jadi lebih ke kesadaran aku sendiri yang ingin pakai, karena lebih nyaman.

Di mana kamu tumbuh dan siapa yang berperan banyak mengajarkan ilmu agama?

Saya kecil di Madinah, lahir di sana tahun 1989, tapi tumbuh kembang banyak di Indonesia, Bogor, di ponpesnya Abuya. Beliau yang mengajarkan agama, saya dididik langsung sama Abuya, dan tidak sekolah umum. Jadi home schooling, sekolah umumnya malah pas kuliah. Kalau ditanya, siapa guru aku, ya Abuya.

Selama memutuskan bercadar, apa hambatannya?

Selama ini sebenarnya tidak ada hambatan yang terlalu berarti. Mungkin anggota Komunitas Muslimah Bercadar lain ada yang harus diperlakukan 'bagaimana' oleh keluarga. Tapi ada pengalaman saat aku kuliah di salah satu kampus negeri jurusan psikologi.

Waktu kuliah, agak sedikit sulit karena di psikologi enggak boleh pakai cadar. Dosennya bilang kita kan jualan omongan, jualan mulut. Mulut dan mimik muka harus bisa kelihatan orang. Bagaimana orang mau konseling tapi mimik muka kita enggak kelihatan?

Ketika itu aku sudah lulus ujian, tapi hampir ditolak karena aku bercadar. Akhirnya harus melewati proses wawancara terlebih dulu. Aku bilang, aku mau jadi psikolog khusus perempuan saja, karena psikolog di dunia ini banyak tapi yang mengkhususkan diri untuk perempuan saja belum ada. Jawaban itu yang membuat dosen aku bilang, “OK, boleh.”

Pihak kampus defense mungkin takutnya teroris, bawa bom atau apa gitu, ke kampus. Padahal mah enggak.

Bagaimana tanggapan lingkungan kampus melihat penampilanmu?

Awal-awal mungkin iya, ada yang aneh, melihat perempuan pakai cadar di lingkungan kampus. Tapi lama-lama mereka penasaran dan aku malah jadi terkenal. Banyak dari mereka yang penasaran sama muka aku, banyak yang ingin tahu juga akhirnya tentang Islam dan bagaimana cadar sebenarnya.

Positifnya, aku pakai cadar jadi mudah dikenali, banyak hal-hal yang mudah karena cadarku. Misal, saat kehilangan dompet dan di dompet ada foto aku, dompetnya langsung kembali tidak berselang lama. Makalah juga, begitu tahu nama yang tertera 'Fahira', mereka tahu Fahira mana yang dimaksud. Jadi, kendala pas di awal saja, karena dianggap aneh, dan itu yang jadi bikin orang agak pasang tembok.

Tapi dasarnya aku orangnya bodo amatan, berani beda kalau di jalan Allah. Karena prinsipnya: “Memang surga yang kasih orang lain? Bukan. Kan, Allah.” Kalaupun mereka meledek, aku membawanya ke hal positif, mungkin mereka enggak tahu. Mentalku dididik Abuya.

Pengalaman saat aku di satu hotel di Yogyakarta. Sepertinya aku juga salah pilih hotel karena isinya bule Belanda. Saat makan pagi, mereka lihat sampai begini (menjulurkan leher). Padahal, kan, di Barat itu tidak boleh lihat sampai seperti itu, bisa ditampar orang. Sayangnya ini yang lihat laki-laki, jadi aku tak bisa tampar (sambil tertawa). Tapi itu enggak masalah, sih. Mungkin mereka mau tahu gimana cara aku makan.

Apa kamu terganggu dengan tanggapan aneh di lingkungan sekitar?

Enggak terlalu, sih. Aku lebih tunjukkin ke prestasi. Pakai cadar juga bisa pinter ngomong, kok. Bisa jadi pebisnis andal dan entrepreneur, psikolog. Kebanyakan orang pakai cadar enggak mau ikut lomba yang sifatnya public speaking karena “kamu menutup badan, kenapa kamu perlihatkan?” Aku tidak berpikir seperti itu. Itu salah, penyempitan makna.

Kita harus tampilkan kemampuan yang kita punya. Nanti kita bawa ke ranah perempuan. Nah, untuk tahap belajarnya, ya enggak apa-apalah sama laki-laki dan perempuan, campur, karena kita di Indonesia, bukan di (Arab) Saudi. Nanti kalau sudah bisa, kita bawa ke ranah perempuan, kan, bagus, kita bangun perempuan.

Kalau apa-apa sudah nolak duluan, kan, gimana? Akan susah sekali. Inginnya harus sama perempuan-perempuan, tapi perempuannya enggak ada yang mau maju duluan. Itu penyempitan makna, menurut aku. Jadi waktu aku kuliah malah ikut lomba public speaking dan aku menang, juara satu.

Waktu itu malah lombanya membawakan acara gosip atau MTV, itu suruh pilih. Aku ambil yang MTV dan menang, itu ya enggak masalah. Itu bukan aku ingin menonjolkan diri tapi aku lagi belajar bagaimana “menjadi”—yang nantinya kalau sudah bisa, ya aku bawa ke ranah perempuan.

Bagaimana kita, sebagai yang pakai nikab, bisa maju dengan segala potensi yang kita punya dan tidak terhalangi hanya karena sehelai kain hitam ini? Contohnya kayak di bisnis. Mungkin orang bercadar akan menghindari hal-hal yang mengajari orang dan jadi trainer. Aku jalanin itu, jadi trainer, sebulan bisa empat kali.

Nikab tidak menghalangi kamu untuk melakukan apapun selama itu baik dan bermanfaat terhadap masyarakat, terutama perempuan. Karena perempuan ini tanggung jawabnya sangat besar. Di balik punggungnya, mereka harus mendidik anak dan menjadikan anak itu bermental bagus. Lalu bagaimana bisa mengajarkan kalau perempuan tidak ada yang dididik? Jadi, kalau punya potensi untuk berbagi, ya berbagilah. Jangan diam saja dan membuat kelompok eksklusif—malah saya lihat jadi kasihan.

Bagaimana aturan memakai nikab dalam suatu kelompok?

Aturannya ketika bersama perempuan, kita harus buka. Kalau di majelis banyak perempuan, harus buka agar tak terlihat sombong dan berbeda, tapi tidak ada foto, ya. Namun, kalau campur, ya tetap pakai.

Tapi kalau ditanya: Fahira punya teman laki-laki enggak? Ya enggak. Perempuan semua.

Kamu bilang harus ada yang mendorong perempuan untuk maju. Lalu, apa yang kamu upayakan untuk mewujudkan hal tersebut?

Aku sendiri mengelola ponpes duafa di Citeureup, Bogor, masih menyicil juga selama lima tahun ini karena dananya dari pribadi. Setiap Allah kasih, kita bangun lagi. Itu gratis buat anak yatim. Lalu ada isi majelis, urus suami, dan belajar. Aku banyak ikut kuliah online, dari Amerika, dll—apapun agama mereka, yang penting aku dapat ilmunya, agamanya aku pisahin.

Aku juga kelola bisnis networking, bisnis yang harus ketemu orang dan aku kembangkan digital marketing-nya. Bagaimana jual hanya dengan Facebook, BBM, dan media sosial lainnya? Jadi tidak perlu ketemu orang. Sampai aku berada di tahap di mana aku harus tampil untuk memberikan training.

Awalnya keluarga juga enggak izinin, karena mereka tidak biasa untuk ketemu banyak orang. Menurut mereka, namanya perempuan itu di rumah, enggak ke mana-mana. Tapi tiap kesulitan, kalau kita punya kreatif dikit, bisa kok jadi. Akhirnya keluarga lihat aku dibutuhin dan bermanfaat buat banyak orang belajar. Mulailah ditemenin ke luar kota jadi trainer. Selain itu, bisnis keluarga ada lagi, aku kelola bareng adik-adikku di bidang properti.

Selama ini adakah kesulitan dalam proses pengurusan dokumen, mungkin masalah foto?

Memang di KTP dan buku nikah, fotonya wajib buka cadar. Namun, selama saya bepergian ke luar negeri, pasti ada petugas khusus perempuan yang mengecek saya. Seperti pengalaman saat ke India, ketika melewati X-ray dan bunyi, saat diperiksa petugas perempuan, selama ini mereka sangat santun dalam memeriksa.

Tapi saat pembuatan surat-surat seperti paspor, memang ada kejadian menyebalkan padahal di negeri sendiri. Jadi, waktu itu, petugas imigrasi curiga saya ada rencana berbuat apalah, dia tidak percaya saya akan bepergian ke Eropa.

Karena kita, kan, punya harga diri: ada batasan kami harus bersabar dan ada saatnya kami harus tegas pada orang-orang yang lebih banyak prasangkanya. Akhirnya orang itu malah kena omel atasan dan Alhamdulillah seterusnya lancar, malah petugasnya jadi kenal saya.

Bagaimana pandanganmu soal gaya hidup, musik, serta fesyen?

Zaman Rasul, musik ada, dan Syaidah Aisyah pernah memainkan itu. Banyak para sufi yang pada akhirnya mencapai maqam tertinggi juga karena alunan musik. Tapi, dalam Islam, musik ada aturannya karena Allah tahu dalam nada tertentu ada sinkronisasi ke jiwa kita. Misal, saat mendengar lagu apa gitu, kita suka jadi baper. Jadi Allah atur alunan apa yang bisa kita dengar. Kasidah boleh banget.

Saya suka Habib Syech—musik seperti itu aku paham artinya dan suka. Kalau dengar musik seperti itu mengingatkan aku dengan Rasul dan aku bisa sampai nangis. Itu enggak masalah. Aku justru heran sama yang mengatakan musik itu haram sama sekali, entah dia dapat buku dari mana itu, enggak ngerti. Tapi aku tidak begitu. Kalau musik bisa membangkitkan cinta ke Allah dan Rasul, bagus.

Untuk fesyen cadar, sebaiknya hitam karena kita tak boleh mencolok. Tapi jika ada yang pakai warna lain, dalam batasan tertentu mungkin mereka lagi belajar, ya enggak apa-apa, doakan saja nanti jadi ke warna gelap. Karena sebaiknya memang hitam agar tujuannya tercapai, tidak menonjol. Kalau masalah motif, asalkan motifnya sederhana dan tidak mencolok, boleh.

Sebab, pada dasarnya, perempuan diciptakan dengan keindahan. Misal, aku pernah foto cuma tangan malah jadi agak sedikit fitnah. Ada laki-laki inbox aku (di Facebook): “Ih tangannya aja gitu apalagi lainnya,” langsung aku blok. Ya mata laki-laki, kan, beda, ya, di kita lihatnya biasa saja, hanya tangan, mereka lihatnya bisa luar biasa sekali. Makanya Allah suruh kita nutup. Kalau kita merasa indah, ya tutuplah.

Untuk main media sosial aku main juga Facebook, Instagram, BBM. LINE, Telegram, YouTube juga ada. Tapi isinya aktivitas bisnis dan keagamaan aku. Aku mau menginspirasi orang karena banyak yang merasa susah pakai cadar sebab ruang geraknya terbatas. Tapi dengan memperlihatkan apa yang sebenarnya menyenangkan, paling tidak bisa menggugah.

Aku mau bilang, cadar hanyalah kain hitam yang tak ada hubungannya dengan bom atau aktivitas negatif lain. Maling juga ditutup kain hitam. Jadi, ayo, mending temenin dulu, ngobrol, kamu bisa tahu siapa sebenarnya mereka dulu, bergaul dulu, jangan langsung berprasangka buruk.

Cadar itu asyik. Ini hanyalah kain hitam yang menutup muka kita. Tidak ada hubungan dengan rezeki dan jodoh. Ini cuma kain. Ini fesyen aku.

Bagaimana kamu menyikapi toleransi dalam perbedaan?

Kita bergaul saja. Tapi kalau masalah agama, ya masing-masing. Agamamu, ya agamamu; agamaku, ya agamaku—harus bisa pisahkan. Di pekerjaanku banyak berinteraksi dengan non-muslim. Bersaing dengan orang non-muslim dengan berprestasi, maka mereka akan lupa dengan cadar, akan lihat value yang lain. Tapi memang, kalau pakai cadar ada pekerjaan yang tak bisa dikerjakan, itu tersaring sendiri, kok. Karena derasnya informasi pakai cadar itu negatif dll, akhirnya enggak boleh—seperti di bank, belum boleh tuh bercadar. Di Pakistan, ada pilot perempuan bercadar, namanya Shahnaz Laghari. Di Yogyakarta, ada dokter Ferihana yang memberi value ke masyarakat dengan pengobatan gratis.

Semoga dengan ini bisa tersampaikan di dunia, banyak orang bercadar yang berpotensi tapi mereka tidak terekspos karena terbunuh image negatif.

Baca juga artikel terkait ISLAM atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan